Bab 23

1045 Words
  Pagi ini, di meja makan. Mega diajak untuk sarapan bersama dengan keluarganya. Mega duduk dengan wajah dinginnya seperti biasa, mau cuek seperti biasa lagi enaknya seperti itu. Mega memakan nasi goreng buatan Rinai. "Sore ini langsung pulang ke rumah, kamu enggak boleh pergi tanpa seizin orang tua!" ujar Adhitiya. "Mama dan Papa enggak pernah ajarin kamu untuk bersikap seperti ini kepada keluarga kamu, izin walau memang ada masalah. Pergi tanpa pamit itu namanya anak tak tau diri," ujar Adhitiya. "Udahlah, Pa. Biarin dulu kayak gitu, anaknya mau berkembang kayak gimana. Kita kasih kebebasan sebelum dia masuk SMA seperti apa yang kita bicarakan," ujar Rinai membuat Mega mendongak. Percakapan apa lagi? "Percakapan apa?" tanya Mega dengan sarkastik. "Sebelum ujian, kamu harus belajar dengan giat benar-benar giat. Sekarang fokus dengan eskul kamu dan jangan pedulikan orang-orang," ujar Rinai. Mega mengangguk sekilas, pasti akan seperti ini. Sesuai dengan apa yang dirinya katakan kepada Maya—nenek Bagas adalah dirinya tak bisa mendapatkan apa-apa sebelum dirinya melakukan bayaran: berupa prestasi non akademik atau akademik. "Hari ini kamu ada jadwal les?" tanya Mega. Lintang menggeleng. "Enggak, enggak ada jadwal apa-apa selain sekolah biasa." "Oke." "Kita ketemu di depan gerbang sekolah," lanjutnya.  **** Mega turun dari mobil, berjalan masuk dengan tas selempangnya. Lintang juga berjalan masuk di belakang Mega, Mega melirik sekilas parkiran sepeda, sudah ada sepeda Bagas. Mega tersenyum lalu berjalan masuk ke kelasnya. Lintang menatap ada yang beda dengan kakaknya beberapa hari terakhir ini. Mega masuk ke kelas mendapati Bagas yang sedang sibuk membaca buku, tepatnya duduk bangkunya. Mega menyimpan tasnya lalu duduk. "Pagi," ujarnya. "Pagi," jawabnya sekilas. Mega menatap Bagas lama hingga lelaki itu menoleh dengan tatapan bingung, seolah bertanya 'kenapa menatap aku seperti itu?' Mega menghela napasnya pelan. Mau membahas soal kemarin, kenapa Bagas berbohong padanya. Tetapi mungkin itu tidak penting dibahas, Mega menarik pelan pulpen milik Bagas. "Aku mau jalan-jalan ke rumah Nenek kamu lagi, mau cerita banyak hal," ujar Mega. Bagas berhenti dengan pergerakannya. Mega menoleh. "Kenapa?"  "Enggak. Cuman untuk saat ini jangan dulu soalnya Nenek mau istirahat banyak," ujar Bagas. Mega terdiam sesaat lalu berdehem. Biasanya Bagas selalu mengiyakan apa yang Mega ingin lakukan apalagi menyangkut dirinya, namun untuk pertama kalinya tidak. Mega bingung harus bagaimana, ingin mengajak Bagas belajar bersama di rumahnya saat ada Satya. Namun, mengingat orang tuanya sama sekali tidak senang dengan keberadaan Bagas di rumahnya. Mega serasa tidak punya teman selain Bagas.  "Maaf," lirih Bagas sambil menatap Mega. Mega terkekeh lalu menggeleng. "Enggak apa-apa, tapi kamu mau belajar bareng di rumah ak—" "Rumah kamu?"  Mega menatap Bagas lalu mengangguk pelan.  "Nggak bisa, Meg. Lo tau kan orang tua lo kayak gimana ke gue? Kalau gue sampai ada di rumah lo, bisa berabe urusannya ini bukan soal gue saja tapi ini juga soal hubungan lo dengan keluarga lo," ujar Bagas final membuat Mega menahan dirinya untuk kembali berbicara.  Mega mengerjap lemah, ucapan Bagas bak seperti petir di pagi hari. Karena ucapannya itu seperti menuntut Mega agar tidak meminta keinginan kepada dirinya, dengan alasan keluarganya. "Tapi ...." Bagas menoleh. "Tapi ini baru pertama kalinya kamu ngucapin itu ke aku, dan kamu enggak pernah takut dengan orang tua aku, dari dulu hingga sekarang," ujar Mega. Bagas terdiam sesaat, percakapan mereka terhenti saat guru datang ke kelas. Jam pelajaran PKN berjalan dengan biasa, tenang dan tak ada halangan. Mega sibuk membaca bukunya dan Bagas sibuk dengan lamunannya. Masing-masing sibuk dengan kegiatannya. Bel berbunyi, Bagas berdiri dan langsung pergi meninggalkan kelas. Mega mendongak lalu menatap kepergian Bagas, biasanya dia menawarkan dirinya untuk makan bersama namun kali ini tidak ada sahutan dari Bagas. Mega merasa ada yang aneh.  Sangat aneh.  **** Mega menatap 3 orang pentin di depan, gadis itu terdiam sesaat saat mengingat perlakuan Bagas tadi. Sangat asing untuk Mega, Bagas tak pernah seperti itu sebelumnya dan sangat disayangkan Bagas pergi di kantin tanpa mengajak dirinya.  "Savana Mega!"  Mega menghela napasnya pelan, gadis itu masih sibuk dengan lamunannya. "Savana Mega!" panggil Rifki membuat gadis itu terlonjak kaget. Matanya menatap ke depan tepatnya menatap ke arah Rifki. "Kenapa?" tanya Mega pelan. "Kamu naik di atas sini, kamu terpilih untuk mengikuti lomba yang akan dilaksanakan setelah 1 pekan ini," ujar Rifki. Mega mengangguk, lalu detik selanjutnya gadis itu melotot kaget. Dia berdiri. "Saya? Hah?" tanyanya masih dalam kondisi loading. "Iya kamu, kenapa?" tanya Ibu Anti—selaku guru yang membina di eskul ini. Mega menatap mantan guru Bahasa Indonesia itu lalu menggeleng pelan.  "Saya masih baru, Bu di sini. Jadi merasa aneh saja kalau saya yang ditunjuk untuk turun lomba," ujar Mega. "Kamu ini berprestasi, jadi tidak ada alasan khusus untuk kamu diikutkan dalam lomba eskul mading ini. Siapkan diri kamu, karena lomba ini akan datang setelah sepekan ini." "Kamu, Abian dan Rifki akan berdiskusi secara bersama setelah pulang dari sekolah. Saya akan menghubungi orang tua kamu untuk meminta izin," ujar Bu Anti tepat sasaran. Ibu Anti adalah salah satu guru yang memahami keadaan Mega, keadaan di mana dirinya terlalu dipaksaa untuk belajar ini karena saat Ibu Anti mendapati Rinai memarahi Mega saat kelas 8, di taman. Mega bersyukur namun, dirinya merasa jadi tidak aman jika ada orang yang mengetahui keadaan yang sebenarnya. "Baik, Bu."  Setelah pengumuman itu, pikiran di dalam hati dan otak Mega bertambah gadis itu duduk di perpustakaan. Dia tak membaca buku, hanya melamun dan menatap ke arah jendela di sana ada hutan yang tak terlalu lebat. Konon katanya di sana pernah ada seseorang yang masuk namun tak keluar, jika Mega masuk ke sana dan tak keluar lagi ... apakah bagus?  Mega ingin.  Tetapi dirinya belum berani, karena dirinya masih kuat menjalani kehidupan yang penuh dengan tekanan ini. "Selamat ya," ujar seseorang membuatnya menoleh. Rumi datang dengan dua kotak s**u strawberry dingin. "Minum gih, enak tau siang-siang minum ini," ujarnya mendorong satu minuman ke depan Mega. Mega meraihnya.  "Kenapa sih lo suka banget di sini? Lo itu cewek misterius yang pengen gue ketahui," ujar Rumi. "Dan akhirnya kita satu eskul, gue bisa jauh lebih dekat dengan lo. Gue juga yang minta Abian buat satuin kita berdua dalam kelompok itu," ujar Rumi jelas membuat Mega menatapnya bingung. "Oke, gue tau lo taunya gue anak yang suka genk-genk-an, dan suka main sama anak-anak cabe-cabean, dan hal buruk lainnya saat di kantin waktu itu, namun ada hal yang perlu lo ketahui tentang gue," ujar Rumi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD