Hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu anak mading tak terkecuali dengan Mega sendiri. Karena dirinya juga begitu antusias dalam mengikuti perlombaan mading ini berharap dirinya bisa memberikan hal yang terbaik untuk sekolahnya, Mega berharap sekali akan hal itu.
"Semuanya udah siap? Apa lagi yang diperlukan?" tanya Abian.
"Kayaknya udah lengkap semua," ujar Rifki.
"Kalau peralatan yang lo bawa, Meg? Udah lo taruh di dalam bagasi mobil belum?" tanya Abian.
Mega hanya mengangguk kecil. Dia duduk di pinggir, Abian di tengah dan Rifki di ujung sana. Pembina di depan.
Jangan salahkan jiwa kepemimpinan milik Abian ini, walaupun di sini Rifki adalah ketuanya namun soal ini dan itu dominan ke Abian, entah kenapa tapi melihat dari sisi Rifki dia terlihat tenang bila saja Abian mengeluarkan kata-kata yang harusnya dia lontarkan sebagai seorang ketua. Namun pikiran Rifki tak bertumpu pada itu, karena dia pernah mengingat di mana Abian sendiri yang mengajukan namanya untuk menjadi seorang ketua waktu itu.
"Kalian jangan deg-degan ya, bawa santai aja. Waktu yang diberikan jangan jadi patokan kalian harus cepat selesai, seberusaha mungkin kendaliin emosi dan perasaan, berusaha tenang kalau emang ada yang salah," ujar ibu Anti.
Mereka bertiga mengangguk serempak dan menjawab 'iya' dengan semangat.
Tak butuh waktu lama mereka berangkat, dan dalam perjalanan memerlukan waktu sekitaran 15 menit untuk sampai di gedung tempat mereka lomba. Lebih tepatnya gedung sekolah milik penyelanggara sekolah tersebut.
SMA Garuda Sakti.
Di sini mereka mengundang bukan hanya anak SMA tapi juga anak SMP turut hadir untuk memeriahkan sekaligus turun untuk lomba bersama. Tentunya perlombaan sesuai dengan tingkatan mereka, lombanya dilakukan secara bersamaan dengan ruangan berbeda.
Mega turun dari mobil, sedangkan Rifki dan juga Abian sedang sibuk mengambil peralatan mereka. Mega melirik sekilas gedung besar ini, yang menurutnya sama besarnya dengan SMA Jaya Unggulan. Mega dan lainnya berjalan masuk, Ibu Anti memberikan kartu undangan kepada satpam yang bertugas di sana. Mega melangkahkan kakinya masuk dengan napas yang sedikit tercekat karena masih nervous sejak di mobil tadi.
"SMP ya? Silahkan masuk ke aula di ujung sana," ujar salah satu panitia yang mengenakan almamater khas untuk anak OSIS. Terlihat jelas logonya yang terpasang di sana. Mega dan lainnya berjalan masuk ke aula besar itu, mereka cukup jauh mengitari lorong koridor karena sekolah ini terbilang sangat besar.
"Silahkan ditulis nama perwakilan dan juga pembina di sini, sekaligus tanda tangan setiap anak," ujar salah satu guru yang duduk di depan pintu aula itu dengan kursi dan meja yang tersedia di sana.
Mereka semua bergilir untuk masuk, Mega yang pertama melangkahkan kakinya masuk melirik segala penjuru ruangan, di mana sudah tertata rapih semua bangku-bangku yang dikhususkan untuk pembina dan juga anggota peserta.
Mega merasakan gemuruh di dadanya karena di sini sudah ramai.
"Ibu silahkan duduk bersama dengan pembina lain, dan untuk anak-anak peserta kalian silahkan menuju tempat yang sudah ditentukan."
Mega salut, karena tanpa ditanya mereka langsung meladeni mereka dengan senang hati dan mengarahkan secara detail. Mega dan lainnya duduk di jejeran kedua.
Mega melihat di sana sudah ada papan dengan tirai samping kanan kiri yang memang dibuat khusus agar bisa membuat mading tanpa contekan oleh pihak mana pun. Hanya juri dan guru-guru saja yang bisa melihat jika dilihat dari sini.
Mega menghela napasnya pelan lalu menatap Abian dan Rifki bergantian, kebetulan dirinya duduk di tengah-tengah dari mereka. "Aku bakal lakuin yang aku bisa, karena aku masih baru aku enggak menjanjikan diri aku bisa melakukan yang paling baik. Tapi akan aku usahakan," ujar Mega tanpa melihat keduanya dia hanya fokus menatap ke depan.
Rifki dan Abian saling pandang dan mengangguk. "Memang harus seperti itu, jangan pikirkan kalah dan menang," ujar Rifki.
"Tapi kita tetap harus berusaha buat menang," timpal Abian.
Mega mengangguk kecil, melihat muka anak-anak yang berbakat di sini semuanya nyaris sempurna jika dilihat dari segi fisik dan penampilan semuanya cantik dan tampan, dengan pakaian rapih dengan nama peserta yang tergantung di leher mereka.
"Oke adik-adik ibu-ibu, semuanya sudah berkumpul. Persiapkan peralatan kalian dan simpan di tempat yang seharusnya," ujar MC.
Rifki dan Abian menyimpan semua peralatan, Mega hanya menatap mereka dari sini bingung dan membiarkan mereka saja.
"Jika sudah, kalian silahkan kembali duduk."
Setelah menata semuanya, mereka berdua kembali duduk.
"5 menit setelah berdoa. Kita akan memulai babak pertama, sebelum itu sesuai dengan surat undangan yang sudah diberikan dan penjelasan di setiap kegiatannya. Tahap di sini hanya ada satu tahap saja," jelas MC.
"Karena sekolah di sini hanya mengundang 13 saja dari SMP, maka hanya ada satu tahap saja. Nilai yang paling tertinggi dimenangkan oleh pihak itu, jadi tidak ada seleksi tahap satu. Sekali lomba, langsung penentuan juara," ujar MC.
Singkat, tapi itu yang Mega benar-benar inginkan karena dirinya tak mau ribet dan harus deg-degan sekian kalinya.
"Sekarang silahkan masuk ke area masing-masing!"
Rifki, Abian dan Mega langsung berjalan ke tempat di mana ada tiang dengan nama SMP 3 Magelang di sana. "Peraturan adalah, hanya ada 60 menit untuk kalian mengerjakan. Lebih dari itu harus segera dikumpulkan baik selesai atau tidaknya."
"Tema yang diangkat adalah, Tokoh Inspiratif. Waktu kalian diskusi untuk apa yang ingin kalian buat, hanya 5 menit dari sekarang!" ujar MC.
"Jika beberapa di antara kalian memiliki tokoh inspiratif yang sama, maka tidak apa-apa. Kita hanya akan menilai dari segi kreativitas dan keindahan, konten atau isi mading yang benar dan betul, konsep, kerapian dan juga kebersihan stan."
Mega menatap keduanya.
"Bismillahirrahmanirrahim," ucap ketiganya dengan pelan lalu saling menatap.
"Apa yang akan kita jadikan tokoh inspiratif?" tanya Rifki memulai diskusi.
"Menurutku yang paling berkesan ...."
"J.K Rowling!" ujar Mega dengan tepat.
Rifki dan Abian menatap Mega dengan tatapan serius. "Lo tau tentang dia?" tanya Abian ragu.
Mega mengangguk. "Aku yakin kalian berdua juga tau, soalnya ...."
Mereka berdua menatap Mega lagi.
"Soalnya aku pernah lihat di meja ada salah satu buku karya dari J.K Rowling," ujar Mega.
"Ide bagus! Kita persiapkan itu aja," ujar Rifki.
****
Setelah mereka bertiga sepakat dengan mengambil R.K Rowling dalam tokoh inspiratif yang mereka angkat, lomba pun dimulai sejak 10 menit tadi. Mega mencari-cari bolpoin anti cair-nya namun di tak menemukannya di mana pun.
"Cari apa?"
"Bolpoin pemberian ibu Anti," jawabnya pelan.
"Lo bawa tadi? Lo simpan di bagian mana?" tanya Abian.
"Aku simpan ...." Mega berusaha berpikir d mana dia menyimpan bolpoin itu.
"Aku kayaknya simpan di dalam tas deh, tapi aku cari tadi enggak ada," ujar Mega.
"Mungkin jatuh waktu pemeriksaan tas!" ujar Rifki.
Mega terdiam. Lalu mencoba untuk tetap tenang dan tidak khawatir, dia menghela napasnya pelan lalu menatap ke arah Abian dan Rifki. "Gimana?"