*Arya PoV* Setelah menatap kepergiannya, sesaat dadaku terasa sesak 'pun nafasku terasa berat. Apakah seperti ini rasanya patah hati? Bodohnya aku, mengapa harus mengujinya hingga membuatku kehilangannya. Apakah aku tanpanya masih bisa merasa hidup? Aku masih enggan beranjak dari tempat terakhir aku bisa melihatnya. Aku memang gila, lebih tepatnya gila karena mencintainya. Diriku bagai seekor anak burung yang baru pertama kali belajar terbang, dan pada hari yang sama sayapku patah, membuatku terjatuh ke tanah yang dingin. Sakit tentu, tapi yang lebih sakit adalah harus kehilangan hal yang paling penting bagi seekor burung. Apa yang akan terjadi pada burung yang tak bersayap? Masihkah dia mampu menikmati indahnya dunia ini dari bawah? Jika mencintai sesakit ini, mungkin aku takkan mem

