Bab 24

1064 Words
Mega menatap Rumi dengan bingung. "Aku bingung harus balas ucapan kamu kayak gimana," ujar Mega. Rumi terkekeh. "Gue penasaran kenapa lo bisa sediam ini dengan tindasan yang suka diberikan orang-orang kepada diri lo. Banyak sih yang gue temuin, namun kebanyakan orang setelah ditindas dan sudah membalas dirinya berubah gitu," ujar Rumi. "Berubah yang awalnya kayak patung, jadi ceria dan banyak temannya. Lo orang yang beda gue temuin," ujar Rumi. "Kamu lagi bahas apa sih? Yang bingung di sini adalah aku, aku bingung kenapa kamu bisa sebaik ini dengan aku?" tanya Mega. "Sebelumnya gue mau minta maaf kalau gue ada salah sama lo ya?"  Mega tak membalas apa pun. "Dimaafin enggak?" Mega perlahan mengangguk. "Sebelum aku maafin aku mau bilang, ternyata kamu juga orang yang beda di dalam pikiranku. Awalnya aku malas dan enggak mau satu kelompok sama kamu, ternyata hasilnya beda setelah adanya ini," ujar Mega.  "Gue mau lo jadi teman gue, gimana?" tanya Rumi menawarkan. Mega merubah raut wajahnya. Gadis itu menghela napasnya pelan, paling orang ini enggak bakal tahan berteman dengan dirinya yang tidak suka respon banyak dan selebihnya Mega tak suka jika temannya terlalu banyak menuntut, dan tak bisa melawan orang taunya jika dia ingin ke rumah. "Aku yakin kamu enggak bakal tahan," ujar Mega. "Kalau gue tahan, gimana?" tanya Rumi. "Kenapa sih kamu mau berteman sama aku? Orang malah mau ngejauh, kamu malah mau ngedekat, alasannya apa?" tanya Mega. "Ada alasan utama, yang belum bisa gue kasih tau. Yang penting sekarang kita resmi berteman, gue saranin jangan banyak ngelamun!" ujarnya lalu pergi meninggalkan Mega yang menatapnya pergi.  Mega merasakan ada yang aneh dalam kehidupannya yang sekarang merasa bahwa benar-benar ada yang ganjal. Mulai dari keluarga, teman dan lainnya. Orang yang awalnya sering menyakitinya sekarang perlahan mendekat. Dan orang-orang yang selalu ada di saat dirinya terpuruk malah menjauh, contohnya seperti Bagas. **** Mega duduk di samping Bagas dengan senyum simpul yang dia pasang, namun tak mendapatkan respon apa-apa dari Bagas membuat gadis itu mendengkus pelan. "Bagas kamu bisa anterin aku pulang?" tanya Mega mengambil buku dan mulai menulis. "Enggak kayaknya, soalnya gue mau pergi ke suatu tempat, gue kira lo bakal mading sepulang sekolah?" tanya Bagas. "Iya sih. Yaudah." Mega kembali menulis, dan pikirannya masih terus berjalan untuk memikirkan kenapa Bagas marah kepada dirinya. Mega tak tau, dirinya lebih suka melampiaskan kemarahannya kepada sebuah tulisan walau hasilnya tidak jelas seperti sekarang.  Sepulang sekolah, Mega langsung ke ruangan mading di sana ada beberapa orang di bagian luar. Mega berjalan masuk dan melihat Abian dan Rifki yang sibuk dengan metode yang akan mereka bahas bersama. Mega mengucapkan salam lalu dibalas oleh keduanya. Mega menarik satu kursi dan duduk dalam diamnya.  "Akhirnya lo datang, kita bisa mulai sekarang?" tanya Abian. Mega mengangguk. "Oke, silahkan Rifki." Rifki menatap sekilas ke arah Mega lalu kembali menatap ke arah Abian. "Jadi kita hanya perlu bekerjasama untuk membuat mading yang indah dan bagus serta rapih. Dan waktunya hanya 60 menit, ini jauh lebih sulit dari apa yang kamu." Rifki menunjuk ke arah Mega. "Kamu lakuin saat seleksi," lanjutnya. Mega hanya diam. "Jadi lo bisa baca beberapa ini, dan juga mempelajari beberapa font yang cocok saat nanti kita lomba," ujar Rifki. "Hem, tugas lo Meg. Cuman nulis sesuaai dengan tugas awal lo, berhubung ini memang mendadak buat diri lo, jadi tugas itu cocok buat hasil kerja lo," ujar Abian. Mega masih saja terdiam. "Ada pertanyaan?" tanya Rifki. Mega tak bergeming. "Mega, ada pertanyaan?" ulang Rifki. Abian menatap Rifki yang juga sedang menatapnya, Mega hanya menatap kertas dengan tatapan kosong. Abian menepuk pelan pundak Mega membuat gadis itu tersentak kecil. "Hm?" Mega memperbaiki posisinya. Lalu mengusap wajahnya pelan. "Maaf-maaf enggak fokus tadi, aku paham kok," ujar Mega. "Yakin? Lo enggak apa-apa kan?" tanya Abian. Mega menghela napasnya pelan, lalu menggeleng. "I'm fine." "Lanjut aja," ujar Mega. Pembahasan dilanjut oleh Rifki, Mega menatap dengan seksama sekaligus beberapa timpalan dari Abian yang membuat Mega paham. Mega merasakan mereka berdua punya sisi positif masing-masing karena dengan sabar mengajar dirinya dan menjelaskan semua sistem saat lomba.  "Jadi, lombanya akan datang setelah sepekan ini?" tanya Mega.. "Iya, ini makanya lo harus ekstra. Karena mendadak banget buat lo, kalau kita berdua sebelumnya udah pernah berlatih dan sudah pernah ikut lomba beberapa kali," ujar Abian. "Kalau ada kesulitan enggak usah segan-segan tanya kami berdua, apa pun itu lo bisa chat gue atau Abian. Nomor gue lo save kan?" tanya Rifki. Mega mengangguk.  "Oke pembahasan sore ini sudah selesai," ujar Rifki. Mega tersenyum sekilas lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan mading. Mega berlari ke arah parkiran lalu langkahnya terhenti saat melihat Bagas duduk di atas sepeda dengan berbincang bersama dengan seseorang yang .... Mega kenali. Dia teman kelas mereka. Namanya Bunga!  Mega berjalan mundur lalu berlari bersembunyi saat Bagas menoleh ke belakang. Mega menatap mereka dari tempat persembunyiannya. Lalu beberapa menit kemudian mereka berdua pergi dengan Bunga yang naik ke belakang sepeda milik Bagas.  Mega pergi dari tempat persembunyiannya. "Ingat malam ini, Mega," ujar Satya tiba-tiba. Mega terkejut lalu memukul lengan Satya. "Bisa enggak kalau datang jangan bikin kaget?! Minimal kamu beri salam atau nge sapa," ujar Mega kesal. "Sakit woy!" Satya mengelus-elus lengannya. "Maaf dong, cuman gitu doang marah. Lagi PMS emang?" tanya Satya. "Aku bukan cewek yang menjadikan PMS sebagai alasan aku marah, dah lah capek nih!" ujar Mega marah. Satya terbengong baru melihat Mega semarah itu. "Anterin pulang!" suruh Mega. Satya terkejut lalu berlari menuju motor dan menyalakannya, Mega naik dengan posisi duduk menyamping. "Buru jalan!"  Satya menatap sekilas ke arah kaca spion lalu tersenyum, dia menancapkan gasnya dan pergi meninggalkan sekolah. Tak ada yang membuka suara di sepanjang perjalanan mereka hanya sibuk dengan pikirannya masing-masing. Mega menatap jalanan, sesekali motornya berhenti karena macet. Di sini memang termasuk area perjalanan yang dipadati jika sore hari. Karena orang semua baru pulang kerja.  "Kalau marah teriak aja, gue bakal ajak jalan-jalan," ujar Satya yang tak mendapatkan balasan dari Mega. 30 detik setelahnya .... "Mau enggak? Gue ajak deh jalan-jalan keliling terserah lo maunya di mana," ujar Satya lagi. Mega menatap ke depan, Satya melirik sekilas ke arah kaca. "Mau enggak?" tawar Satya. Mega terdiam sesaat lalu mengangguk. Dirinya sekarang tak enak hati, jika datang ke rumah dan ditanya kenapa wajahnya seperti ini? Yang ada Mega akan menyemprot orang-orang rumah dan berakhir dirinya yang akan kena masalah.  Mungkin kalau pelampiasannya berjalan-jalan seperti ini, mungkin jauh lebih baik. "Bawa aku ke bukit di samping sekolah unggulan," ujar Mega sedikit teriak. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD