Miss You

1029 Words
Perjalanan ke sekolah diisi dengan keheningan antara Mega dan Lintang, sibuk dengan pikiran masing-masing. Mega menatap beberapa kali buku di tangannya sambil menghela napasnya pelan, melirik jam tangannya sudah hampir masuk kelas. Padahal dirinya berniat untuk mengajak Bagas berbincang terlebih dahulu. Semoga saja tepat waktu. **** "Bagas!" panggil Mega. Bagas menoleh lalu memutar badannya hingga menghadap ke arah Mega. "Kenapa?" "Hm, soal Mama Papa. Udah ya, enggak usah dipikirin beneran, mereka emang suka gitu," ujar Mega sambil memilin jari jemarinya. Bagas menatap Mega sesaat. "Terus?" "Ya maafin atuh," tutur Mega. "Nggak ada salah, jadi kenapa harus minta maaf?" "Udahlah, Meg. Gue tau niat lo baik ke gue, tapi makin ke sini gue ngerasa nggak pantes buat temenan sama lo," ujar Bagas. "Jangan ngerasa gitu makanya," ujar Mega. "Yaudah." "Yaudah?" tanya Mega tak mengerti "Iya, yaudah," ujar Bagas. Karena percakapan yang semakin ke sini semakin aneh, Mega langsung menarik tangan Bagas untuk ke kelas. Keduanya duduk bersama tanpa percakapan, Mega menarik bukunya dan mulai membacanya. "Meg." "Hm?" "Gue minta maaf deh kalau ucapan gue kemarin buat lo nggak enak hati, gue cuman ... intinya gue minta maaf. Lo mau maafin atau nggak itu urusan lo," ujar Bagas. Mega menghela napasnya pelan. "Dimaafin. Lain kali kalau ngasih alasan jangan yang klise gitu deh," ujar Mega. "Pake segala minta jauhin, kocak deh." Mega menirukan kembali ucapan Bagas kemarin. "Diam!" Bagas menoyor kepala Mega. "Kasar!" **** Mega merasa jauh lebih tenang jika sudah menyelesaikan pertikaian dirinya dengan Bagas, Mega kini bisa fokus kembali ke pelajarannya dan bersiap untuk ujian sekolah. "Belajar bareng?" tanya Lintang. Mega mendongak melihat Lintang yang sedang telfonan dengan seseorang yang entah siapa. "Oke-oke, aku tunggu. Di sini juga ada kak Mega," ujar Lintang lagi. Mega masih menatap adiknya hingga selesai menelfon. Lintang menoleh ke arah Mega yang sedang menatap dirinya dengan tatapan penuh tanya. "Kak Abian, katanya mau belajar bareng. Sama kak Satya tadi," ujar Lintang. "Mereka? Abian, dan Satya? Kenapa enggak belajar sendiri coba? Harus banget belajar bareng kita?" tanya Mega merasakan akan kacau jika ada Abian dan Satya di sela-sela pembelajaran mereka. "Eh Mega! Nggak boleh ngomong kayak begitu," tegur Rinai yang sibuk dengan ponselnya. "Beneran, Ma. Mega kalau belajar bareng orang lain bawaannya enggak fokus, mending sama Lintang atau enggak sendiri aja," ujar Mega. "Mega, ucapan kamu itu perlu disharing! Lintang aja nggak keberatan, kalau emang nggak bisa fokus. Kamu cari celah biar bisa fokus," ujar Rinai. Mega mengernyit, bingung dengan apa yang dikatakan ibunya itu. "Yaudah, tapi Mega boleh ajak Bagas kan?" tanya Mega memberanikan diri. Rinai menatap Mega. "Nggak." "Loh, kalau Abian sama Satya boleh kenapa Bagas enggak? Dia kan juga teman Mega," ujar Mega melakukan pembenaran. Sedangkan Lintang memilih masuk ke dalam kamarnya tak mau mengurusi pertingkaian yang akan terjadi, dia tak masalah jika Bagas juga turut bergabung dalam acara belajar bersama. Selagi anak itu baik-baik, Lintang setuju saja. "Dia beda sama Abian dan Satya! Kamu harus tau itu," ujar Rinai. "Apa bedanya, Ma? Mereka sama-sama manusia, dan kalau dipikir-pikir Abian sama Satya, pintaran Bagas," ujar Mega masih kekeuh. "Astagfirullah, Mega! Kamu kapan bisa menatap ke depan, kalau Bagas itu bukan kasta kita? Dia itu ana-" "Ma, please. Kalau misalnya Mama mau rendahin Bagas, jangan di depan Mega! Karena Mega enggak suka apa-apa semuanya yang disalahin itu Bagas, padahal dia enggak salah apa-apa," ujar Mega kesal. "Kamu sekarang banyak bicara ya? Sekarang juga udah bisa memotong pembicaraan Mama? Siapa yang ajarin kamu kayak gitu?" Rinai berdiri menarik tangan Mega dengan kasar. Mega meringis merasakan pergelangannya terasa nyeri. "Ma, Mega cuman ngutarain apa yang selama ini Mega rasakan." Mega menatap Rinai dengan tatapan nanar. "Mama bisa ngga sih? Nggak kasar sama Mega, buat satu hari aja." Nada suara Mega memelan namun penuh dengan penekanan. "Nggak, selagi kamu nggak bisa seperti yang Mama dan Papa ajarin. Kamu harus tetap diginiin supaya kamu sadar! Kalau orang tua kamu itu masih peduli dan ingin kamu berubah," ujar Rinai. "Peduli apa? Sampai-sampai mukul anaknya hingga pingsan," ujar Mega dengan nada getir. "Mega!" tegur Rinai. "Emang bener kan? Papa selalu aja mukul Mega pake rotan kebanggaannya itu, Mama suka banget main tangan sama anak perempuan Mama," ujar Mega berusaha lepas dari cekalan tangan Rinai. "Kamu ya, benar-benar anak enggak tau diuntung!" Rinai menarik paksa Mega hingga menuju sebuah gudang, gudang yang selalu menjadi tempat Mega dikurung, Mega dipukuli dan dinistakan. Rinai menghempas Mega. "Jangan berani melawan kalau masih hidup dengan bantuan orang tua," ujar Rinai menutup pintu gudang. Mega mengembuskan napasnya lelah. Menatap gudang yang penuh dengan barang-barang lama, semua barang ini terbilang masih bagus, hanya saja disimpan di sini karena keluarganya selalu bosan jika sudah memakainya selama setahun. Barang-barang Mega lah yang paling sedikit di sini, alasannya karena Mega tak pernah ingin menyimpan barangnya di gudang ini. Gudang ini menjadi saksi seberapa sakit pukulan yang sering Mega dapatkan dari ayah dan ibunya. "Hm, ngapain coba dikurung kayak gini? Mega bukan bocah lagi yang bakal nangis kalau dikurung di sini," ujar Mega mencibir. Dia duduk di salah satu sofa, yang sudah berdebu itu. Dia mengambil kemoceng dan membersihkannya, melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 17:00. Mungkin 2 jam lagi baru Rinai datang dan membuka pintu ini. Mega mencari-cari barang yang bisa dia mainkan untuk mengisi kebosanannya. "Apa ya?" Mega berdiri dan mulai melihat-lihat beberapa barang. Matanya menangkap sebuah tas mini, Mega meraihnya. Dia mengusap tas itu, tas yang dibuat oleh Divia-neneknya. Khusus untuk dirinya, saat Lintang mendapatkan hadiah tas cantik, Mega bersedih dan Divia berinisiatif untuk membuatkan tas mini ini untuk dirinya. Pertanyaan Mega sekarang, kenapa tasnya ini bisa ada di sini? Ah, pantas saja dirinya sering mencari-cari, ternyata dikurung di sini membawa Mega ke masa lalu, Mega ingin pergi dari dunia dan menemui neneknya yang sudah jauh di sana. Mega memakai tas itu, indah. "Ah jadi rindu nenek deh, Nenek yang selalu membela Mega disaat mama dan papa suka marah jika Mega melakukan kesalahan," ujar Mega mulai merenung masa lalu yang indah bersama dengan neneknya itu. Sayangnya di umurnya ke 9 tahun, neneknya sudah pergi. Hari yang paling sedih buat Mega, karena merasa jika malaikat penjaganya sudah pergi. Mega bertanya-tanya, apakah neneknya sudah lelah menjaganya? Hingga dia pergi meninggalkan Mega sendiri dalam lingkaran Mama dan Papanya yang kejam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD