Bab 17

1036 Words
"PAPA ENGGAK MAU YA KAMU DEKAT-DEKAT SAMA ANAK ITU LAGI!" bentak Adhitiya tepat di depan Mega.  Mega baru saja selesai makan langsung ditarik keluar ke ruangan ayahnya. "Ternyata gara-gara Bagas kamu jadi anak yang kayak gini, Mama kamu pernah bilang tapi Papa enggak percaya kamu dekat dengan anak laki-laki apalagi tidak berkasta seperti itu!" ujar Adhitiya. Mega menggeleng. "Papa jangan ambil kesimpulan kayak gitu tentang Bagas! Mega enggak suka ya kalau Papa selalu aja bahas Bagas kalau ada hal yang buruk yang Mega lakuin." "Kamu berani bilang kayak gitu sama Papa?"  Adhitiya ingin melayangkan satu tamparan namun dia berhenti. Mega menatap Papanya dengan lekat, air matanya tak bisa tertahan. "Kenapa? Kenapa berhenti, Pa?" "Papa kenapa enggak sekalian aja bunuh Mega kalau itu yang bikin kalian semua puas dengan Mega!"  "MEGA!" Suara itu membuat Mega menoleh di pandangannya terdapat Rinai dengan Lintang.  "Apa yang bisa kami banggakan dengan kamu? Kamu tidak bisa seperti Lintang yang punya bakat yang bisa diterapkan untuk masa depannya," ujar Rinai.  "Kamu mau sampai kapan kayak gini? Kamu dulu enggak gini, Mega. Kenapa sekarang jadi kayak gin?!" Rinai mengguncangkan tubuh Mega.  Mega terisak. "Jawab!" bentak Rinai. Mega menghempaskan tangan Ibunya. "Karena Mega udah paham semuanya! Karena Mega capek harus dituntut jadi anak yang hebat di mata kalian, kalian enggak akan pernah puas walau Mega udah menjadi juara kelas, selalu mendapatkan poin A di setiap mata pelajaran!" ujar Mega dengan teriakan. Adhitiya menarik tangan Mega meninggalkan ruangan, mengambil sapu dan memukulkannya kepada Mega berulang kali. Mega tak membantah, dia hanya menerimanya walau itu sangatlah sakit. "Papa jahat," ujarnya pelan membuat Adhitiya memberhentikan pergerakannya.  "Kalian semua jahat, suka pukulin Mega kayak gini, kalian anggap Mega itu apa?" tanya Mega dengan mata yang sembab, air matanya juga sudah tidak keluar lagi.  **** Mega duduk diam di pojok kamar, sambil memeluk lututnya seolah kedinginan dengan suhu di rumah ini. Mega menatap lantai yang tak ada gunanya itu, Mega melepas gelang yang dia kenakan. Melihat luka di bagian kakinya. "Sakit," gumam Mega.  Sampai kapan dia harus hidup di tempat ini? Sampai kapan dia harus merasakan sakit ini? Apakah yang harus Mega lakuin agar semuanya terlihat baik-baik saja? Bagaimana caranya agar Mega bisa membuat keluarganya puas dengan apa yang dia dapatkan? Mega bahkan tak boleh punya teman.  "AH!!!" Mega menghempaskan barang-barang di depannya. Mega capek! Dia hanya butuh istirahat untuk selama-lamanya! **** Pagi itu Mega langsung pergi tanpa berpamitan kepada orang tuanya, dia juga berjalan kaki. Langkahnya entah kenapa hanya tertuju kepada satu rumah yang minimalis itu. Mega berdiri lama di depan rumah ini, lalu tak lama muncul seorang anak laki-laki dengan baju yang sama dengannya. Dia menoleh lalu terkejut melihat kedatangan Mega. "Mega? Kok?" tanyanya bingung. Mega mengusap wajahnya lalu tersenyum. "Iya? Pagi Bagas!" ujarnya. "Pagi ... kok kamu di sini? Enggak langsung ke sekolah? Kamu ke sini naik apa?" Bagas celingak-celinguk melihat daerah sekitar.  "Enggak. Aku jalan ke sini, aku mau bareng sama kamu boleh kan?" tanya Mega.  Bagas terdiam lama menatap Mega, lalu mengangguk tersenyum. "Tapi gue cuman naik sepeda," ujar Bagas menatap sepeda pemberian ayahnya dahulu.  Mega mengangguk dengan semangat. "Enggak apa-apa." Bagas cukup heran, namun dia lepas rasa herannya itu dengan terus berpikir positif mungkin Mega memang ingin melakukan hal yang baru. Sepanjang perjalanan mereka terus mengobrol hal yang biasa mereka lakukan, jaman-jaman SMP saling boncengan menuju sekolah akhirnya Mega rasakan walau untuk pertama kalinya.  "Bagas, kamu capek enggak?" tanya Mega. "Hm, lo berat," jawabnya. "Hah? Beneran? Yaudah aku turun aja deh, aku jalan aja ya?" tanyanya.  "Enggak. Gue bercanda doang, lo enggak berat-berat amat sih, lagian gue orangnya kan kuat," ujar Bagas. Mega mencibir pelan lalu tertawa. "Bagas." "Hm?" "Capek enggak temenan sama aku?" "Capek kenapa?" tanya Bagas. Mega terdiam lama, setelah itu tak ada lagi pembahasan yang menarik untuk mereka berdua karena mereka sudah sampai di sekolah. Bagas memarkirkan sepedanya di tempat parkir sepeda, di sekolah ini lumayan banyak yang pakai sepeda untuk ke sekolah, mungkin sebelas dua belas dengan Bagas. **** "Karena sebentar lagi kalian akan ujian, maka ibu akan memberikan kalian kisi-kisi saja untuk saat ini ya, kalian harus belajar dengan baik-baik karena beberapa bulan lagi kalian akan melaksanakan ujian nasional," ujar Ibu Tuti. Mega mulai mencatat kisi-kisi yang dibacakan oleh Ibu Tuti, dia hanya fokus dengan pelajarannya pagi ini dengan semangat. Sesekali dia menoleh ke arah Bagas yang juga sibuk dengan tulisannya.  Setelah 30 menit, Ibu Tuti selesai dengan dikte-nya. Gadis itu menutup bukunya lalu bersandar ke kursinya. "Permisi." Semua siswa menoleh termasuk Mega.  "Iya, silahkan masuk," ujar Ibu Tuti. "Saya ingin bertemu dengan putri saya, Mega." Mega mengalihkan pandangannya, padahal dirinya ingin sedikit menjaga jarak kepada ibu dan ayahnya, sampai lukanya kembali mengering. Walau di dalam hatinya, masih ada luka yang sangat basah yang tak kunjung kering. "Baik, Savana Mega. Kamu boleh keluar dulu," ujar Bu Tuti. Mega terdiam sesaat lalu berjalan mengiringi ibunya. Rinai menarik Mega untuk sedikit menjauh dari kelas. "Kamu kenapa tadi pagi pergi enggak bilang-bilang?" tanya Rinai. Mega terdiam. "Kamu pergi sama siapa?" tanya Rinai lagi. Mega mendongak. "Mama emang peduli sama Mega? Apa peduli Mama kepada Mega? Mega hampir mati pun dipukul sama Papa, Mama tetap diam." "Meg—" "Cukup, Ma. Mega perlu waktu untuk hal ini, karena sakitnya dipukul itu bukan hal main-main untuk Mega sekarang, Mega tau Mama bakal ngerti posisi Mega walau tanpa Mega kasih tau," ujar Mega. Mega meninggalkan Ibunya yang terdiam, Mega duduk di kursinya sambil terdiam sampai pelajaran selesai pun dia tak bergeming sama sekali. "Mega?"  "Kamu mau ngantin?" tawar Bagas. Mega menggeleng kecil.  "Beneran? Enggak laper emang?" tanya Bagas. "Enggak Bagas, kamu bisa pergi. Nanti aku nyusul kalau emang laper," ujar Mega. Bagas tak jadi ke kantin, dia duduk di samping Mega. "Ada apa?""Dari pagi kayak gini mulu," ujar Bagas. "Kalau ada apa-apa bisa kali dicerita, kan halal. Tapi kalau emang enggak mau yaudah, kapan aja mau curhat gue bakal dengerin," ujar Bagas. "Aku bakal curhat, kalau aku udah siap," ujar Mega. "Iya." Mega kembali larut dalam pikirannya, bahkan untuk belajar saja dia sudah tak seniat tadi pagi. Bertemu dengan ibu atau ayahnya memang membuat mood belajarnya jadi turun, ini yang mereka harapkan kepada dirinya? Menjadi anak yang pendiam, cuek dan selalu melamun? Berbeda sekali dengan Lintang yang selalu ceria, berbicara banyak, dan aktif bersosialisasi. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD