Di dalam kantor, seorang pria tampan berkutat dengan berkas-berkas yang menggunung di depannya. Kacamatanya melorot tersangga hidungnya yang mancung. Perhatiannya seratus persen tertuju pada laporan di depannya. Sesekali dia menggeliat sambil meregangkan otot tubuhnya.
Matahari sudah kembali ke peraduan. Dari balik kaca terlihat gemerlap bintang menghiasi gelapnya malam. Pria itu menghentikan aktivitasnya. Sejenak matanya terpejam, dikuceknya kedua netranya yang mulai lelah. Sebelah tangannya yang lain mencopot kacamata dan meletakkannya di atas meja.
Pria itu berdiri, berbalik membelakangi meja kerjanya. Tangannya bersedekap, matanya menatap keluar jendela. Dihelanya nafas panjang seakan hendak menyalurkan segala beban pada dunia.
Kemeja slim fit yang dikenakan semakin menambah kesan seksi pada dirinya. Tubuh yang menjadi dambaan setiap wanita. Terpahat sempurna sebagai karya Sang Pencipta.
Sesekali dia memijat tulang hidung bagian atasnya. "Hah ...!" Hanya desahan panjang yang keluar dari mulutnya, seolah menggambarkan sesuatu dalam dirinya yang ingin meledak.
"Arya." Mendengar namanya disebut, Arya segera memalingkan wajahnya menghadap sumber suara yang paling dikenalnya itu. Farhan, sekretarisnya sudah berdiri di belakangnya. Hanya terhalang meja kerja dengan setumpuk berkas.
Pria yang seusia kakaknya itu masih enggan membuang keformalitasan antara mereka, dia masih saja kaku dan segan pada Arya meski sudah mau memanggil Arya dengan namanya saja tanpa embel-embel kata Tuan.
Farhan hanya berdiri mematung dengan kedua tangan di depan, kepalanya pun menunduk khas seorang bawahan kala menghadap atasan. Sebenarnya Arya jengah dengan sikap kaku Farhan padanya itu, tapi Arya maklum mungkin itu buah didikan orang tuanya agar menghormati atasan.
Sudah lima tahun ini, pria itu menjadi sekretaris Arya. Selama itu pula Farhan menjadi tempat cerita untuknya meski cuma balasan seadanya yang ia dapat. Farhan hanya berbicara seperlunya, jika dia tidak memiliki jawaban untuk Arya, dia lebih memilih diam.
"Sudah jam berapa ini?" tanya Arya pada Farhan. Meski Farhan hanya diam, Arya sangat tahu bahwa pria itu bermaksud mengingatkan Arya bahwa hari sudah malam.
"Sudah jam sepuluh, Ary." Tanpa sadar malam sudah selarut itu. Beberapa hari ini Arya lebih senang berkutat dengan pekerjaannya. Betapa dia menjadi gila karena merindukan gadis pujaannya.
"Kamu bisa pulang dulu."
Arya menatap keluar lagi. Pancaran gedung pencakar langit menambah maraknya suasana malam ibu kota. Kerlipnya laksana ribuan bintang yang menghujani malam.
Farhan masih menatap heran atas sikap majikannya itu. Di hari libur ini dia malah memilih tenggelam dengan pekerjaannya. Seringkali Arya pulang saat malam sudah menempati puncaknya. Dia khawatir akan kesehatan bos-nya itu.
"Kamu belum makan malam, Ary." Farhan menggigit bibir bawahnya, dengan sedikit ragu dia mengingatkan tentang proses pengembalian nutrisi itu pada Arya.
"Aku sedang tak ingin makan." Masih dengan posisinya membelakangi Farhan, Arya tak mengalihkan sedikitpun pandangannya. Matanya kosong seperti hatinya yang beberapa hari ini tak tersirami. Jiwanya hampa karena terlalu mendamba.
You make me crazy, Dahlia! jerit hati Arya yang beberapa hari ini tak bertemu Dahlia.
Keheningan masih merajai ruangan itu. Bayangan wajah Arya memantul dari balik kaca. Kesempurnaan ciptaan Tuhan yang begitu nyata. Takkan ada yang mampu menolak pesonanya. Bahkan beberapa rela menyerahkan diri padanya. Gambaran pria mapan yang memiliki visual yang menggoda.
"Klotak ... klotak ... klotak ...!" Terdengar bunyi heels memasuki ruangan. Seorang gadis masuk, dia mengenakan dress selutut warna merah membuatnya terlihat begitu menggoda. Bagian bahu terbuka menampilkan kulit pemiliknya yang sangat mulus dan terawat.
Bibirnya terlihat sensual dengan warna lipstik merah darah, ah ... begitu menggoda iman. Farhan menoleh ke arah wanita itu. Arya bergeming, entah sibuk dengan lamunannya atau memang tidak tertarik dengan siapa yang datang.
"Saya pulang dulu, Ary," pamit Farhan pada bosnya itu.
"Hmmm ...."
Farhan pun memutar tubuhnya, ia berjalan meninggalkan bos-nya dengan wanita itu. Dia cukup hafal dengan wajah itu. Pria mana pun takkan mengingkari kecantikannya.
Wanita itu berjalan mendekat kepada Arya hingga tepat berada di punggung Arya. Arya masih bergeming seakan tak menyadari kedatangannya.
"Ck!" Gadis itu berdecak karena tidak ada penyambutan dari pria di depannya. Tanpa permisi tangannya sudah melingkari perut Arya. Dadanya sudah menempel di punggung pria tampan itu.
Mendapat perlakuan seperti itu, Arya segera berbalik dan mendorong wanita itu hingga tubuhnya terjatuh membentur meja. Matanya terbelalak melihat siapa yang datang. Wajahnya menegang menahan kemarahan.
Wanita itu meringis kesakitan sambil memegang bahu kanannya yang terkena pinggiran meja.
"Dasar wanita gila!" umpatnya tanpa memperdulikan wanita yang kesakitan itu.
"Ck! Sialan! Apa ini penyambutanmu pada calon istrimu?" Dengan nada tak kalah tinggi wanita itu mulai dengan kehaluannya.
"Calon istri?" Arya hanya melengos mendengar kata itu. Dia tidak pernah merasa punya calon istri sepertinya. Lihat pakaiannya, seperti w************n saja. Dandanannya apalagi, tidak seperti ... ah! Mengingatnya hanya membuat Arya semakin merindukan gadis manis itu.
Hanya senyum mengejek yang dia tunjukkan pada wanita di depannya. Dia memutar tubuhnya lagi menghadap ke arah jendela, malas meladeni w************n seperti itu.
"Jangan terlalu berkhayal. Enyahlah!"
Wanita itu bangun membenarkan posisinya 'pun rambutnya yang agak berantakan. Tubuhnya sudah menghadap punggung Arya lagi.
"Aku serius, kamu akan menjadikanku istrimu," ucap wanita itu dengan penuh kepercayaan diri yang tinggi. Arya hanya menggeleng malas mendengar ucapan wanita itu.
"Sudahlah, Clara. Sampai kapan pun kamu tidak akan masuk dalam daftar calon istriku!" Setiap kata diucapkannya penuh penekanan. Wajah wanita yang bernama Clara itu merah padam mendengar perkataan sadis dari Arya.
"Sudahlah, kita akan sama-sama diuntungkan dengan pernikahan kita."
"Pernikahan kita? Bahkan aku mau muntah mendengarnya." Arya meradang mendengar kata itu. Hanya rasa jijik yang dia rasakan pada wanita di hadapannya itu.
Clara masih bungkam dengan makian Arya. Dia bersumpah akan mendapatkan Arya malam ini.
"Kamu pikir aku tidak tahu siapa kamu? Kamu hanya seorang p*****r yang berkedok sebagai artis. Sudah berapa lelaki yang menjamahmu?" Sengaja Arya memilih kata-kata kejam agar wanita itu segera enyah dari hadapannya.
