Setelah pelajaran pertama selesai. Mega menutup bukunya lalu menatap ke arah Bagas yang masih sibuk mencatat. "Aku pengen ke kantin, mau bareng enggak?" tanya Mega.
"Duluan aja."
Mega menghela napasnya pelan lalu mengangguk kecil dan pergi meninggalkan kelas. Bagas menatap gadis itu hingga tak terlihat lagi, dia bisa merasakan kalau dirinya memang aneh kepada Mega. Namun ini harus dilakukan agar Mega tak lagi disakiti oleh orang tuanya, dia tak lagi dimarahi karena dekat dengan Bagas. Bagas harus mencari cara agar bisa lebih jauh lagi dan berjarak dari Mega.
Gadis dengan rambut sebahu itu sedang duduk dengan tatapan mengarah ke depan, tanpa ekspresi apa pun.
"Kalau boring, kenapa enggak panggil gue aja buat nemenin lo?" Satya datang-datang langsung duduk di samping Mega. Gadis itu tak bergeming sama sekali.
"Lo kenapa enggak pesan?"
Satya masih menunggu jawaban Mega, karena cukup lama tidak mendapatkan respon dia langsung memesan dua nasi goreng dan juga es teh. Setelah pesanan itu datang, Satya menyodorkan satu piring ke depan Mega.
"Aku enggak makan, siapa suruh pesenin?" tanya Mega.
"Makan aja, anggap sebagai traktiran karena semalam lo udah bantuin gue belajar," ujar Satya.
"Malam ini aku enggak bisa bantuin lagi, soalnya mau fokus sama pelajaran dan juga mading aku," ujarnya tanpa menatap Satya sama sekali.
Satya berhenti mengunyah. "Kapan-kapan aja, kapan free-nya gue datang."
Sesimpel itu, Satya memang orang yang sangat santai dan Ayahnya tak mempermasalahkan hal itu Satya terlahir sebagai anak tunggal yang tak dipaksakan ini itu oleh ayahnya, semenjak ibunya pergi ... Hasan lebih fokus dengan karirnya dan sesekali menanyakan soal Satya, gimana sekolah dan apa yang bagus untuk Satya.
Satya juga tak pernah menolak apa pun dari ayahnya, tapi kalau Satya benar-benar tidak ingin. Maka dia tak bisa dipaksa, dan berakhir Hasan harus berpasrah mengikuti apa yang diinginkan anaknya itu.
"Sama Lintang aja, dia juga pintar kok, bahkan jauh lebih pintar dibanding aku," ujar Mega.
"Tapi menurut gue lo jauh lebih pintar," ujarnya.
Mega meraih sendok dan mulai memakan nasi goreng itu tanpa napsu sama sekali. Mega tak mempunyai semangat dari tadi pagi hingga sekarang dan dia sendiri bingung apa penyebab dirinya seperti ini. Mega tak bisa jauh-jauh dari masalah, karena masalah adalah salah satu hal yang paling dominan di dalam kehidupannya.
"Hari ini eskul? Gue denger-denger lo mau lomba mading, dan ...."
Mega mengangguk.
"Bentar lo mau latihan? Kayaknya bagus kalau gue juga ikut mading, biar bisa ketemu lo terus kan? Atau bagusnya gue pindah kelas biar bisa bareng lo."
"Semuanya enggak ada yang bagus, mau kamu pindah atau gimana pun. Kondisinya akan tetap sama, enggak usah ngubah ini udah mau lulus," ujar Mega.
"Biar bisa ketemu lo terus."
"Tapi gue enggak mau ketemu sama lo." Mega berdiri dan langsung pergi meninggalkan Satya. Entah dalam pikirannya sekarang seperti semuanya salah, dan apa maunya Satya dalam kehidupannya?
Mau PDKT? Mega tak mau memikirkan itu dulu, dia hanya fokus dengan apa yang diperintahkan oleh orang tuanya kepada dirinya. Tak peduli cemoohan orang-orang tentang seberapa ambisius dirinya dalam belajar, karena Mega sudah sering mendengar itu. Bahkan dari teman kelasnya sendiri.
Mega berjalan di koridor, tak sengaja matanya menangkap Bagas dan juga Bunga yang sedang berbincang ria. Mega mengepalkan tangannya, lalu menghela napasnya pelan, kenapa dirinya jadi emosi seperti ini?!
****
Pulang sekolah, Mega langsung menemui Bagas. "Aku mau pulang bareng kamu," ujarnya.
PIP!
Bagas menoleh ke sumber klakson melihat mobil berwarna putih, yang sangat dia kenali. "Enggak bisa, lo udah dijemput. Gue pulang bareng Bunga," ujarnya lalu membawa sepedanya menjauh dari Mega.
Mega menatap Bagas hingga sampai dia pergi bersama dengan Bunga. "BURUAN MEGA!" Mega menoleh lalu berjalan ke arah mobil ibunya. Dia masuk dengan semangat yang sangat naik turun.
Dia bersandar di kursi mobil.
"Malam ini Mama sama Papa mau ke toko, kamu mau titip atau mau ikut?" tanya Rinai.
"Mega di rumah aja," jawabnya.
"Kalau kamu Lintang?"
"Lintang ikut deh, Ma. Banyak yang pengen Mega beli buat kelas 3 juga, udah mau ujian juga ini aku mau beli buku paket," ujar Lintang.
Mega salut dengan semangat belajar adiknya itu, tanpa paksaan namun dia ingin belajar. Dirinya bahkan harus didorong terus menerus bahkan terus dipukul hanya karena tidak belajar.
"Contoh adik kamu itu, Mega. Dia sering mau beli buku, kamu apa? Jarang-jaran sekarang, awas kalau nanti nilai kamu turun. Mama lepas kontrol kalau Papa kamu sampai ngamuk," ujar Rinai.
Mega hanya menghela napas kecil, memangnya apa yang Rinai lakukan buat Mega saat Mega dipukuli oleh Adhitiya, dia hanya masuk ke kamar bermain handphone atau tidak dia hanya menjadi penonton dirinya dipukuli.
Malang sekali nasibnya. Namun bagaimana lagi? Mungkin takdir Savana Mega harus seperti ini.
****
Mega membuka laptopnya di balkon kamarnya, udaranya cukup dingin di malam hari. Di atas sana juga banyak bintang-bintang yang bisa dia lihat dengan mata telanjang, Mega suka menggambar bintang-bintang entah kenapa dia sangat suka dengan bintang.
Walau dirinya tak tau di sana ada bintang apa saja, apakah ada bintang semu atau bintang yang benar-benar nyata. Mega menatap kembali laptopnya dan mulai membaca artikel-artikel pembelajaran untuk memasuki ujian Nasional.
Memikirkan hal, dirinya sekarang sudah berjarak dengan Bagas. "Kenapa malah galau ya?"
Kemana dirinya yang dulu? Cuek dengan siapa pun? Mega mungkin belum merasakan disakiti oleh Bagas, makanya dirinya tak bisa secepat itu membenci apalagi melupakan apa yang sudah dilakukan oleh Bagas kepada dirinya. Mega hanya berharap kalau Bagas seperti itu hanya beberapa saat saja.
Besok dan seterusnya akan kembali seperti dulu. Itu yang Mega harapkan kepada dirinya.
"Mega kamu itu kenapa tidak tidur?" teriakan itu membuat gadis itu menoleh dan berdiri.
Di sana ada Rinai yang berdiri dengan berkacak pinggang. "Ini udah malam sekali! Dan kamu masih di luar, kalau kamu sakit siapa yang repot? Harus keluar biaya lagi kalau kamu sakit, belajar mandiri dan urus diri kamus sendiri jangan terlalu sering ditegur karena kamu sekarang sudah dewasa," ujar Rinai panjang lebar.
Mega meraih laptopnya dan masuk, menutup pintu balkon dan menggeser tirai hingga tertutup sempurna. Rinai mematikan AC.
"Malam ini enggak pakai AC! Udara enggak baik." Rinai pergi setelah mengucapkan itu, Mega menghela napasnya lelah.
Di kamar ini tidak ada CCTV. Karena ini memang kamar yang tidak dipakai sejak 3 tahun terakhir ini. Mega tak suka desainnya makanya dia tak tidur di sini. Dia rindu kamarnya, namun di sana ada CCTV. Yang ada dirinya malah lebih diperketat.
Mega mau tenang, dan ini cara Tuhan mengabulkan doanya.