Darti menghela nafas. Dahinya berkerut, matanya terpejam mencoba mengingat sesuatu.
"Buk ...." Tak segera mendapat respon dari ibunya, Dahlia mengulangi panggilannya.
"Tetangga kita 'kan banyak yang namanya Siti, Lia. Ada Siti Maemunah, Siti Maesaroh, Siti Solikhatun. Siti mana yang kamu maksud?" Memang tetangga mereka banyak yang bernama Siti, meski nama terakhirnya berbeda-beda.
Dahlia menghela nafas panjang mendengar jawaban ibunya. Tidak ada titik terang tentang rasa penasaran yang melandanya. Terlalu banyak nama Siti di dunia ini.
"Apakah di antara mereka ada yang kerja keluar daerah." Dahlia mencoba mengingat bahwa anak laki-laki yang ditemui di mimpinya mengatakan bahwa dia mengikuti Bik Siti pulang kampung. Berarti dia tidak tinggal di sini.
"Hampir semuanya kerja di Jakarta, Lia." Lagi-lagi Dahlia menghela nafas panjang.
"Emang kenapa kamu penasaran dengan yang namanya Siti?" Darti ikut penasaran dengan pertanyaan Dahlia.
"Sudahlah, Buk. Nggak jadi aja ,deh, nanyanya. Dahlia habisin makan dulu." Tahu rasa penasarannya tidak akan terjawab, Dahlia memilih untuk menyendokkan lagi makanan yang dari tadi dicuekinnya.
Darti menatap putrinya aneh. Dia menggelengkan kepalanya dan segera beranjak dari duduknya. Langkahnya kembali memasuki kamar tempat suaminya berbaring.
***
Sudah lima hari Dahlia berada di rumah, dalam lima hari itu juga ada kemajuan dari bapaknya. Wira sudah bisa duduk meski masih di atas dipan. Sebuah keajaiban memang, mungkin pengaruh karena anak semata wayangnya yang sudah lama dirindukannya.
Raut bahagia tak pernah lepas dari wajahnya. Dahlia tak melewatkan kesempatan untuk merawat bapaknya. Dengan sabar dan telaten dia sendiri yang mengganti perban ayahnya. Dia juga yang memandikan ayahnya pagi dan sore.
"Biarkan Lia saja, Buk. Untuk mengganti waktu saat Dahlia tidak berada di samping kalian." Itu yang selalu Dahlia katakan pada ibunya, jika ibunya mendekat ingin juga melakukan baktinya pada suami.
"Li-a ...," ucap Wira lirih saat anaknya itu mencuci kakinya.
"Iya, Pak." Dahlia menghentikan aktifitasnya, wajahnya mendekat ke arah Wira.
Wira berusaha mengangkat tangannya. Percobaan pertama hanya sampai sekilan, belum menyerah dia mencobanya lagi. Seakan tahu keinginan Wira, Dahlia pun meraih tangan bapaknya dan menempelkan telapak tangan pria tua itu di pipinya.
"Dahlia di sini, Pak," ucap Dahlia lirih. Suaranya serak menahan tangis. Di hadapan bapaknya, Dahlia hanya ingin menampilkan kebahagiaan.
"A-pak ... a-nen." (Bapak kangen) Dengan terbata-bata Wira berusaha mengucapkan dua kata itu. Hubungan keduanya sebagai bapak dan anak sangatlah erat.
"Dahlia juga." Senyum tulus terukir di bibir Dahlia, pun bapaknya dengan mata berbinar memandang putri satu-satunya itu.
Sadar air matanya tak mampu lagi dibendung, Dahlia segera memberesi baskom yang tadi digunakan untuk menyeka seluruh tubuh bapaknya itu.
"Bapak makan dulu, ya. Biar Lia ambilkan." Segera Dahlia memutar tubuhnya agar Wira tak melihat sudut matanya yang mulai basah.
Dengan perlahan Dahlia menyingkap tirai yang memisahkan kamar bapaknya dengan ruang tengah.
Masih dengan baskom di tangannya dia berjalan menuju dapur rumah itu. Diletakkannya baskom di sudut kamar mandi, sejenak dia mencuci tangannya dengan sabun. Setelah merasa tangannya cukup bersih Dahlia bergegas menuju rak piring dan mengambil sebuah piring di deretan piring yang berjejer dengan rapi.
Pagi tadi Darti sudah memasak bubur untuk suami tercintanya itu, jadi saat ini Dahlia hanya tinggal menyajikannya di atas piring.
"Makan dulu, Pak. Lia suapin, ya?" Wira mengangguk lemah, senyuman terulas di bibirnya. Suapan demi suapan terulur dari tangan Dahlia. Dengan perasaan bahagia Wira menerima perlakuan anak gadisnya itu.
"Tok ... tok ... tok!" Terdengar ketukan pintu dari arah depan.
"Lia lihat dulu ya, Pak." Dahlia hanya berdua di rumah dengan Wira. Darti sedang rewang di tempat tetangga yang hajatan. Hanya sekedar ngethok biar nggak jadi bahan gunjingan. Meski kadang-kadang pulang karena khawatir dengan suaminya. Tapi Dahlia merawat bapaknya dengan sangat baik, jadi dia bisa bernafas lega.
Dahlia kebingungan melihat dua orang berpakaian hitam, di belakangnya berdiri seorang pria berjas putih khas dokter dan dua orang wanita berpakaian perawat.
'Apa biasanya dokter datang sendiri ke tempat pasiennya?' katanya dalam hati.
"Selamat siang, Mbak," kata salah satu pria berbaju hitam itu sopan sambil tersenyum. Dahlia balas tersenyum dan menatap kelimanya bergantian.
