Rifki berusaha mencairkan suasana. Dia merapikan barang-barang yang sudah tidak digunakan lagi. "Enggak apa-apa, cari aja yang pas dan nyaman yang lo bisa pake, tanpa itu tetap bisa kok, lo hati-hati aja."
"Tinggal 20 menit lagi."
"Yaudah cepet, lo tulis gue mau tempel," ujar Abian. Mereka sudah menyelesaikan beberapa hiasan yang cukup menarik dengan konsep tokoh inspiratif, profilnya juga sudah ditulis oleh Mega. Hanya saja fakta unik serta perjalanan panjang dari R.K Rowling belum sempat, Mega takut menggunakan bolpoin atau pensil lainnya nanti bisa berbekas dan merusak keindahan.
Mega mulai menulis dengan perlahan dan sesuai dengan font yang disiapkan oleh Rifki untuk dirinya. Mega memang pandai dalam hal ini, dan Rifki akui setiap yang dia ukir dengan tulisan yang berbeda pasti hasilnya tetap menawan hati.
"Ini udah tempel aja, tapi hati-hati takutnya tintanya belum kering," ujar Mega.
Rifki mengeluarkan kipas angin kecilnya lalu mengipasi kertas tersebut. Mega melanjutkan aksinya menulis, sedangkan Abian menyiapkan lem dan juga sedikit hiasan.
****
Setelah bekerja keras selama satu jam, akhirnya semua berakhir. Mega tak tau sekarang nasib madingnya akan seperti apa karena ... tadi madingnya sempat tersentuh dengan Mading lainnya.
Ini yang membuat dirinya kepikiran sedari tadi. Mega dan lainnya duduk di tempat sebelumnya, petugas menyingkirkan beberapa peralatan yang sudah digunakan.
"Baik sekarang, ada waktu 30 menit untuk beristirahat. Dan pengumuman akan dilaksanakan setelah semua hasil sudah siap, dan pengumuman dilaksanakan di sini."
"Apa yang susah tadi?" tanya Ibu Anti. Mereka kini berada di kantin guru. Mega menatap Ibu Anti dengan jelas wajahnya begitu santai seperti tak ada beban.
Mega melepas tag name-nya.
"Ada kesalahan dikit ya," tebak ibu Anti melihat raut wajah anak muridnya itu.
Mereka hanya tertawa kecil, Mega menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Maaf bu, tadi bolpoin yang ibu kasih hilang," ujar Mega.
Ibu Anti menatap sesaat Mega. "Kok bisa?"
"Mega juga enggak tau, bu. Awalnya Mega hanya menyimpan bolpoin itu di dalam tas, tapi pas dicari udah enggak ada."
"Maaf permisi," seseorang datang. Sepertinya salah satu murid di sini, terlihat dari pakaian batik yang dia kenakan.
"Ini punyanya tadi jatuh waktu pemeriksaan, kami tadi sedang mencari-cari tapi pas lomba diadakan. Ruangan tertutup dan tidak boleh ada seseorang masuk," ujarnya.
Mega menatap bolpoin itu, lalu mengusap wajahnya pelan. "Astagfirullah," gumamnya.
Dia meraih bolpoin itu. Lalu berterimakasih kepada orang itu.
"Pantes dicari-cari enggak nemu," ujar Abian.
"Maaf ya," ujar Mega merasa bersalah karena dirinya lalai padahal ini lomba yang teramat penting untuk anak mading.
"Ah enggak apa-apa, ini cuman kesalahan teknis dari pihak sekolah ini kok. Bukan kesalahan kamu, dan ibu yakin kalian pasti akan tetap jadi juara," ujar Ibu Anti memberikan semangat kepada mereka bertiga. Serempak semuanya mengatakan, "Aamiin."
****
Bagas sedang duduk melamun dengan buku di meja yang terus terbuka dan tak dia baca. Napasnya beraturan memikirkan sesuatu, lebih tepatnya seseorang. Sejak kepergian Mega dari sekolah, dia datang, dan saat dia berlatih demi lomba yang diadakan secara mendadak dan Mega yang terpilih. Sejak saat itu Bagas tak pernah mengucapkan semangat kepada gadis itu, padahal dirinya yang selalu menjadi yang pertama untuk memberikan support dan dorongan kepada Mega.
Bagas merasa bersalah terus mengacuhkan anak itu, dia sebenarnya tak ingin melakukan ini namun ... serasa memang dirinya harus menjauhi anak kalangan atas itu.
"Gue yakin lo lagi mikirin Mega kan?" tebak Adrian lalu duduk di samping Bagas.
Bagas tak merespon sama sekali.
"Kenapa sih lo harus banget ngehindari dia? Padahal jelas-jelas, Mega itu tetap berambisi mau berteman sama lo. Meski lo cuekin sekalipun," ujar Adrian.
"Gue bersyukur kalau gitu." Akhirnya Bagas membuka suara setelah sekian lama.
"Iya bersyukur lo bisa dekat sama Mega. Tapi lo yang sia-siain semuanya," ujar Adrian lagi. Merasa kesal dengan keputusan Bagas untuk menjauhi Mega sejak dia didatangi oleh Adhitiya, berbicara 6 mata. Sekaligus dirinya yang menjadi saksi saat itu.
Bagas ingin benar-benar menjauhi Mega. Adrian yang terus mengawasi, mereka. Padahal Adrian bisa saja memberikan informasi berbeda. Dia juga tak abis pikir dengan pola kehidupan dan cara berpikir kedua orang tua Mega. Malahan orang tua itu justru senang jika anaknya memiliki banyak teman. Ini malah ngelarang anaknya untuk berteman.
Orang tua Mega memang benar-benar berbeda dari yang lain.
"Kalau gue sih dukung-dukung aja."
Bagas menghela napasnya pelan. "Gue cuman ngerasa bersalah aja kalau gue cuekin dia tanpa sebab dan alasan yang dia tau," ujar Bagas.
Mengingat beberapa hari terakhir dirinya terus tidak merespon apa perkataan Mega. Curhat demi curhat dia tak tanggapi, walau sebenarnya dia itu mendengarkan dengan baik. Namun sebuah keberuntungan untuk seminggu ini, Mega terlihat lebih segar berbeda dengan hari-hari lainnya. Mungkin kasus pemukulan anak itu sudah berakhir, semoga saja.
Bagas hanya ingin Mega mendapatkan yang terbaik, sahabatnya itu juga berhak bahagia. Walau memang tanpa dirinya, tapi jika Mega bahagia Bagas pun akan bahagia.
Sebucin itu pertemanan mereka.
"Sampai saat ini gue bingung, kalian itu emang enggak ada rasa sama sekali?" tanya Adrian penasaran.
Kring!
"Eh kalian enggak mau ke kantin?" tanya Bunga tiba-tiba, Adrian mendongak sebentar lalu menoleh ke arah Bagas, dalam hatinya berdecak sebal karena pertanyaannya belum dijawab.
"Tawarin aja sama si ono, lagi bengong tuh enggak tau mikirin apaan," ujar Adrian lalu pergi meninggalkan keduanya.
Bunga menatap Bagas. "Katanya mau berusaha ngelupain? Tapi kayanya berat banget ya?" Pertanyaan itu membuat Bagas mendengkus sebal.
"Banget."
Bunga tersenyum sekilas. "Gue udah berusaha bantu, tapi lo aja yang engga dorong diri lo. Berusaha untuk tidak selalu memikirkan dia," saran Bunga.
"Gimana coba? Lo tau kan kita berdua itu udah lama berteman, dan sampai sekarang gue itu benar-benar ...." Bagas menatap Bunga. Ah kalau terlalu dalam dirinya mengatakan, maka semakin susah untuk dirinya melupakan.
"Benar-benar apa?"
"Nggak. Lupain, ke kantin aja." Bagas menutup bukunya lalu berjalan keluar dari kelas.
Bunga menghela napasnya lalu menggeleng pelan dengan tingkah kekanak-kanakan Bagas. Gadis itu lalu menyusul Bagas untuk ke kantin.
*****
"Baiklah setelah hasil perundingan para juri, sudah ditetapkan untuk pemenang juara 1 hingga 3," ujar MC tersebut.
Mega menatap ke arah depan, melihat sebuah meja dengan piala yang terurut dari ketinggiannya. Yang paling besar itu adalah juara satu, Mega terus berdoa agar mereka bisa masuk dalam 3 besar itu.
"Kalian tenang ya, rileks aja. Kalau enggak menang berarti bukan rezeki," ujar Ibu Anti tetap menyemangati anak-anaknya yang wajahnya sudah campur aduk.
"Baiklah untuk juara tiga diraih oleh ...."