Mega menggosok tangannya secara bergantian, merasa aura jauh lebih dingin dari yang tadi. "Baiklah saya ulang."
"Untuk juara 3 diraih oleh SMP ...."
"3 MAGELANG!"
Mega dan kedua temannya saling bertatapan, suara riuh tepuk tangan menghampiri semuanya. Rifki, Abian dan Mega berjalan naik ke atas panggung untuk menerima piagam, medali dan juga piala.
Mega tersenyum senang, ini pencapaian pertama di dalam hidupnya dalam bidang ekstrakurikuler. Walau bukan juara satu, ini adalah pencapaian yang menurutnya sudah sangat luar biasa.
"Baiklah untuk bapak kepala sekolah SMA Garuda Sakti, diberikan hadiahnya," ujar MC.
Mereka semua dipasangkan medali, mengambil piagam. Dan diberikan piala.
"Baik untuk juara kedua diraih oleh ...."
"SMP 11 Magelang!"
"Dan juara pertama diraih oleh ...."
"SMP 36 Magelang!"
Setelah semua dipanggil dan diberikan hadiah, mereka semuanya mengambil sesi foto bersama. Mega menghela napasnya pelan, lalu menatap ke arah teman-temannya yang sedang sibuk berbincang ria dengan beberapa teman yang sebelumnya mereka kenal. Kini bertemu lagi, mereka sepertinya sudah lama mengikuti ajang ini. Mega saja yang telat.
****
"Ibu bangga untuk kalian semua, terutama untuk Mega karena sudah berhasil mendapatkan piagam pertama padahal masih baru di eskul ini," ujar Ibu Anti.
"Makasih ya, Meg. Katanya berkat tulisan lo yang indah kita dapat poin yang lebih tinggi dari yang juara 4," ujar Rifki.
"Bakat lo emang enggak perlu diragukan, semoga di SMA nanti lo bisa kembangin terus," ujar Abian.
Mega mengucapkan banyak terimakasih untuk mereka. "Maaf juga kalau misalnya aku ngelakuin kesalahan, dan cuman bisa dapat juara 3," ujar Mega.
"Ini udah bagus banget, Meg. Jangan bilang cuma, kita menjadi sekolah yang salah satunya paling beruntung karena tetap dapat juara," ujar Rifki.
"Apa pun hasilnya, kalau ini murni dari kita sendiri tidak boleh disesali," ujar Abian menepuk pelan pundak Mega.
"Ibu bangga. Semakin lama Rifki dan Abian di sini, semakin besar juga ilmu yang kalian dapat, sudah bisa berpikir sebaik ini. Benar kata teman-teman kamu Mega, kita harus bersyukur walau juara 3 ini sudah sangat baik di antara yang terbaik."
Mereka semua pulang membawa piala kemenangan juara 3, sekolah menyambut mereka dengan heboh kebetulan saat itu sedang istirahat. Mereka bertiga pulang dengan sumringah.
Mega mencari-cari seseorang yang sekarang tak ada di deretan anak-anak yang sedang menatap mereka. Beberapa senyum kebanggaan muncul di wajah-wajah mereka. Setelah pemberian selamat, Mega dan lainnya memutuskan untuk tetap menghadiri pelajaran terakhir, daripada pulang nanggung.
"Pantes juara 3, soalnya Mega yang dibawa."
"Bener dia kan enggak pernah ikut eskul sebelumnya."
"Bayar berapa ya kira-kira biar bisa ikut?"
Mega yang sedang berjalan bersama dengan Rifki langsung terdiam sesaat, Mega menatap sekeliling lalu kembali berjalan bersama dengan Rifki. "Udah enggak usah didengerin, apa yang mereka katakan emang gitu, suka enggak sadar diri," ujar Rifki terkekeh.
Mega tersenyum sekilas lalu mengangguk.
"Tapi kalau dipikir-pikir mereka ada benarnya enggak?" tanyanya di sela perjalanan mereka.
Rifki menggeleng. "Seharusnya mereka dan lo sadar, kalau lo orang baru yang ditunjuk dan bisa juara tiga sekarang. Kalau gue jadi lo sih gue bangga sama diri gue sendiri," ujar Rifki.
Mega terdiam sesaat.
"Kelas lo udah sampai, gue ada di pojok lagi. See you next time." Rifki menepuk pelan pundak Mega. Mega merespon dengan anggukan lalu menatap kepergian Rifki.
"Selamat ya." Mega menoleh mendapati Sintia dan teman-temannya.
"Makasih," ujarnya pelan.
"Lihat Bagas enggak? Daritadi aku cari enggak ada," ujar Mega.
"Mungkin lagi di kantin, sama Bunga kalau bukan sama Bunga pasti sama Adrian."
Mega mengangguk, gadis itu lalu menyimpan tasnya dan langsung berjalan ke arah kantin. Mega menatap mereka berempat sedang duduk bersama. Di sana ada Bunga, Latih, Adrian dan juga Bagas
"Hei," sapanya sesampai di lingkaran meja mereka.
Mega tersenyum kecil ke arah semuanya, lalu menatap ke arah Bagas yang mengalihkan pandangannya ke arah yang lain. "Boleh gabung enggak?" tanya Mega seperti orang yang baru kenal saja.
"Ah? Boleh banget dong, kenapa enggak?" tanya Adrian dengan segala tingkah polosnya.
"Iya boleh, mau aku pesenin enggak?" tanya Latih membuat Mega menggeleng pelan.
"Aku cuman pengen ngobrol biasa aja di sini, kalian makan aja nggak apa-apa. Aku tadi udah kok," ujarnya sedikit berbohong. Karena sedari tadi dirinya belum makan, dia hanya minum saja saat di kantin SMA Garuda Sakti. Tak ada napsu makan sama sekali karena fokus dengan lomba yang diadakan.
"Oh ya aku lupa." Bunga menyodorkan tangannya. "Selamat ya, semoga pencapaian kamu ini bisa menjadi bekal untuk menjadi lebih baik lagi," tuturnya penuh dengan aura kelembutan.
Mega meraih tangan Bunga. "Makasih." Beralih kepada Latih dengan ucapan selamat yang sama, lalu Adrian. Bagas yang tak mau dikira ada apa-apa. Langsung menyalami tangan Mega.
"congratulations." Hanya itu lalu dia menarik tangannya kembali.
Mega tersenyum, setidaknya ada perkembangan dari kemarin-kemarin daripada tidak ada percakapan sama sekali. "Oh ya kapan-kapan kita buat circle pertemanan kek gini aja, gimana? Lo lo pada belum punya temen tetap kan?" tanya Latih menawari.
"Enggak usah udah mau lulus, nanti juga pecah belah," ujar Bagas.
Tak ada yang menyela kecuali Bagas saja.
"Kan coba-coba kalau lo emang enggak mau yaudah gue enggak maksa ya Bambang," kesal Latih diberikan respon seperti itu padahal niatnya baik dari lubuk hatinya.
***
"Bagas!" panggil Mega.
Bagas berhenti, terlihat dari belakang lelaki itu menunduk lalu kembali mendongak lurus menatap ke depan. "Aku mau ngomong sesuatu," ujarnya.
Mega meraih pundak Bagas hingga membuat anak lelaki itu menoleh ke arah dirinya. "Kenapa sih? Kayak ngehindar gitu?" tanya Mega to the point. Sudah lama dirinya menahan pertanyaan ini, Mega sudah cukup sabar dengan tingkah Bagas yang berbeda selama seminggu lebih ini.
"Nggak ada."
"Ada. Buktinya kamu kek ngehindar gitu, emang aku punya salah sama kamu? Kalau ada bilang, aku bakal lurusin apa kesalahan aku," ujar Mega menunduk.
"Apa sih. Emang nggak ada."
"Jangan kayak cewek deh, yang minta dipekai. Aku itu engga peka orangnya apalagi urusan beginian," ujar Mega.
"Sepenting itu, Meg? Sampai lo harus bertanya kayak gini. Gue itu kayak biasa aja, gue cuman mau atur jarak sama lo."
"Kenapa?"
"Karena ini keputusan gue. Gue udah sadar diri kok, kita beda kasta dan derajat. Kita emang enggak bisa disamakan," ujar Bagas.
"Gue muak kalau harus terus denger orang apalagi orang tua lo marah ke gue hanya karena kita deket. Lo juga yang tersiksa kalau kita berdua selalu sama-sama kan?" tanya Bagas.
Mega tak merespon bingung arah pembicaraan.
"Kenapa jadi bahas ini? Papa sama Mama ngomong apa ke kamu?" tanya Mega mulai curiga.
"Gue cuman minta, Meg. Gue sama lo harus jaga jarak mulai saat ini, ini demi kebaikan lo dan kebaikan gue. Jangan dipaksa," ujar Bagas.
ReplyForward