Clara adalah seorang artis sinetron yang pernah sangat terkenal. Tapi, namanya dunia hiburan adalah dunia yang penuh kamuflase. Hari ini berada di puncak, besok bisa saja jatuh dalam kubangan lumpur.
Untuk memenuhi gaya hidupnya yang terlampau tinggi, Clara memang menghalalkan segala cara untuk tetap mendapatkan uang. Karir keartisan memang ladang yang menjanjikan awalnya, tapi bukan berarti akan bertahan selamanya.
Dia mematok tarif untuk berkencan dengannya, tarifnya masuk ke angka sembilan digit. Amazing 'kan? Dan bukan kencan biasa tentunya, ada layanan plus-plusnya juga.
"Ayolah .... Jika kita menikah maka kamu akan segera mendapatkan perusahaan ini, dan aku pastinya akan mendapat popularitasku kembali. Kamu butuh calon istri 'kan untuk kamu bawa ke hadapan ayahmu?" Clara mencoba menawarkan sebuah solusi untuk Arya.
"Dari mana kamu tahu masalah itu? Dan sepertinya kamu tidak perlu menjajakan diri padaku. Karena milikku ini sama sekali tidak bereaksi saat melihatmu." Sebenarnya Arya malu mengatakan tentang hal sensitifnya itu, tapi memang begitulah kenyataannya.
Umumnya lelaki akan sangat b*******h melihat kemolekan dan kecantikan Clara. Tapi hal itu tak berlaku untuk Arya. Hati dan tubuhnya sudah terpatri pada sosok Dahlia. Meski hanya mendengar suaranya, sudah sukses menambah ukuran juniornya.
Dahi Arya berkerut, informasi tentang syarat dari ayahnya bersifat pribadi. Bahkan hal itu bisa dibilang hanya segelintir orang saja yang tahu. Bahkan seharusnya Joana saja tidak tahu. Tapi kenapa jalang di depannya itu bisa tahu.
Wajah Clara memucat, nafasnya tercekat. Dia mengatupkan bibirnya menahan amarah telah dipermalukan seperti ini. Tapi bukan Clara kalau tidak bisa akting. Sedetik kemudian wajahnya kembali tenang malah dia makin berani merapatkan tubuhnya ke tubuh Arya.
"Apa ... karena gadis ... yang bernama Dahlia itu?" ucap Clara sambil tersenyum. Arya kaget setengah mati dari mana Clara bisa tahu tentang Dahlia. Clara memajukan tubuhnya, jarak keduanya kini semakin dekat. Dengan berani tangannya sudah beralih ke d**a Arya.
Tubuh Arya bergidik dengan sentuhan Clara. Dia memundurkan tubuhnya menjauh dari jangkauan wanita yang dianggapnya jalang itu.
"Da-ri mana kamu tahu tentang gadis itu?!" Raut kemarahan nampak di wajah tampannya itu.
"Kamu tak perlu tahu. Kamu cukup menjadikanku istrimu, atau ...." Clara mengucapkannya dengan sangat tenang. Rahang Arya mengeras, wajahnya tegang membayangkan apa yang akan jalang itu lakukan pada Dahlia-nya. Tidak boleh ada yang terjadi dengan Dahlia.
Semakin Arya menjauh semakin gigih Clara mendekatinya. Hingga tubuh Arya menempel tembok. Penolakannya tak seperti tadi, yang dipikirkannya hanya Dahlia saat ini. Jika Clara sampai tahu tentang Dahlia, berarti bukan tidak mungkin dia bisa melukai Dahlia,
Sedikit demi sedikit Clara mengikis jarak di antara mereka. Sejujurnya Arya tidak pernah sedekat itu dengan wanita. Dia geram wanita jalang ini dengan berani-beraninya mendekatkan wajahnya hingga tersisa beberapa mili di antara mereka. Bagaimana pun dia masih laki-laki normal, berjarak sedekat ini dengan wanita. Ah! Tidak, dia harus cepat menghindar.
Tanpa aba-aba Clara meraih tengkuk Arya dan mendaratkan bibir merahnya di bibir Arya.