11.Tidak mungkin.

1023 Words
POV Syala. "Bagaimana ini Sya, uang ini tentu tidak cukup untuk membayar biaya rumah sakit Kasih, masih kurang sepuluh juta lagi." Mas Guntur berbicara pelan padaku, dia sepertinya sedang bingung dan kalut menghadapi permasalahan yang di buatnya sendiri. Dari sini sikap mas Guntur yang aslinya semakin terbuka, ternyata dia benar-benar laki-laki yang lemah, yang tidak punya pendirian, sikapnya selama ini yang lemah lembut, sabar dan penyayang hanyalah sebuah tabir untuk menutupi sifat aslinya. Soal biaya rumah sakit saja dia tidak bisa mengambil sikap. Seharusnya aku sadar sejak dulu, aku bahkan tidak pernah di bela di depan ibunya dan adiknya, hanya kata sabar saja setiap hari yang di ucapkannya untuk menenangkan aku, dan akupun salah, karena bucin pada mas Guntur akhirnya aku jadi wanita yang penurut tapi bodoh. Ah sudahlah, tidak perlu meratapi yang dulu-dulu, ini saatnya aku juga menunjukan siapa diriku, aku bukan wanita lemah yang di sangkakan oleh mertuaku dan iparku. "Terserah kamu Mas, aku juga gak tau, aku juga sudah bilang kalau aku tidak ikut campur lagi soal uang kamu." Bodo amat, kenapa aku harus ikut pusing memikirkan biaya rumah sakit Kasih. "Sya, tolonglah, Mas tau kalau kamu punya uang, di rekening kamu lebih dari sepuluh juta, tidak bisakah kamu pinjamkan pada Mas dulu." ucap Mas Guntur mengandung permohonan. Tapi kenapa dia tau kalau aku punya uang sebanyak itu? "Kamu periksa ponselku Mas?" Intonasi masih ku jaga, karena di dalam ruangan ini selain kami ada ibu dan maduku yang sedang berbisik-bisik di atas ranjang, entah apa yang mereka bicarakan saat ini. "Hm anu, tidak Sya, Eh Mas cuma tidak sengaja saja, maaf ya." ucapnya sambil bertingkah serba salah. Aku seperti mengalami sebuah ledakan di dalam d**a saat mas Guntur mengakui dia pernah memeriksa ponselku dan mengecek saldo di dalam m-banking ku, itu memang bukan sikap tercela, tapi sebelumnya kami pernah berkomitmen bahwa tidak mengganggu privasi satu dan yang lainnya, aku bahkan tidak pernah menyentuh ponselnya dan lihat apa yang di lakukannya. Selama ini aku percaya pada mas Guntur sampai aku di khianati, tapi ternyata dia tidak percaya padaku. Semuanya terkuak dalam waktu yang singkat, ternyata suami sempurnaku menyimpan bangkai. "Semua uang dalam rekeningku adalah uangku Mas, tidak ada uangmu di dalam sana meskipun lima ratus perak, dan aku tidak bisa meminjamkannya padamu, apa lagi untuk membiayai rumah sakit Kasih, kamu pikir aku bahagia saat ini dengan menerima istri baru mu itu? Sampai aku dengan suka rela membiayai rumah sakitnya? Mimpi kamu Mas." Padahal janji tidak bawa emosi, tapi mau bagaimana lagi, kehidupanku sudah menguras emosi, ya terpaksa bicara pakai emosi. Mas Guntur terdiam, entah apa yang ada di dalam pikirannya, aku memilih meninggalkannya dan mendekat pada ibu mertuaku dan menantu barunya yang sedang berbisik-bisik. "Hm, Kasih, sepertinya suami kamu tidak bisa membayar biaya rumah sakit kamu." Tanpa basa-basi aku langsung menghampiri mereka dengar tangan bersedekap pada d**a, layaknya ibu tiri. Tidak peduli dia baru saja melahirkan dan anaknya tidak selamat. "Syala! Jangan menambah beban pikiran Kasih, dia baru saja habis melahirkan dan anaknya tidak selamat, benar-benar kamu ya!" Ibu mertuaku yang menjawab, wajahnya merah padam, sepertinya dia marah. "Ini resiko Bu, Kasih sudah berani masuk dalam kehidupan kami, berarti dia harus mengerti dengan segala resiko yang ada di dalam keluarga ini." Aku menelan Saliva untuk mengambil nafas lalu ku lanjutkan ucapanku "Jangan kamu kira Mas Guntur itu banyak uangnya Kasih, dia memang PNS tapi bukan pejabat, uangnya tidak banyak malahan kurang, apa yang kamu harapkan dari suamiku, karena dia tampan?" Tanpa memandang ada ibu dan mas Guntur di sini, ucapanku terus mengarah pada Kasih. "Saya tidak mengharapkan harta Mas Guntur Mbak, saya mencintai dia, mencintai suami kita sama seperti Mbak mencintai dia, saya memang orang kampung Mbak tapi saya tidak pernah mengukur orang lain dengan kekayaan ataupun dengan rupa seperti yang Mbak tuduhkan, aku tulus Mbak." ucap Kasih menggebu-gebu, ini kali pertamanya dia berbicara padaku, menjawab semua pertanyaan ku, dan yang paling mengejutkan adalah dia mengaku wanita kampung tapi dia pandai sekali berbicara, memutar balikan fakta dan di sini terlihat akulah yang salah. "Tuh dengar Syala, gak malu kamu sama Kasih, orang kampung saja punya adab kalau bicara, lah kamu, dalam keadaan seperti ini bisa-bisanya kamu menuduh Kasih yang bukan-bukan." Ibu mertua membantu Kasih menyerang ku. Aku menggeleng-gelengkan kepala melihat dua manusia beda generasi di depanku ini, melihat mereka semakin yakin aku ingin bertahan dalam keluarga ini hanya alasan untuk memberikan mereka pelajaran, Kasih, Ibu mertuaku, Firli dan termasuk mas Guntur. "Syala, ayo!' Mas Guntur yang mendengar semua percakapan kami malah menarik ku keluar, mencoba memisahkan kami. "Mas, aku belum selesai." "Sudah, jangan bertengkar dengan mereka." Mas Guntur terus menggandengku keluar dari ruangan. "Kenapa Mas?" Aku mencoba melepaskan genggaman tangannya yang kuat pada tanganku. "Jangan bertengkar dalam keadaan seperti ini, masalah bukannya selesai malah tambah ribet, kamu tenang, tidak perlu merong-rong Kasih seperti itu, aku tidak akan memaksa kamu meminjamkan uang, aku akan usaha yang penting kalian damai." Apa katanya tadi? Kalian damai? Ingin rasanya tertawa mendengar ucapan itu, aku di minta berdamai? Yang benar saja guys. "Aku sudah berdamai dengan keadaan Mas, tapi ...." Aku menjeda ucapanku. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang tidak nyaman di dalam perutku, seperti bergelombang, aku mual. "Tapi apa?" tanya mas Guntur. Aku tidak bisa lagi menjawab pertanyaan nya, karena perut ini sudah minta di keluarkan isinya, tidak tahan lagi, aku memandang sekitar mencari bacaan toilet, dan segera berlari ke ujung koridor rumah sakit. "Kamu kenapa Syala?" Jerit mas Guntur yang mengejar ku di belakang, tapi aku tidak bisa menjawab, terus berlari ke toilet dan memuntahkan isi perutku di sana, tidak ada apa-apa kecuali air. "Hoek, Hoek, Hoek." Beberapa kali aku berusaha mengeluarkan nya di dalam closed, rasanya cukup menyakitkan. "Kamu kenapa Sya? Masuk angin? Ah Mas lupa, kita bahkan belum sarapan padahal sekarang sudah menjelang siang, maaf ya sayang." Mas Guntur terus mengoceh sambil terus menggosok punggungku. "Air Mas." "Baik, kamu tunggu sebentar, aku cari air." Mas Guntur langsung meninggalkan ku untuk mencari air. Ada apa dengan diriku? Padahal tadi baik-baik saja, tidak mungkin aku masuk angin karena aku memang terbiasa tidak sarapan, dan aku juga tidak punya penyakit magh, atau jangan-jangan .... Aku langsung mengambil ponsel yang ada di dalam tas untuk melihat sesuatu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD