Malam itu Mega mengancang-ancang dirinya untuk bersiap menanyakan hal yang dipermasalahkan Bagas kepada dirinya, sebelumnya Bagas tak pernah peduli sedikit pun tentang mereka beda kasta dan hal-hal lainnya yang membuat Mega merasa aneh sekaligus kecewa. Apalagi dengan bentakan Bagas.
Ha, kalau Mega larut dalam kekecewaannya ini dia tak akan kembali seperti dulu lagi.
Mega hanya ingin hidup bahagia, tanpa harta dan kekayaan pun tidak masalah. Namun jika seperti ini, Mega pasti terkesan tidak bersyukur sudah diberikan kekayaan seperti ini dari Tuhan. Tarikan napas dan helaan yang keluar terdengar jelas di telinga Mega. Gadis itu memejamkan matanya sejenak lalu memijit kepalanya yang terasa pegal.
"Kenapa?" Mega mendongak menatap sang Ibu.
"Mega cuman mau nanya soal Bagas," ujar Mega to the point.
"Bagas? Kenapa? Anak yang miskin itu? Mending kamu jauh-jauh dari dia, Mega. Kayak enggak ada teman lain aja. Tuh sama Satya aja," ujar Rinai kembali fokus dengan pekerjaannya.
"Mega enggak punya teman selain Bagas," jawabnya.
"Cari teman makanya, kayak Lintang yang punya banyak teman tuh."
"Lintang dan Mega be-"
"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?" tanya Adhitiya lalu duduk di salah satu kursi meja makan lalu menyedu kopi di depannya.
"Ini loh Mega mempermasalahkan Bagas lagi, padahal jelas-jelas banyak teman yang jauh lebih baik daripada Bagas," ujar Rinai.
Mega menatap lantai, sambil memainkan kakinya dengan cara mengeser-gesernya. "Mega udah bilang kalau Mega cuman punya teman satu, yaitu Bagas."
"Mega udah nyaman, dan udah terbiasa sama Bagas. Emangnya kenapa kalau Mega berteman sama dia, Ma? Pa? Apakah semua tuntutan yang Papa dan Mama berikan tidak cukup? Sampai-sampai Mama dan Papa harus buat Bagas dan Mega jauh?" tanya Mega berusaha untuk mengontrol emosinya.
"Kamu nggak paham dengan apa yang kamu katakan sendiri? Sudah berapa kali Mama jelasin kalau Bagas itu bukan teman yang baik buat kamu," ujar Rinai.
"Itu menurut Mama, menurut Mega beda lagi. Kenapa sih? Mega itu seneng banget kenal sama Bagas, Mega enggak mau ganti teman apalagi berteman dengan Satya!" ujar Mega kekeuh.
"Papa ngomong apa ke Bagas? Sampai dia rela mau jauhin Mega kayak gini? Mega di sekolah enggak ada temen, enggak enak. Cukup di rumah Mega seperti orang kesepian, Mega nggak mau sampai teman di sekolah Mega sampai hilang hanya karena ancaman Papa."
Adhitiya menatap Mega. "Papa cuman bilang jangan deketin Mega, Mega itu mau fokus belajar."
"Bohong, Papa pasti bohong. Karena pada hakikatnya, Bagas yang sering bantuin Mega kalau Mega enggak ngerti sama pelajaran. Dia yang jelasin, bahkan tanpa upah sedikit pun, kalian enggak pernah tau kebaikan yang sudah Bagas kasih ke Mega selama 2 tahun ini," ujar Mega.
"Mega mohon jangan atur pertemuan Mega dengan Bagas," ujar Mega.
"Tidak bisa."
Mega rasanya ingin mengeluarkan unek-unek yang ada di dalam hatinya ini. "Mega ...." Mega tak bisa berkata-kata lagi.
"Kamu bisa menentukan teman kamu saat SMA kelas 2, selebihnya tidak boleh. Kamu masih harus dijaga dan terus diawasi," ujar Rinai.
"Kalian sadar enggak sih? Kalau kalian selama ini egois, dan berlaku tidak adil kepada Mega dan Lintang? Harus gimana Mega? Supaya kalian bisa paham?" tanya Mega merasa dirinya sangat frustasi menghadapi kedua orang tuanya.
"Mulut kamu," tegur Adhitiya.
"Siapa yang ajarin kamu kayak gini?" tanya Rinai.
Mega menghela napasnya pelan. "Terserah."
****
Bagas memijit pelipisnya saat melihat soal matematika yang begitu banyak di buku LKS-nya. Sebenarnya Bagas malas untuk belajar, namun ini cara terbaikknya agar dirinya tak memikirkan Mega untuk sesaat ini.
"Mega enggak pernah ke sini?" tanya Maya membuat Bagas membuyarkan lamunannya.
Bagas kembali menatap ke depan dengan tatapan kosong, Maya menggiring dirinya duduk di ujung ranjang milik Bagas. "Kamu kenapa selalu diam termenung?" tanya Maya.
Bagas menunduk.
"Kalau ada masalah cerita, cu. Kalau emang enggak bisa, curhat sama yang di atas. Kalau kamu rindu dengan ayah dan ibu kamu, kamu bisa ke pemakaman sore ini," ujar Maya.
Bagas sering kali mendengarkan Maya mengatakan hal itu. "Bagas enggak apa-apa, Nek."
"Kalian punya masalah?" tanya Maya lagi. Dirinya paham betul sikap cucunya itu. Diam seperti ini pasti ada masalah atau sedang bersedih.
"Mega udah nggak bisa main sama Bagas lagi nek." Bagas memberanikan diri untuk berbicara.
"Kenapa?"
"Ibu dan Ayahnya ngelarang. Dan Bagas juga udah enggak bisa nolak," ujar Bagas.
"Kalian jangan sampai ngulangin hal yang sama seperti dahulu," ujar Maya menarik perhatian Bagas dengan raut wajah penuh tanya.
"Maksudnya, Nek?"
"Nenek belum mau cerita soal ini, intinya kamu harus tetap berteman dengan Mega. Jangan karena orang tuanya, kamu tidak bebas berteman."
"Kecuali jika Mega sendiri yang menjauhi dirinya dari kamu," ujar Maya lagi.
Bagas termenung lama, lalu kembali menatap neneknya. "Kapan Bagas bisa denger Nenek cerita soal masa lalu orang tau Bagas?" tanya Bagas.
"Saat waktunya udah tepat," ujar Maya mengusap kepala Bagas.
****
Dengan keadaan yang sama Mega duduk di depan Papa dan Mamanya, di sampingnya sudah ada Lintang yang sibuk menyantap sarapan di depannya. Mega merasa tidak berselera.
"Katanya kamu menang juara tiga," ujar Adhitiya memecahkan keheningan.
Mega mengangguk sekilas.
"Kamu makan." Rinai menyodorkan roti dan juga s**u.
Mega meraihnya.
"Kenapa cuman juara 3? Kenapa bukan juara 1?" tanya Adhitiya. Pandangan Lintang mengarah ke arah kakaknya yang sedang duduk menunduk.
"Karena kemampuan Mega cuman sampai situ," jawabnya pelan.
"Memangnya ini bertim? Apa solo?"
"Tim."
"Pasti temen-temen yang setim dengan kamu yang buat kalian juara 3. Kalau cuman kamu pasti juara 1," ujar Adhitiya.
Mega menghela napasnya pelan. "Salah, Papa salah."
"Justru karena mereka berdua, kami juara 3. Mega bukan apa-apanya dibandingkan mereka yang jauh lebih berpengalaman, Mega masih baru, masih harus diasah biar tajam," ujar Mega santai.
"Pokoknya kamu jangan sampai kalah di antara mereka. Kamu harus tetap jadi yang pertama," ujar Aditiya.
"Berhubung ini lomba pertama, Papa maklumin kalau juara 3. Kalau besok-besok ada pertandingan lagi dan kamu tidak juara satu, siap-siap dapat hukuman," ujar Adhitiya.
"Udah, Pa. Aku dan kak Mega udah mau berangkat," ujar Lintang. Dia juga malas kalau mendengar hal-hal yang sama terus menerus, Lintang tau kalau Kakaknya ini memang punya bakat yang tersembunyi.
Buktinya, dia baru masuk beberapa hari dan benar saja, Mega ditunjuk mewakili sekolah untuk mengikuti lomba. Hal yang sebelumnya tak pernah disangkakan oleh Lintang sebelumnya.
Bahkan Lintang harus bekerja keras agar jerih payahnya diakui oleh tim organisasi di organisasinya. Tidak seperti kakaknya, Lintang tak mau memikirkan itu dia tak boleh sampai memikirkan macam-macam tentang kakakknya sendiri. Bagaimana pun dia akan tetap yang di atas di mata Rinai dan juga Adhitiya, jadi Lintang merasa baik-baik saja.