"Ada perlu apa, ya?" Masih dengan raut kebingungan, Dahlia berbicara menatap lurus ke arah pria berbaju hitam itu.
"Ah! Sebelumnya silahkan masuk dulu." Teringat kurang sopan jika berbicara di depan pintu, Dahlia mempersilahkan kelimanya masuk.
"Begini, Mbak. Mereka bertiga ditugaskan untuk merawat Pak ... Wira secara pribadi." Dahlia mengerutkan keningnya, semakin penasaran dengan yang dikatakan pria itu.
"Tapi ... apakah prosedur dari rumah sakit memang seperti ini?" Dengan ragu Dahlia mengutarakan rasa penasarannya. Setahu dia hanya orang berduit yang bisa memperkerjakan dokter secara pribadi.
"Begini ...." Hening sesaat, pria itu mencoba mencari kata-kata yang pas untuk membuat gadis di depannya itu agar mengerti.
"Perkenalkan dulu, beliau adalah dokter Faisal." Pria yang diperkenalkan sebagai dokter Faisal itu pun tersenyum ke arah Dahlia, "dan mereka berdua adalah perawat yang akan membantu tugas dokter Faisal." Dahlia semakin mengerutkan dahinya mendengar penjelasan pria berbaju hitam tersebut.
"Trus ..., kalian berdua siapa? Dan ... apa hubungannya dengan bapak saya!?" Dengan penegasan Dahlia memberanikan diri bertanya pada pria yang sedari tadi berbicara, seolah rasa penasarannya sudah tak bisa ditahan.
'Siapa mereka? Apa hubungannya dengan bapak?' Pertanyaan itulah yang memenuhi pikirannya.
"Kami adalah perwakilan dari Mister X," kata pria berbaju hitam yang satunya lagi. Dahi Dahlia makin berkerut mendengar nama Mister X. Siapa lagi itu?
'Ah! Kenapa semakin membingungkan?' batin Dahlia menjerit.
"Mister X?"
"Ya, Anda hanya perlu tahu beliau sebagai Mister X!" tegas pria itu.
"Tidak ... aku perlu tahu siapa dia? Tidak bisa dong seenaknya gini."
"Ini!" Pria mengeluarkan sebuah amplop dari dalam saku jasnya dan menyerahkan kepada Dahlia. "Silahkan Anda baca."
Dengan sedikit ragu Dahlia menerima amplop itu dan membukanya.
Matanya membulat sempurna, dengan nafas tercekat dibacanya dalam hati kata demi kata.
'Mohon diterima niat baik saya. Kalau Anda tidak bersedia, saya akan minta kembali uang 500 juta yang telah saya keluarkan. Anda tidak perlu mencari tahu siapa saya. Saya tidak ada maksud jahat terhadap Anda.
Mister X'.
Tangan Dahlia bergetar setelah membaca kertas di tangannya. Apa tidak ada jalan lain? Semua semakin menjadi misteri.
"Dan mereka ... biar beliau sendiri yang menjelaskan." Pandangan pria berbaju hitam itu beralih pada dokter di sebelahnya.
"Perkenalkan saya dokter Faisal spesialis saraf. Dan mereka berdua adalah perawat yang akan membantu saya, Tari dan Sasa." Tangan dokter Faisal menunjuk kedua perawat di sebelahnya. Keduanya tersenyum ke arah Dahlia yang masih kebingungan.
"Kami ditugaskan khusus untuk merawat Pak Wiratmaja." Sekarang giliran dokter itu yang angkat bicara.
"Apa rumah sakit yang menugaskan kalian secara khusus?" Belum sepenuhnya percaya, Dahlia harus mendapatkan jawaban yang jelas dari ketiganya.
"Sebenarnya prosedur rumah sakit kami tidak seperti ini. Tetapi seperti yang dibilang mereka tadi, ini memang ada hubungannya dengan Mister X," jelas dokter Faisal yang juga sebenarnya bingung dengan penugasannya ini.
"Tapi, kami ... tidak bisa menerimanya. Kami tidak punya cukup uang untuk membayar kalian." Dahlia mengutarakan penolakannya. Dia tidak mau menerima lagi kebaikan dari orang yang tidak dikenalnya, hanya menambah beban pikiran saja.
"Tenang Nona, semua sudah diurus atasan kami," jelas pria berbaju hitam itu agar Dahlia tidak khawatir.
Dahlia tidak habis pikir apa yang ada di pikiran Mister X itu. Apa yang dia inginkan dari keluarga miskin sepertinya. Dia menatap ke arah dokter di hadapannya. Menginterogasinya pun percuma karena dia hanya menjalankan tugas. Bertemu direktur rumah sakit juga bukan hal mudah.
Dahlia memejamkan matanya menimbang-nimbang hal yang mana yang harus dipilihnya. Dengan segala konsekuensinya akhirnya Dahlia mengambil keputusan.
"Baiklah Dokter Faisal dan Mbak-Mbak perawat. Saya minta bantuannya merawat bapak. Karena sebentar lagi saya memang harus kembali bekerja." Dahlia menekan ego dan rasa penasarannya. Dia sudah memutuskan untuk menerima kebaikan malaikatnya itu. Meski suatu saat dia sadar akan ada harga yang harus dibayar.
"Tapi kalian tidak tidur di sini 'kan?" Dahlia melihat sekeliling dalam rumahnya. Rumahnya tidak cukup pantas untuk menampung mereka. Meski bisa dibilang cukup luas tapi ....
Dokter Faisal tersenyum netranya lurus menatap Dahlia, "Sepertinya kami memang harus tinggal di sini. Kami ditugaskan dua puluh empat jam."
"What!!!!!" pekik Dahlia.