Sore itu, semua anak mading kembali berkumpul. Mega dengan senang hati turut hadir dalam perkumpulan itu, toh dengan ini dirinya bisa jauh dengan keluarganya yang kejam dan tak punya hati itu. Mega rasanya pengen berteriak dan mengeluarkan keluh kesahnya, dan dengan cara ikut ekskul ini mungkin dirinya bisa jauh lebih baik.
"Ada lomba yang akan diadakan, dan sekolah kita akan ikut serta," ujar Dina dengan semangat.
"Kapan, kalau boleh tau, Kak?" tanya salah satu anak baru.
"Sebulan lagi sih, dan ini kita mau cari orang yang pas untuk ikut dalam tim yang akan mengikuti lomba itu. Sebelum itu aku akan kirim file materi tentang segala macam mading," ujar Dina.
"Aku kirim di grup anak mading ya, karena semuanya sudah masuk. Kalian tinggal pelajari itu, dan selengkapnya mengenai lomba akan dibicarakan di sini supaya jauh lebih nyaman," ujar Dina lagi.
Fikri menyimpan bukunya lalu berdiri di depan anak-anak mading. "Kami akan menyeleksi dan membagi kalian menjadi beberapa tim, karena di sini anaknya cuman 30 doang, jadi setiap tim itu ada 3 orang. Total ada 10 tim, dan untuk saya; Abian dan Dina akan melihat kinerja kalian karena proses pembuatan mading yang akan kalian buat itu di sini, tepat hari Sabtu."
"Berhubung ini hari Kamis, semua nama-nama sudah kami siapkan. Yang turun lomba akan kita lihat siapa, karena Dina tidak bisa ikut, jadi akan kita ambil dari orang-orang baru maupun lama," ujar Fikri.
Dina mulai membacakan nama-nama setiap kelompok.
"Kelompok 4 yaitu Rumi, Mega dan juga Ilham," ujar Dina membuat Mega mendongak.
Dirinya akan susah jika dipasangkan dengan Rumi, Mega sudah merasakan ada hal tidak baik yang akan menanti dirinya. Ilham adalah anak kelas 8, yang sebentar lagi akan duduk di bangku kelas 9, dia seangkatan dengan adiknya Mega, yaitu Lintang.
"Baik itu ya, kalian boleh masing-masing ketemu dengan anggota tim kalian."
"Temanya adalah; Film. Kalian harus membuat mading dengan tema Film," ujar Rifki.
Mega berjalan ke arah Rumi dan Ilham, dia menyimpan tasnya lalu duduk di samping kanan Rumi. "Ini namanya Savana Mega, lo kenalkan sama dia?" tanya Rumi kepada Ilham. Ilham menatap Mega sesaat kemudian mengangguk.
"Kenal, kakaknya Lintang, kan?" tanya Ilham membuat Mega mengangguk. Ternyata adiknya terkenal juga di SMP ini.
"Dananya dari pribadi, enggak ada dari pihak ekskul Mading ini. Karena bukan lomba yang diajukan oleh sekolah," ujar Rumi.
"Kita buat yang simpel aja yang penting bagus dan kreatif," ujar Ilham.
Mega bingung harus berbicara apa, malas dan ribet menurutnya. Kenapa seleksinya tidak dengan cara langsung saja? Dites satu persatu. Mega takut dengan adanya kelompok ini dirinya tak bisa seaktif apa yang diharapkan karena dirinya sadar; orang tuanya tak bisa mendukung hal-hal seperti ini.
"Kita bakal beli bahannya kapan?" tanya Rumi.
"Beli bahannya mau sama-sama atau salah satu dari kita aja? Dan yang lainnya cuman kumpul uang aja?" tanya Ilham.
"Lebih baik beli bahan sama-sama aja gimana? Biar sama-sama puas dengan hasil pembelian kita kan?"
"Gimana setuju enggak?" tanya Rumi.
Ilham dan Mega mengangguk setuju. "Oke kita ketemu toko serba ada di dekat sekolah ini, besok sesudah pulang sekolah," ujar Rumi final.
****
Mega berjalan keluar dari sekolah. "Udah?" Seseorang mengejutkan dirinya, gadis itu menoleh.
"Bagas kamu belum pulang?" tanya Mega.
"Hum, buktinya gue ada di sini."
"Kenapa kok belum pulang? Ini udah jam 5 sore loh, entar nenek kamu nyariin lagi," ujar Mega.
"Pergi bareng lo, pulang juga bareng lo. Biar imbang, naik gih." Bagas mengisyaratkan Mega naik ke belakang.
"MEGA!"
Mega yang baru saja mau naik ke belakang terkejut dan memutar tubuhnya menoleh ke belakang. "Mama?"
"Kamu kenapa harus pulang sama dia? Kamu bisa telfon Mama buat jemput kamu," ujar Rinai menarik Mega menjauh dari Bagas.
Mega melepas cekalan tangan ibunya lalu menggeleng. "Aku pengen pulang bareng dia, lebih ikhlas dan tentram daripada sama kalian yang bisanya cuman marahin Mega doang," ujar Mega.
"Mega! Kamu-"
"Apa? Mama mau bilang kalau sekarang Mega berubah karena Bagas berteman sama Mega? Mama salah, Mega berubah juga karena perlakuan kalian ke Mega itu enggak tanggung-tanggung," ujar Mega kembali mendekati Bagas.
"Kamu!" Rinai menujuk Bagas.
"Jauhi anak saya kalau kamu mau hidup tenang!" ujar Rinai. Setelah mengucapkan itu Rinai pergi meninggalkan keduanya. Mega menghela napasnya pelan, ini pertama kalinya dia berani melawan dan berbicara seperti itu kepada Ibunya. Sekali-kali mungkin perlahan mereka akan sadar dengan apa yang mereka lakuin ke Mega.
Bagas menatap Mega yang termenung, Bagas lalu tersenyum dan berkata, "Jadi kan pulang barengnya?" tanya Bagas.
Mega menoleh dengan raut wajah sedih. "Maafin Mama aku ya, dia emang gitu orangnya," ujar Mega.
Bagas mengangguk. "Santai aja, naik gih keburu Maghrib," ujar Bagas.
Mega naik ke belakang, Bagas melajukan sepedanya meninggalkan sekolah. Di perjalanan tidak ada percakapan yang menarik untuk keduanya, karena Mega yang tak enak hati kepada Bagas soal tadi dan Bagas yang lebih fokus dengan melajukan sepedanya karena memang lagi di pinggir trotoar jalanan jadi memang harus fokus takut ada mobil atau motor lawan arus.
15 menit mereka sudah sampai di depan rumah Mega. Mega menatap rumahnya lalu menoleh kembali ke Bagas. "Aku mau bilang makasih dan maaf. Makasih karena udah mau nganterin, dan maaf karena soal tadi," ujar Mega.
"Santai aja, kalau ada apa-apa lo bisa cerita ke gue. Gue bakal dengerin dan kasih saran kalau emang perlu," ujar Bagas.
Bagas memperbaiki posisinya. "Yaudah gue duluan ya, udah mau larut sore. Nenek nunggu pasti. Btw besok mau bareng lagi enggak?"
Mega berpikir sejenak. "Hm, kayaknya enggak. Kita ketemu di sekolah aja," ujar Mega.
Bagas tersenyum lalu mengangguk dan pergi meninggalkan pekarangan rumah Mega. "Bukannya enggak mau, tapi anceman Mama ataupun Papa enggak ada yang main-main," gumam Mega merasa khawatir dengan Bagas.
Padahal anak polos dan baik itu tidak pernah ada niatan jahat kepada dirinya, Mega tak terima jika Bagas dijelek-jelekkan oleh keluarganya, alasannya karena Bagas adalah tempat dia mengadu dan dia adalah orang yang bertahan akan persahabatan ini.
Mega berjalan masuk ke dalam rumahnya, sepi tidak ada siapa pun di sini. Bahkan satpam saja tidak ada, mungkin dia sedang di toilet. Dan pelayannya bekerja di dalam. Mega masuk dan melirik sekilas ada Lintang di ruang tamu dengan laptop di depannya, seperti biasa gadis itu menonton drama. Enak sekali, sedangkan dirinya? Main laptop? Hanya untuk belajar! Belajar dan belajar saja.
Mega iri, dia akui.
Karena memang seperti itu, sampai kapan sikap irinya ini akan ada? Mungkin selamanya selagi ayah dan ibunya itu pilih kasih terhadap dirinya.