Mega meraihnya, perlahan tangannya ingin membuka namun itu privasi. Mega langsung menyimpan buku kecil itu lalu masuk ke dalam kamarnya. Kamar awalnya belum selesai direnovasi. Mega benar-benar rindu walau baru beberapa hari setelah dia pindah ke kamar nuansa biru langit ini.
Mega melepas penatnya dengan berbaring di atas tempat tidur. Dia kepo dengan isi buku kecil itu, tapi mengingat dirinya adalah orang yang tak suka mencari tau apalagi meng-kepoi kehidupan orang lain.
No! Itu bukan Mega! Asli!
Matanya terpejam sesaat lalu mendengar seseorang yang membuka pintu kamar membuat gadis itu terbangun dan mengubah posisinya menjadi duduk. "Papa?" gumam gadis itu lalu menetralkan pandangannya.
"Kamu udah tidur? Ini masih jam berapa? Masih ada waktu sekitar 30 menit buat belajar lagi," ujar Adhitiya.
Mega menatap meja belajar barunya, lalu mengangguk. Gadis itu berjalan ke arah meja dan meraih pulpennya membuka lembaran bukunya dan membacanya.
"Papa dengar kamu mau ikut lomba mading," ujar Adhitiya duduk di sofa.
"Iya," jawabnya singkat.
Sisa nyawanya masih ada di tempat tidur, dia hanya sengaja membaca buku dengan seksama padahal semuanya tak masuk di otaknya. Ini hanya sebagai agar amarah ayahnya tidak sampai menghampiri dirinya. Mega tak ingin ada kericuhan di rumahnya malam-malam.
"Kamu enggak boleh ikut, fokus sama ujian yang akan kamu hadapin sebulan lagi. Papa tidak ingin kamu lulus dengan hasil yang jelek, bisa-bisa kamu tidak bisa sekolah di SMA keunggulan Magelang," ujar Adhitiya.
Mega menatap papanya. "Tapi, Pa. Ini sekali-kali doang, Mega yang dipercaya buat ikut ini. Kasian kalau Mega ngecewain mereka," ujar Mega dengan sedikit memelas.
"Kamu lebih milih orang lain daripada keluarga kamu sendiri? Kamu takut ngecewain mereka yang bahkan enggak pernah kasih makan kamu? Dari pada Papa dan Mama yang besarin kamu sampai sekarang?" Adhitiya tampaknya lagi marah. Mega tak mau melanjutkan perdebatan ini, karena semakin dirinya memaksa semakin besar pula perdebatan yang akan tercipta.
Mega bisa bicarakan ini dengan baik-baik kepada Papanya dengan janji dirinya akan tetap belajar walaupun mengikuti lomba eskul mading. Karena ini pertama kalinya Mega menonjolkan bakatnya walau belum seberapa, Mega harus membuktikan kalau dirinya memang bisa diandalkan bukan hanya dalam bidang akademik tapi juga bidang non akademik. Mega bisa! Mega bisa!
Gadis itu kembali fokus ke bukunya, perlahan 3 lembar sudah dia baca. Papanya keluar dari kamarnya, di ujung sana Adhitiya menoleh ke arah Mega sambil memegang handphonenya yang sedari tadi dia sibukin. "Kamu tidur, besok bangun cepat buat belajar. Jangan lupa berdoa, jangan lupa bangun buat sholat malam," ujar Adhitiya lalu menutup pintu kamar Mega.
Mega kembali bernapas lega. Gadis itu masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan kakinya, dan mencuci mukanya serta menggosok giginya. Gadis itu lalu keluar dan meminum air yang sudah disiapkan oleh Bibi Asna untuknya di atas nakas.
****
Mega berlari turun dari tangga. Matanya menatap jelas orang-orang yang sedang melayani Lintang mulai dari tatanan rambut, memakaikan kaos kaki, menata rias wajahnya, dan juga merapikan bajunya. Mega menggeleng pelan, dirinya bahkan tak pernah mau diperlakukan seperti itu makanya dia berpenampilan biasa saja ke sekolah.
Kecuali acara keluarga, Rinai sangat marah jika dirinya tak mau dirias. Karena memang Mega tak pandai seperti itu dia hanya biasa merawat dirinya dengan apa yang dia tau. Mega berjalan ke arah meja makan. "Pagi Ma, Pa." Mega mengambil s**u dan juga roti bakar.
"Pagi sayang," ujar Rinai.
"Pagi," balas Adhitiya.
Mega tersenyum simpul lalu menatap Papanya yang sibuk dengan koran yang dia baca. Mega memakan rotinya hingga habis lalu meminum susunya. "Mega mau minta maaf kalau Mega ada salah sama kalian," ujarnya tiba-tiba membuat Rinai dan Adhitiya menatap dirinya.
"Maafin Mega," ulangnya.
"Kalau Mega enggak selalu nurutin apa yang kalian mau, Mega hanya pengen kebebasan walau hanya 5 persen. Karena Mega juga manusia biasa," ujarnya.
"Maksud kamu gimana?" tanya Rinai.
"Papa, kali ini aja. Mega pengen ikut lomba mading, mereka udah nunjuk Mega buat wakilin sekolah, Mega janji untuk fokus sama pelajaran Mega juga kok," ujarnya dengan penuh pengharapan.
Rinai meletakkan sendoknya, lalu menatap Adhitya. "Kasih aja izin, Pa. Toh ini juga hal baik bukan buruk? Kalau pelajaran dia sampai turun kasih hukuman sebagai pelajaran buat dia," ujar Rinai.
Mega mengangguk setuju. "Papa boleh lakuin apa saja kalau memang gara-gara eskul mading, Mega jadi lalai sama pelajaran Mega."
Lintang yang cukup mendengar itu lalu fokus kepada makanannya.
"Baik, tapi papa pegang ucapan kamu. Awas aja kamu sampai ngecewain kita semua," ujar Adhitiya.
Mega mengangguk senang.
Mega tau alasan kenapa Ibunya mendukung dirinya sekarang, karena Rinai sempat mengikuti eskul mading dan selalu saja mendapatkan kemenangan setiap dia ikut lomba. Hingga dirinya tak punya dukungan lagi, Rinai pernah menceritakan banyak sekali masa lalu kelamnya selama punya hubungan dengan Adhitiya.
Setelah sarapan Mega dan Lintang pun berangkat ke sekolah. Sama seperti biasa, Mega melirik parkiran sepeda, Bagas sudah datang. Gadis itu langsung berlari masuk ke dalam kelas, dan menatap sekeliling namun tak ada Bagas di sini. Dia hanya melihat tas Bagas yang sudah berada di belakang sana. Bukan lagi duduk bersama dengan dirinya.
"Ini Bagas pindah ya?" tanya Mega tiba-tiba saat Sintia sedang sibuk menyapu.
"Oh enggak, gue yang pindahin tadi sorry. Soalnya di laci lo kotor takut tas Bagas ikut kotor saat gue bersihin," ujar Sintia.
Mega mengangguk lalu tersenyum sekilas mengambil tas Bagas dan menyimpannya di samping tasnya. "Oh ya, Bagas di mana?" tanya Mega.
"Enggak tau deh, tadi keluar sama Adrian sama Bunga dan Latih," ujar Sintia.
Mega terdiam sesaat lalu berterimakasih kepada Sintia, kakinya melangkah keluar kelas. Mega berjalan-jalan di sepanjang koridor ruangan eskul, namun semuanya masih tertutup kecuali OSIS dan PMR serta Pramuka yang selalu saja terbuka. Selama sekolah aktif hingga tutup.
"Meg, gimana? Keluarga lo setuju?" tanya Rumi tiba-tiba membuat Mega menatapnya.
"Hah? Maksudnya?"
Rumi terdiam lalu tertawa pelan. "Kan keluarga lo engga suka lo ikut eskul, makanya gue tanya keluarga lo dukung enggak lo ikut ini?" tanya Rumi.
"Ah iya, dukung alhamdulillah."
Mata Rumi berbinar seketika. "Really? Padahal gue dan Abian udah siap buat ke rumah lo minta izin, kalau aja Papa dan Mama lo enggak izinin," ujar Rumi.
Mega lagi-lagi heran.
"Kamu kok tiba-tiba baik sih sama aku? Heran banget," ujar Mega merasa canggung gadis itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Gue sekarang teman lo? Gue harus buktiin kepada lo kalau gue bisa jadi teman yang dipercaya dan tidak kayak kebanyakan orang lain," ujar Rumi.
"Gue emang enggak sebaik apa yang terlihat, tapi gue enggak sejahat apa yang ada di pikiran lo." Rumi menepuk-nepuk pundak Mega lalu tersenyum. ReplyForward