Mega menyimpan tasnya, lalu mengedarkan pandangannya sekejap lalu menghela napasnya pelan. "Bagas," panggilnya pelan.
Bagas menoleh.
"Mending kamu duduk di samping aku deh, udah 1 tahun ini aku enggak ada teman duduk, kamu tau kan saat Jihan pindah sekolah?" tanya Mega.
Bagas terdiam sesaat, di kelas ini memang banyak sih yang duduk cewek dan cowok. Namun, Bagas tak pernah berani meminta untuk duduk di samping Mega karena nanti gosip awal yang pernah dia dengar kembali terdengar. "Gimana, Gas? Mau enggak?" tanya Mega.
"Yaudah." Bagas berjalan ke depan lalu menyimpan tasnya dan duduk di samping Mega. Mega tersenyum sekilas lalu kembali duduk.
Jihan, Mega rindu dengan sosok itu. Lama kelamaan Mega memang harus terbuka sama seperti Mega terbuka dengan Jihan, hari patah hatinya Mega adalah saat Jihan dikabarkan pindah sekolah. Dan itu yang membuat Mega jadi sedih dan tak terbuka kepada siapa pun. Hingga Bagas hadir, kehadirannya memang sama seperti Jihan.
Jihan orangnya berani, sama seperti Bagas. Mega rindu dengan Jihan, itu saja. Entah apa alasan kenapa Jihan pindah sekolah yang dia tau adalah nomor Jihan sudah diganti, semua akun sosial medianya mati. Mega jadi putus asa untuk berteman lagi.
"Lo rindu sama Jihan ya?" tanya Bagas.
Mega menoleh tak menjawab apa pun.
Bagas tak tau harus mengatakan apa lagi.
"Iya, aku rindu. Aku enggak tau dia di mana sekarang," ujar Mega.
"Dia sahabat aku yang paling aku percaya, setelah dia pergi ... jadinya gini deh," jawab Mega seadanya.
"Dia pasti bakal kembali kok, lo tenang aja. Kalau bukan sekarang mungkin nanti bakal ketemu," ujar Bagas.
"Ucapan kamu cukup membuat aku jadi tenang, walau aku tau itu hanya 5 persen kemungkinan."
"Janji memang hal yang bisa membuat orang tenang," ujar Bagas.
****
Pelajaran selesai dengan baik, Mega menulis semua rumus dengan rapi agar mudah dipelajari besok atau lusa. Jam istirahat Mega isi ke kantin sekaligus ke perpustakaan seperti biasa, lalu bertemu dengan Rumi dan juga Ilham beberapa menit untuk memperbincangkan kembali apa yang akan mereka lakukan sepulang sekolah.
Kini gadis itu duduk di taman dengan buku yang ada di pangkuannya, mengingat-ingat beberapa kenangan yang cukup berharga sebelum kehidupannya menjadi seperti ini.
Dimulai dari keberadaan Neneknya, Mega hidup dengan baik dan tenang karena adanya Divia di sisinya. Rinai tak mungkin seberani sekarang jika Divia ada, Mega sangat berharap Neneknya datang menjemput ke Surga yang jauh dari sini. Mega lelah jika harus bertahan di keluarga yang seperti ini. Namun, Mega sering bermimpi dia bertemu dengan Neneknya dan terus memberikan semangat belajar dan juga semangat untuk meluluhkan hati ayah dan ibunya.
Ah tapi apa daya Mega? Hati ayah dan ibunya itu terlalu keras seperti batu, ralat! Seperti besi yang sangat berat dan susah untuk diangkat. Batu mungkin masih mending, ia akan retak jika ditetesi air terus menerus. Tapi Besi? Mungkin hanya akan berkarat, seperti sekarang, Mega yang berusaha tak mungkin memuaskan keduanya karena semakin ke sini mereka semakin berkarat! Berkarat hatinya.
"Kalau mau ngelamun mending jangan di sini, ini tempat tidur gue," celetuk seseorang membuat Mega menoleh.
Tak ada siapa pun. Mega berdiri lalu menoleh ke belakang pohon besar di belakang tempat duduk taman ini. Mega menghela napasnya pelan saat melihat Satya selonjoran dengan napas yang teratur dengan mata tertutup di bawah pohon ini. "Kerjaannya tidur mulu, gimana otak bisa jalan kalau gini," ujar Mega.
"Otak emang enggak jalan, emang otak bisa jalan?" tanyanya lalu memperbaiki posisinya menjadi duduk.
"Terserah, ngomong sama orang kek kamu itu buang-buang waktu banget," ujar Mega.
"Makanya ajarin," ujar Satya.
"Biar waktunya enggak sia-sia bareng gue. Biar ada manfaatnya sama gue," ujarnya lagi.
"Kalau kamu mau diajarin, datang ke rumah. Suruh adek aku, namanya Lintang. Dia juga baik, lebih baik daripada aku," ujar Mega.
"Gue maunya lo."
"Dia enggak asik."
"Enggak asik buat diusik," jawab Satya lagi.
Mega menggeleng pelan lalu pergi meninggalkan taman itu, kembali ke kelas karena mungkin sebentar lagi pelajaran terakhir akan dimulai. Mega berjalan di sepanjang koridor kelas, melewati kantor ruang guru untuk sampai di kelasnya. Dia melirik sekilas ke ruang guru, matanya menatap seseorang yang tak asing lagi untuk dilihat.
Dia Adhitiya, Papanya.
Kenapa lagi? Kenapa lagi dia harus datang ke sini? Mega harap Papanya hanya ingin bertemu dengan Lintang bukan dirinya, toh? Mereka juga seasing apa di rumah? Mega enggak makan aja mereka tidak ada yang peduli. Rasanya Mega ngambek gini mereka tak akan luluh, Mega tak mengharapkan ini.
Kalau boleh jujur, dia mengharapkan ibunya datang dan membelai dirinya dengan lembut mengajak dirinya makan, dan tak membahas Prestasi yang menurun, melainkan terus membahas apa yang Mega sudah capai sampai saat ini. Namun ....
Sekali lagi.
Ini hanya khayalan semata dari Mega, mungkin sampai dia jenjang SMA pun akan seperti ini. Mega tak mau ambil pusing langkahnya dia percepat ke kelas.
"Disampaikan kepada anak Mading untuk ke ruangannya, ini perintah dari kepala sekolah."
Mega berhenti di depan kelasnya, sekarang? Ah! Mega melirik ke arah mejanya ada Bagas di sana. Mega berlari masuk dan memasukkan bukunya ke dalam tas. "Aku mau ke ruang Mading ya, kita ketemu selesai ini!" ujar Mega.
"Eh," cegah Bagas.
Mega berhenti.
"Kenapa?" tanyanya.
"Kayaknya kita enggak bisa pulang bareng deh," ujar Bagas.
Mega menatap dalam Bagas. Seolah bertanya kenapa?
"Aku engga jadi eskul musiknya, katanya lo bakal lama kan?" tanya Bagas.
Oh, batin Mega. Gadis itu langsung tersenyum. "Oke! Kalau gitu see you besok ya, aku duluan," ujar Mega.
"Tolong izinin ke ibu guru ya."
"Meg!" panggil Bunga sebelum gadis itu melangkah dari mejanya.
"Kita bareng ya, aku juga anak mading."
Mega langsung mengangguk. Bunga melirik sekilas Bagas lalu berjalan bersama dengan Mega. Pikiran Mega hampir saja traveling soal kenapa Bagas memilih untuk membatalkan acara pulang bersama, dan kebetulan sekali Papanya juga ada di sini.
Ternyata pikirannya memang yang membuat dirinya takut. Memang ya, yang paling jahat adalah pikiran sendiri. Mega dan Bunga masuk ke dalam ruangan, sudah ada beberapa orang dan tempat perkelompok juga sudah diatur dengan baik.
"Mega!" panggil Rumi.
Mega menoleh, terdiam sesaat. Rumi memanggilnya? Baik sekali ya? Tumben juga.
"Bunga, aku duluan ke sana ya," ujar Mega.
"Oh iya."
Setelah mendapatkan respon, Mega langsung berjalan ke meja kelompok empat di sana sudah ada Ilham dengan bukunya dan Rumi dengan ponselnya. Mega menyimpan tas selempangnya di meja, duduk lalu melirik sekilas ke arah Rumi. Namun, matanya seolah ingin terus menatap Rumi.
Dia menatapnya lama, hingga Rumi pun menoleh ke arah Mega. "Kenapa?" tanyanya.
"Em ...." Mega mengalihkan pandangannya.
"Enggak apa-apa," jawab Mega. ReplyForward