Bab 19

1055 Words
Mega tak pernah keluar dari kamar, dia mengunci diri di dalam kamar sepanjang hari, itupun jika ada yang mengetuk dan memberitahu kalau dia adalah pelayan. Kalau bukan, Mega pura-pura tidur atau menebalkan telinganya. Tak mau berdebat untuk sekarang karena dirinya benar-benar lelah, bebas sementara itu mungkin tak akan membuat dirinya mati. Mega memainkan handphonenya, bodoamat dengan sistem CCTV yang ada. Mega hanya perlu chatan dengan anak eskul mading selebihnya tidak ada. Lagian Mega bukan tipe anak yang aktif bersosial media seperti Lintang.  Malam itu, Mega benar-benar bebas karena orang tuanya tak berkomentar apa pun untuk dirinya. Mega tidur dengan nyenyak tanpa belajar terlebih dahulu, pikirannya dibiarkan tenang dan larut dengan sunyinya malam. Gadis itu terbangun di jam 4 subuh, mengecek bukunya sambil menunggu waktu sholat tiba.  **** Mega berjalan turun ke bawah dengan tas selempang yang selalu dia gunakan, gadis itu melirik sekilas meja makan di sana ada Rinai, Lintang dan juga Adhitiya sedang asyik mengobrol tak lepas dari tawa Lintang di sana. Mega meremas rok span-nya lalu menghela napasnya pelan, ternyata selain tak memperdulikan mereka juga ingin bebas dari Mega? Hm. Mega tak mau ambil pusing lalu pergi begitu saja tanpa pamit. Gadis itu mencari motornya ke sana kemari, namun tidak ada. Beralih ke mobil, namun sama saja. Di sini hanya ada mobil Adhitiya dan juga mobil Rinai. "Pak Ujang, ini mobil Mega di mana ya? Motor juga?" tanya Mega. Pak Ujang menatap sekitar lalu kembali menatap Mega. "Oh itu non, bapak juga enggak tau. Karena Nyonya Rinai enggak bilang apa-apa," ujar Pak Ujang. Mega mendesah pelan.  "Non mau ke sekolah? Biar bapak antar," ujar Pak Ujang menawari. Mega terdiam sesaat lalu mengangguk. "Boleh pak." Pak Ujang lalu mengangguk dan pergi menuju mobil. Mega menunggu di depan, gadis itu masuk ke dalam mobil. Pak Ujang langsung melajukan mobilnya menuju sekolah. "Pak, lewat jalan kiri ya," ujar Mega. Pak Ujang mengangguk mematuhi. Mega menatap jalanan.  "Nah, stop!" ujar Mega. Gadis itu langsung turun dari mobil tanpa basa basi. Gadis itu berlari masuk ke dalam rumah Bagas. Dan mengetuknya pelan.  "Non? Gimana?" tanya Pak Ujang. Tak lama pintu terbuka menampakkan Bagas yang sudah siap dengan seragamnya hanya tinggal memakai sepatu saja. Mega menoleh. "Bapak pulang aja! Aku mau bareng sama Bagas!" ujar Mega. "Tapi nanti nyonya Rinai marah, non?" tanya Pak Ujang. "Enggak usah ditanya, aku pergi sama siapa. Pak Ujang bilang aja bapak yang anterin Mega sampai sekolah," ujar Mega. Pak Ujang terdiam sesaat.  Mega menatapnya sambil tersenyum, lalu pak Ujang mengangguk dia kembali ke mobil dan melajukannya menuju rumah. Mega menatap Bagas kembali. "Bareng lagi boleh kan?" tanya Mega. Bagas mengangguk. "Boleh, btw gue sarapan. Lo enggak mau ikut?" tanya Bagas. Mega menggeleng.  Bagas menghela napasnya pelan. "Udahlah, gue tau lo enggak sarapan di rumah. Ada nenek juga di dalam," ujar Bagas. Mega terdiam sebentar lalu mengangguk. Dia mengikuti Bagas masuk ke dalam, melihat wanita dengan kisaran umur yang memang sudah tua. Mega menatap beberapa foto di sepanjang ruang tamu, Bagas dan keluarganya yang harmonis. Wajar saja jika anak ini terlahir walau sederhana mempunyai kepintaran dan sopan santun yang baik. Pasti keluarganya juga baik-baik. "Eh siapa?" tanya wanita tua itu yang sering dipanggil Maya.  "Ini Mega, teman Bagas, Nek." "Oh ini to, yang sering kamu ceritain ke nenek?" tanya Maya membuat Bagas menggaruk tengkuknya sambil melirik Mega yang juga sedang menatapnya. Mega terkekeh geli. "Iya, Nek saya Savana Mega Shyam. Anak dari Adhitiya Shyam, rumah saya enggak jauh kok dari sini," ujar Mega lalu menyalami Maya.  Mereka bertiga duduk dengan makan pagi bersama, dengan cerita Maya yang cukup banyak dan Mega hanya mendengarkan. "Kamu ini anaknya Adhitiya ternyata ya," ujar Maya. Mega mengangguk. "Kenapa Nek?"  Maya terdiam, lalu mengambil air minum, meneguknya pelan. "Kalian habiskan ya, nanti Nenek tunggu di ruang tamu," ujar Maya lalu berjalan pelan ke arah ruang tamu. Mega menatap Bagas dengan tatapan tidak enak. "Aku salah tanya kali ya?" tanya Mega. Bagas menggeleng lalu tersenyum. "Enggak kok, nenek emang gitu kayaknya mau cerita banyak lagi. Lo makan aja lagi," ujar Bagas.  **** Mega dan Bagas sudah selesai sarapan keduanya berjalan ke arah ruang tamu, di sana ada Maya yang duduk dengan kain sulam-nya serta alat pemintal. Mega duduk di samping Maya menatap beberapa topi kupluk yang sudah Maya buat. Mega meraihnya satu. "Ini nenek sendiri yang buat?" tanya Mega. Maya mengangguk. "Iya, kamu mau?"  Mega menoleh dengan mata berbinar. "Boleh Nek? Berapa harganya, Nek?" "Untuk kamu gratis, jarang-jarang Bagas bawa teman ke rumah. Bahkan engga pernah, kamu yang pertama jadi Nenek kasih sebagai hadiah ya," ujar Maya. Mega menatap Bagas tak percaya, masa ia? Dia tak pernah membawa teman atau salah satunya ke sini? Mega yang pertama dong? Dan ini hal yang paling baik yang Mega dengar. Mega menatap topi kupluk berwarna merah itu, senyumnya tak pudar sampai situ.  "Makasih, Nek." Entah kenapa Mega malah menangis.  Bagas bingung. Sedangkan Maya langsung membawa Mega masuk ke dalam pelukannya. Mega semakin terisak. Maya mengisyaratkan Bagas untuk keluar dulu. Bagas yang tak tahu menahu langsung pergi meninggalkan keduanya. Maya melepas pelukannya lalu menatap Mega dengan lembut. "Kamu kenapa, sayang?" tanya Maya lembut. Mega menggeleng sambil terisak.  "Mega enggak pernah dapetin hal tanpa bayaran," ujarnya lalu diiringi kekehan di akhir. "Terakhir sama halnya dengan Nenek, Oma aku juga pernah ngasih jaket hasil jahitannya sendiri, Mega jadi keinget Oma kalau kayak gini," jelasnya. "Maksud kamu tanpa bayaran gimana?" "Mega harus belajar dengan baik dulu, baru bisa dapatin hal kayak gini, Nek." "Nama Oma kamu, Divia bukan?" tanya Maya. Mega mendongak, menghapus sisa air matanya. "Nenek tau?"  Maya mengangguk, dia mengusap-usap punggung Mega. "Kamu ke sekolah bareng Bagas kan? Kamu hati-hati ya."  *** Tak ada percakapan yang asyik antara keduanya, selepas dari keluarnya Mega dari rumah. Bagas hanya menatap gadis itu dengan bingung, bingung juga harus membahas apa kalau Mega seperti ini, karena jarang sekali dia melihat Mega menangis apalagi hal sekecil ini. "Aku kapan-kapan bisa ke rumah kamu lagi enggak?" tanya Mega menghilang keheningan. Bagas mengangguk antusias. "Kapan aja boleh, Mah. Jangan sungkan, sok kalau mau mampir," ujar Bagas. Mega tertawa, mendengar logat bahasa Bagas.  "Makasih." "Btw, aku mau ngumpul buat beli bahan mading jadi kemungkinan besar aku pulangnya lebih lama lagi, jadi kamu boleh pulang dulu," ujar Mega. "Enggak apa-apa, gue juga ada eskul musik kok. Jadi mungkin pulangnya barengan," ujar Bagas. Mega mengangguk, entah kenapa dia bisa mendapatkan teman sebaik Bagas ini.  ReplyForward
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD