Bab 25

1068 Words
Di kehidupan ini sebenarnya ada yang bisa membuat bahagia namun, seseorang menyia-nyiakannya. Ini pertama kalinya Mega pergi tanpa izin kepada kedua orang tuanya apalagi pergi bersama dengan orang yang baru dirinya kenal. Mega menatap ke arah matahari yang sebentar lagi akan terbenam. "Lo masih mau di sini sampai kapan?" tanya Satya. Mega menoleh dan menghela napasnya pelan. "Sampai senja itu hilang," ujar Mega kembali fokus ke depan. Rambutnya dia biarkan terurai, dan membiarkannya bebas dihempas angin. Satya menatap Mega cukup lama lalu menoleh ke arah senja di mana mata Mega selalu tertuju dari awal hingga akhir mereka di sini.  "Dia cuman datang sesaat, tapi kenapa lo suka?" tanya Satya memulai topik. "Dia sesaat, namun besoknya akan datang. Sama seperti ini, dia memberikan kebahagiaan di setiap harinya. Walau tidak selalu ada, setidaknya dia mengukir sebuah keindahan di setiap harinya," ujar Mega. "Tapi sebenarnya yang selalu ada akan salah dengan yang setia," ujar Satya mulai mengganti topik lainnya. Mega tertawa. "Enggak usah sok puitis deh, geli tau dengernya. Kita formal biasa aja," ujar Mega. "Seandainya lo sering ketawa kayak gini, hidup lo akan jauh lebih bermakna," ujar Satya. Mega mengangguk. "Tapi enggak setiap harinya aku selalu bahagia ya. Lebih banyak duka daripada suka, tapi tenang aja. Aku bakal ketawa di saat momen-momen bermakna yang jarang aku temui atau aku denger," ujar Mega. "Jadi sekarang ini bermakna?" Mega menatap Satya lalu senyumnya sedikit terukir dan mengangguk. "Thanks, kamu orang pertama yang bawa aku ke sini setelah lamanya aku ingin ke sini," ujar Mega. "Berarti pernah ke sini sebelumnya?" tanya Satya. "Pernah, sama Nenek dan ...." Satya menunggu lanjutan ucapan Mega. "Dan?"  "Dan Jihan." Satya mengangguk. "Sekarang nenek lo kemana? Jihan, Jihan itu siapa?" tanya Satya mulai kepo. "Nenek aku udah meninggal lama, dan Jihan kayaknya aku enggak bisa cerita deh, terlalu sulit soalnya," ujar Mega. "Ini first time gue dan lo ngomong berfaedah dan lumayan banyak," ujar Satya serasa mendapatkan rekor banyak.  "Jarang-jarang, tapi harus ada kenang-kenangan. Gue mau kita foto! Enggak ada penolakan," ujar Satya. **** Mega melepas bajunya dan masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya, melakukan kewajibannya dan keluar dari kamar malam ini dirinya harus terlihat jauh lebih baik-baik saja. Mega tak mau sampai orang-orang bertanya kenapa wajahnya seperti ini? Apalagi Bibi Asna, Mega tak mau berbohong dengan menutupi rasa kesalnya kepada Bagas.  Entah kenapa, tapi Mega merasakan sekarang mereka seperti jauh dan terhalang oleh jarak. Mega duduk lalu menyantap makan malamnya.  "Malam ini Satya bakal datang buat belajar bareng, kamu siap-siap setelah makan ya. Sama Lintang, Lintang bawa teman juga?" tanya Rinai. Lintang mengangguk dengan semangat.  "Siapa?" Pertanyaan itu bukan muncul dari Adhitiya atau Rinai. Melainkan Mega. Lintang menatap kakaknya lalu tersenyum. "Ada deh, nanti rahasia!" ujar Lintang. "Tapi kayaknya dia enggak datang malam ini, mungkin datangnya Minggu depan," ujar Lintang lalu merubah raut wajahnya menjadi sedih. Rinai mengusap pucuk kepala anaknya. "Enggak apa-apa, tunggu aja. Belajarnya bareng Kak Mega sama Satya ya?"  Lintang mengangguk. "Satya datang jam setengah 8 malam, dia belajar hanya sampai jam setengah 10 saja. Setelah itu nanti Papa bakal anter dia pulang," ujar Adhitiya.  Mega menatap lama keluarga, kenapa mereka sangat baik kepada Satya? Terbuka sekali? Bahkan tadi sore dia pulang Magrib bersama dengan Satya. Mega tak dimarahi sama sekali, hal itu yang membuat dirinya semakin merasa ada yang aneh!  Mega tak mau pikir panjang gadis itu menyelesaikan makanannya dan mengambil buku-buku dan membawanya ke ruang tengah. Mega yang baru saja menyimpan bukunya, mendapati Satya yang berjalan ke arahnya.  Satya menyimpan tasnya lalu duduk menatap Mega yang juga sedang menatapnya. "Udah datang?" tanya Mega. "Udah, buktinya gue ada di sini," jawabnya. Mega memutar bola matanya malas lalu mengambil beberapa cemilan dari lemari dan memberikannya kepada Satya. Lintang datang dengan hebohnya dan duduk di samping Satya. Mulai bercerita dan mengajaknya berbincang.  Mega menatap keduanya yang asyik mengobrol gadis itu memilih ke dapur dan mengambil 3 gelas s**u. Mega datang dari dapur dan masih melihat keduanya sibuk mengobrol. Mega berdehem pelan lalu duduk di bawa. "Jadi enggak belajarnya ini?" tanya Mega. "Kalau enggak aku belajar aja sendiri, kalian asyik ngobrol kayaknya," ujar Mega menyindir pelan. Lintang menatap kakaknya lalu menarik bukunya. Satya tersenyum kecil lalu membuka bukunya. "Pelajaran kita sekarang itu sifat zat dan partikel penyusun," ujar Mega. "Tapi Lintang belum belajar itu gimana dong?" tanya Lintang protes. Mega menatap adiknya. "Kamu belajar aja sesuai dengan pelajaran kamu, kalau ada yang mau ditanyain tanyain ke aku atau Satya, gampang kan?" tanya Mega. Lintang mengangguk-angguk paham. Gadis itu mulai membaca dengan baik materi yang sudah dia pelajari maupun yang akan dia pelajari di sekolah. Lintang sebenarnya sudah paham, karena di les pelajaran ini sudah dibahas dan Lintang sudah sangat paham. Mega sendiri sibuk dengan pekerjaan rumah yang diberikan Ibu Tuti kepada dirinya. Mega menatap sekilas Satya yang menulis dengan santai dan tenang, lalu gadis itu kembali fokus. Setelah 20 menit masing-masing mengerjakan soal mereka. Satya melepas bolpoinnya lalu bersandar di kursi. "Udah." "Oke sekarang aku tanya ya. Kan udah tadi?" tanya Mega. "Silahkan," ujar Satya. "Sebutkan beberapa sifat zat fisika," ujar Mega. "Kerapatan, kekerasan, elastisitas, daya hantar." "Kemagnetan dan juga titik didih," jawabnya tanpa merubah posisi. Mega mengangguk. "Dua atom atau lebih yang bergabung melalui ikatan kimia baik antara atom-atom yang sama ataupun atom-atom yang berbeda disebut?"  "Molekul," jawab Satya. "Bagian terkecil dari suatu materi yang masih memiliki sifat materi tersebut disebut?"  "Partikel," jawab Satya  Mega mengangguk, Satya ternyata tak sebodoh Mega pikirkan. Melihat dari tampilan saja memang membuat dirinya tertipu. Apakah Satya ini memang dasarnya pintar? Kalau pintar kenapa dia harus rela-rela datang malam-malam untuk belajar bersama kalau dirinya bisa belajar sendiri? Ah sudahlah Mega tak mau memikirkan itu dia hanya fokus sama tujuannya saja, belajar bersama.  "Atom atau sekelompok atom yang bermuatan listrik disebut?" "Gue lupa," jawabnya. Mega menghela napasnya. "ion." "Oh ingat, ion." Lintang tertawa lalu menggeleng.  Mega malah ingin menimpuk kepala Satya saat ini kalau saja dia bukan tamu di sini. "Satu lagi ya." "Zat yang digunakan untuk menurunkan titik beku, dan digunakan sebagai pendingin mesin kendaraan bermotor disebut?" Satya nampak berpikir sekejap. "Etilen glikol," jawabnya.  Mega menutup bukunya lalu mengangguk. "Udah semua kan? Adek udah selesai?" tanya Mega. Lintang mengangguk. "Aku duluan ke kamar!" ujar Lintang. Mega mengangguk lalu menatap Satya lalu menoleh ke arah jam dinding. "Jam 9 lewat 10 menit, kamu pulang gih. Udah malam," ujar Mega. Adhitiya mengantar Satya untuk pulang ke rumahnya. Mega membereskan buku-bukunya, lalu melihat sebuah buku kecil yang tertinggal dari Satya. ReplyForward
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD