Bab 22

1033 Words
"Mau nebeng enggak?" tawarnya. Mega menatapnya lama. "Woi!" Mega tersadar lalu menggeleng pelan. "Lo pulang sama siapa? Di sini udah engga ada siapa-siapa lagi," ujar Satya membuat Mega terdiam kembali. "Hm, pulang sendiri lah. Aku naik bis," alibinya biar tidak pulang bersama dengan orang di depannya ini. Jujur, Mega ingin menghindar karena Satya sangat dikenali oleh keluarganya, jika melihat mereka pulang bareng.  Akan lebih panjang urusannya, dan Mega tak mau akan hal itu terjadi.  "Enggak ada bis jam segini, adanya jam 4 sampai jam 5 sore, emang lo mau nunggu selama itu?" tanya Satya. Mega mengutuki dirinya yang menjawab asal. Benar juga, di sini ada sekolah keunggulan di ujung sana. Dan bis itu hanya menampung anak SMA, karena anak SMP pulangnya jam 3 sore. Berbeda dengan anak SMA. "Gue anterin aja, enggak bakal gue culik dan enggak bakal gue tinggal di jalan," ujar Satya. **** Karena terus ditawari, akhirnya Mega mau. Perjalanan mereka tak dihiasi dengan perbincangan yang menarik hanya beberapa pertanyaan dari Satya yang Mega jawab 'hm' atau 'iya' atau 'tidak'. Mega turun dari motor. Melihat mobil ayahnya yang baru saja sampai!  Kenapa bisa barengan?! Mega menatap Satya, mengisyaratkan lelaki itu pergi meninggalkan rumahnya. Namun terlambat, Adhitiya sudah keluar dan sedang berjalan menuju mereka berdua dengan senyum khasnya. Mega terdiam sambil menatap ke bawah, dia yang sekarang menghindari keluarganya harus tetap pada prinsipnya. "Satya, makasih ya. Aku masuk duluan." Mega langsung masuk tanpa memperdulikan Adhitiya yang sedang memanggilnya. Mega berjalan masuk ke dalam kamarnya, namun pintu kamarnya tidak bisa terbuka. Gadis itu mencobanya, dengan kunci sekalipun tetap tidak terbuka. "BIBI!" panggil Mega. "Iya, non?" "Ini kenapa pintunya enggak bisa dibuka? Saya mau masuk tapi engga bisa," ujarnya dengan desahan di akhir kalimatnya. "Oh katanya kamarnya mau direnovasi. Jadi non bisa tidur di kamar lain, bibi udah pindahin beberapa barang dan juga baju Non Mega," ujar Bibi Asna. Mega menghela napasnya dengan gusar. "Yaudah bi, makasih." Mega langsung berjalan menuju kamar yang bersebrangan dengan kamar Lintang. Mega sempat disuruh untuk tidur di sini namun gadis itu tak mau karena tak mau bersebrangan dengan kamarnya Lintang. Bukan hanya itu, dia malas jika dirinya harus dipaksa bangun jam 3 subuh sedangkan kamar Lintang masih tertutup dengan cantik. Yang ada Mega tambah sakit hati, nanti kalau kelamaan dirinya memelihara itu membuat dirinya mempunyai penyakit hati. Mega harus belajar ikhlas dan tulus akan semua ini. Mega masuk dengan santainya, dia juga pernah menolak untuk merenovasi kamarnya karena sudah sangat cantik dengan warna hitam, abu-abu dan putih saja. Tak ada warna lain, namun entah kenapa sekarang malah direnovasi. Mereka perlahan melakukan hal tanpa sepengetahuan Mega, Mega benci akan hal itu. Mereka juga selalu melakukan apa yang Mega tak suka, dan ini baru pertama kalinya mereka melakukan apa yang berhubungan dengannya tanpa konsul ke dirinya dahulu.  *** "Mega!" teriak Rinai. Mega yang tidur langsung terbangun. Gadis itu dengan malas turun dari kasur.  "Mega cepetan!" teriak Rinai lagi. Mega mempercepat langkahnya lalu membuka pintu dengan mata yang masih mengantuk. "Di bawah ada Papanya Satya, katanya dia ingin ngomong sama kamu. Kamu cepat turun! Jangan lupa cuci muka," ujar Rinai. Mega melebarkan matanya, apa lagi ini? Mega masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan wajahnya lalu mengikat rambutnya. Gadis itu mengambil cardigannya dan turun ke bawah. Di sana dia bisa lihat jelas Satya yang duduk bersama dengan Lintang, mengobrol seperti orang yang pernah dekat sebelumnya. Mega duduk, namun hal itu justru tak digubris oleh mereka yang sibuk mengobrol dengan masing-masing lawan bicaranya. Mega menatap mereka bergantian, ingin menghela napas takut dirinya langsung ditampar oleh ibunya saat itu juga. Setelah 5 menit Mega duduk di pojokan tanpa kesadaran mereka, Mega langsung berdehem, "Ekhem!"  Mereka semua langsung menoleh ke sumber suara, Mega dengan wajar datarnya duduk di samping Rinai. Rinai mengusap bahunya dengan lembut, Mega merasakan hangat sentuhan itu. Rasanya ingin sekali dirinya memeluk ibunya, dia rindu dengan ibunya yang dulu ... rindu sekali. Sejak Lintang beranjak dewasa semuanya sudah berakhir.  Mega dituntut untuk jadi kakak yang baik. Mega menatap ibunya dengan tatapan dalam. "Oke jadi begini nak," ujar Hasan membuat Mega langsung menoleh. "Iya om?" tanya Mega. Satya yang awalnya sibuk berbincang dengan Lintang langsung mengalihkan pandangannya kepada Mega dan Hasan.  "Om ingin kamu belajar bersama dengan Satya sepulang sekolah, dan les privat bersama," ujar Hasan. Mega menatap Satya, gadis itu terdiam lama. Mega tak ingin!  Mega ingin mengatakan hal itu, namun melihat harapan di mata kedua orang tuanya membuat gadis itu mengangguk kecil. Hasan tersenyum.  "Kalau begitu bagusnya Satya pindah ke kelas kamu aja ya? Nanti kalau SMA kalian juga Om usahakan untuk satu sekolah dan satu kelas," ujar Hasan. Mega merasakan hati kecilnya mau berteriak mengatakan 'TIDAK!' tapi mengingat kembali orang taunya, jika dirinya menolak pasti akan ada bencana malam ini. "Baik om, saya bersedia. Asalkan anak om juga bersedia ingin belajar bersama saya," ujar Mega. Hasan menoleh ke arah Satya.  "Pasti Satya setuju." Satya menatap sekilas Mega lalu mengangguk kepada ayahnya. "Kalau begitu, alangkah baiknya kalau kalian bertiga semuanya belajar bersama-sama, Lintang juga ikut belajar sekaligus persiapan untuk kelas 9," ujar Rinai. Adhitiya mengangguk setuju. Sama halnya dengan Lintang.  **** Mega menatap ke arah buku-bukunya, dia menatap handphonenya lama. Ingin mengirim pesan kepada Bagas, entah mengapa dirinya ingin mengungkapkan semuanya kepada Bagas. Dirinya yakin pasti dia akan keluar dari lingkaran KELUARGAnya ini. Dengan bantuan Bagas. Itu yang ada di pikiran Mega saat ini. You: Kamu udah tidur?  Mega meletakkan kembali handphonenya berjalan menuju kasurnya lalu tidur tak lupa berdoa.  Di sisi lain, Bagas yang baru saja ingin tidur notifnya berbunyi.  Savana Mega: Kamu udah tidur? Bagas terdiam lama, yang ada di pikirannya tumben sekali anak ini mengchat dengan pertanyaan yang tak penting ini. Bagas menyimpan handphonenya, lalu berjalan menuju kasur minimalisnya.  Bagas mengingat-ingat akan kebohongannya kepada Mega. Tak ingin pulang bersama, seharusnya dirinya jujur saja kan? Ini pertama kalinya dia berbohong kepada Mega dan pikirannya selalu saja tak tenang. Dia mengambil kembali handphonenya. Anda: Ini gue udah mau tidur, knp? Bagas menunggu balasan, setelah satu menit hingga dua menit tak ada balasan. Bagas memilih untuk menutup layarnya dan tidur menutup matanya, dan masuk ke alam mimpinya. Tidur itu diperlukan, untuk kesuburan di pagi harinya. Masalah yang datang, mungkin esok ada solusinya. Berserah kepada yang kuasa adalah kunci yang paling utama. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD