Bab 66

1630 Words

“Lu bisa tinggal di sini, tapi tidur di sini!” Rafan menunjuk sofa depan TV. “Eh, gak boleh gitu. Dia perempuan, tidur sama gue dan elo tidur di sini.” Luna memberi interupsi—membela perempuan yang sudah menolongnya itu. “Ini rumah siapa?” “Elo.” “Jadi aturan tertinggi itu gua,” ucap Rafan memberi penekanan. “Kalau kalian mau tidur bareng. Tidur di sini!” “Gak usah repot-repot. Gue punya kuncinya kok.” Liana mengeluarkan kunci kamar Iqbal dari dalam tasnya. Sebelum pergi ke kampung Cibobrok, Liana sudah duluan minta izin pada Sabila untuk tinggal selama sebulan dan dikasihlah kunci kamar Iqbal agar bisa tidur dengan nyenyak tanpa diusik oleh Rafan. “Kok bisa lu punya kunci?” Rafan menganga. Dia merasa dinistakan oleh sang ibu. Tega-teganya pilih kasih, padahal anaknya itu dirinya buk

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD