Bab 21

1041 Words
"Oke sekarang kita langsung ke tokonya karena kebetulan gurunya udah minta kita beli bahan-bahan karena ternyata lombanya dipercepat," ujar Rumi. "Jadi ini waktunya juga dipercepat, besok atau sekarang kita seleksi madingnya?" tanya Ilham. "Kalau jadwal itu tetap, perubahan hanya ada pada lomba saja. Kata Abian, kalau saja Dita bisa ikut enggak akan ada seleksi kagak gini," jelas Rumi. Mereka bertiga berjalan beriringan menuju toko besar yang tak jauh dari sekolah, Mega hanya bisa mengikuti di mana arus yang akan dia tempuh, toh? Dia pasti tak akan dipilih secara dirinya adalah anak baru di eskul itu. Jika diperkirakan dirinya akan ditunjuk 0,1%. Mega tak tahu menahu soal mading.  "Mega, kamu cari kertasnya, sesuai dengan chat yang gue kasih ya. Lo harus cari yang itu, dan lo Ilham sama halnya, kita bakal bertemu lagi di sini. Jangan ada yang matiin handphonenya biar bisa saling menghubungi kalau ingin bertanya," ujar Rumi. "Siap!" ujar Ilham. Sedangkan Mega hanya mengangguk gadis itu mengambil handphonenya dan melihat daftar yang akan dia beli.  Mega langsung masuk ke dalam toko tersebut, langkahnya masuk pada deretan lemari yang menjulang tinggi dengan beberapa perabotan sekolah yang memang dikhususkan untuk anak-anak sekolah, SD, SMP, SMA maupun kuliah. Semuanya lengkap di sini.  Mega tak sengaja melihat adiknya dari ujung sini, dia menatap jelas Lintang yang sedang mengobrol dengan seseorang yang tidak dia kenali, pasalnya dia sedang membelakangi dirinya. Jadi tak nampak jelas wajahnya, dilihat dari postur tubuh .... Ah! Banyak yang berpostur tubuh seperti itu. Dan anehnya, dia adalah seorang lelaki! Sejak kapan? Sejak kapan adiknya berani berjalan bersama dengan anak cowok? Yang Mega tau adalah adiknya itu sama sekali tak suka jika ada cowok yang mendekatinya. Semisal waktu adiknya itu kelas 7 SMP, ada kakak kelas setahun di atasnya menembak adiknya itu saat di lapangan, saat guru-guru sedang rapat. Dan apa respon adiknya?  Adiknya menolaknya. Padahal, yang menembak adiknya itu adalah ketua basket di SMP 3 Magelang, adiknya terlalu cantik sampai laku seperti itu. Jika ditanya alasannya?  Mega tak ingin mencari tau, dia langsung ke kelas saat itu karena menurutnya itu adalah drama yang sangat membosankan. Mega tak ingin ambil pusing, hingga sampai sekarang Mega juga tak mau ambil pusing. Contohnya sekarang, Mega berjalan dengan arah yang berbeda mencari barang yang dia inginkan. Satu barang sudah nampak di matanya, gadis itu mengambilnya dan mencari 2 barang lagi.  Beberapa menit mencari akhirnya semua barang yang dia inginkan sudah ditemukan, gadis itu berjalan menuju kasir namun pergerakannya terhenti saat di depan ada adiknya! Lagi!  Ini jam pelajaran bukan?!  Kenapa adiknya malah ke sini? Memang dari awal dirinya baru menyadarinya sekarang, Mega menatap sekeliling lalu menemukan Ilham yang baru saja ingin ke kasir. 2 menit setelahnya, Lintang dan satu orang itu pergi, Mega tak tau dan rasanya ingin mencari tau siapa lelaki dengan hoodie hitam itu.  "Ini udah." Ilham menyeru, Mega menoleh. "Iya tinggal bayar, yuk." Mega berjalan ke kasir dan memberikan hasil belanjaan begitu pun dengan Ilham di sebelahnya.  Setelah keduanya selesai, mereka berdua berjalan ke tempat yang sama yang tadi mereka tentukan untuk bertemu. Di sana sudah ada Rumi yang bermain handphone, dengan santainya menenteng belanjaannya.  "Udah selesai, kita langsung ke dalam?" tanya Ilham membuat Rumi mendongak.  "Iya ayo." Mereka bertiga kembali ke sekolah. **** "Kalian semuanya sudah siap?" tanya Rifki. "SIAP!" Sorak mereka kecuali Mega yang hanya diam menatap ke depan.  Abian berdiri dengan stop watch yang ada di tangannya. "Kalian hanya punya waktu 60 menit untuk itu, dan dimulai dari hitungan 1 sampai 3," jelas Abian. "1!"  "2!" "3! Mulai!" teriak Dina. Mega dengan santainya mengambil kertas itu dan mulai menuliskan sesuatu, sedangkan Rumi sibuk dengan hiasan yang akan dia tempel dan Ilham menyiapkan semuanya yang akan dipakai. Mega dengan santai dan tulisan indahnya mulai menulis di atas kertas kecil. Dengan tema Film, mereka akan mulai menulis tentang artikel film itu; profil sutradara dan isi dari film Indonesia yang ditulis langsung oleh Mega.  Ilham mengeluarkan cat dan juga pewarna. Dan mengeluarkan kertas berwarna. "Kamu gunting huruf yang udah Mega tulis ini," perintah Rumi. Sama halnya dengan kelompok lain, semuanya sibuk dengan Mading mereka masing-masing. Di semua kelompok ada salah satu orang yang paling berpengalaman, dan di kelompok 4 yang paling berpengalaman adalah Rumi.  "Kalau hasilnya enggak sesuai dengan ekspektasi, nggak apa-apa kan Rumi?" tanya Mega dengan hati-hati. Rumi menatap Mega. "Soal hasilnya kita lihat sebentar, kalau memang hanya segini atau segitu itu sudah sesuai dengan kemampuan kita kan?"  Mega menatap lama Rumi, lalu tersenyum. Ini jawaban yang diinginkan Mega, dia terlalu sering mendengarkan kata perintah yang harus dilakukan sesuai dengan kemauan orang yang memerintah. Dan Mega terlalu salah menilai Rumi hanya karena dia berteman dengan Jia. Mega seharusnya tak menyamakan orang yang pernah menyakiti dengan teman orang yang jahat.  Mega kembali menulis. Rumi menempel dan Ilham mewarnai dan juga menggunting. "30 menit lagi," ujar Fikri. Rumi tersenyum senang saat semuanya sudah ditulis, dan dia puas dengan tulisan Mega yang sangat indah. "Cantik, baru kali ini gue lihat tulisan secantik ini dan sesuai dengan font yang diperintahkan," ujar Rumi. Mega menaikkan kedua alisnya, lalu terkekeh. "Makasih atas pujiannya," ujarnya pelan lalu kembali menulis akhir kata. "Kayaknya lo yang bakal dipilih deh," ujar Rumi lagi. Mega tak mendengar dia sibuk dengan tulisannya. "Ilham, ini udah pas. Enggak usah dikasih warna lagi." 20 menit setelah 30 menit berlalu, artinya sudah 50 menit mengerjakan kelompok 4 sudah mengangkat tangannya tandanya mereka sudah selesai. "Oke kelompok 4 silahkan Rumi antarkan ke sini," ujar Dina mengarahkan. Mega menatap Rumi yang berjalan menuju Dina membicarakan beberapa hal yang tak terdengar di sana. Sepertinya Dina sedang bertanya-tanya dan Rumi menjawab sesuai dengan yang ada. 10 menit berlalu semuanya mengumpulkan hasil mereka. "Kami akan menginformasikan siapa yang akan mewakili sekolah dengan pernyataan dari ketua kelompok, dan hari ini semuanya sudah selesai," ujar Abian. **** Mega berjalan santai, melewati ruangan eskul musik. Dia melirik sekilas namun tidak ada celah untuk melihat, tapi eskul tetap berjalan, kenapa Bagas bilang eskul-nya tidak jadi? Mungkin Bagas ada kepentingan lain.  Mega berjalan menuju gerbang sekolah, dia melirik ke sana kemari tidak ada apa-apa. Dirinya harus pulang naik apa? Dia juga sudah tak punya ongkos lagi, sudah dia habiskan untuk membeli bahan-bahan.  Mega menghela napasnya pelan, lalu berjalan keluar dari sekolah. Klakson motor membuat gadis itu menyingkir dari tengah ke pinggir, melihat seorang pria dengan motornya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD