Mega masuk ke dalam perpustakaan, mencari buku tambahan untuk belajar, gadis itu menarik sebuah buku berwarna putih biru dengan judul 'matematika fisika' Mega duduk di salah satu meja di sana.
"Rata-rata yang hidupnya rumit itu suka hal yang rumit," ujar Bagas lalu duduk di samping Mega.
Mega menggeleng sekilas lalu fokus menatap ke depan.
"Itu kalau bukunya enggak dibaca mending enggak usah diambil," celetuk Bagas.
Mega menoleh lalu terkekeh. "Biar dibilang ada niatan ke sini, daripada enggak sama sekali," ujar Mega.
"Meg, tadi kenapa lambat ke sekolah?" tanya Bagas mengalihkan pembicaraan. Mega termenung, lalu menggeleng kecil gadis itu mengalihkan pandangannya tak lagi menatap Bagas.
"Gue bukan cewek yang bisa peka dengan cepat, gue juga bukan cowok yang bisa ngerti arti kode yang lo beri," ujar Bagas.
"Gue tau lo cuman mau dimengerti."
Mega hanya terdiam.
"Akhir-akhir ini lo emang keseringan ngelamun, jarang makan, dan enggak bersemangat setiap belajar. Gue cuman mau nanya, kenapa lo telat?"
"Aku kan udah jelasin ke Ibu Melati, kalau aku kesiangan," ujarnya.
"Bohong, mana mungkin lo kesiangan. Sedangkan orang tua lo nuntut lo buat bangun jam 3 subuh, itu yang lo bilang kesiangan?" tanya Bagas.
Mega terkejut, menoleh dengan garis wajah kaget. "Kok kamu bisa tau?"
Bagas terdiam tak menjawab pertanyaan Mega.
"Kenapa, Gas?"
"Kalau lo enggak bisa jawab pertanyaan gue, gue juga enggak bisa jawab pertanyaan lo," tutur Bagas. Mega menunduk tak mau lagi membahas ini jauh lebih dalam, jika membahas hal ini Mega merasakan tubuhnya langsung sakit seperti tersengat, mungkin karena hatinya sudah terlalu sakit.
Mega mau menghindari topik ini, jika bersama orang luar seperti Bagas, walau emang Bagas adalah orang yang paling Mega percaya. Namun, Mega harus tetap menjaga nama baik keluarganya sendiri, Mega harus bersikap layaknya seperti biasa saja.
"Sore ini anak mading disuruh kumpul, Abian yang bilang. Dia nyuruh gue sampein ke elo, dia awalnya minta nomor lo. Cuman gue enggak kasih," ujar Bagas.
Mega tersenyum, hal yang paling dia suka dari Bagas adalah tak pernah memberikan info pribadi dirinya kepada siapa pun tanpa izin dari Mega sendiri, kalau ditanya kenapa Mega senang. Karena dirinya sering dimarahi oleh Rinai jika saja ada nomor orang asing yang baru, dan Mega harus menjawab segala interogasi yang Rinai berikan kepadanya.
"Makasih ya, Bagas."
"Buat?"
"Karena kamu selalu ada, walau udah tau keluarga aku ini kayak gini. Kamu enggak pernah minder dan tetap mau jadi teman aku," ujar Mega.
"Gue akan selalu jadi yang pertama untuk pembelaan jika lo kena masalah, gue janji," jawabnya.
***
Sore itu Mega langsung ke ruangan Mading di sana sudah banyak sekali anak eskul Mading termasuk Bunga sendiri. Mega langsung masuk di barisan, karena kebetulan Rifki siap-siap untuk menjelaskan sesuatu hal.
"Ini udah semua?" tanya Rifki.
"Udah, kayaknya. Mega juga udah ada, langsung aja," ujar Dina.
"Oke, terimakasih untuk kalian yang sudah hadir sore ini di sini. Saya cuman mau kasih informasi untuk eskul ini, dan tentang wawancara kemarin, kami anggota tetap sudah memutuskan beberapa hal," ujar Rifki.
"Yang pertama adalah, kalian semuanya diterima menjadi anggota eskul di sini dengan syarat harus menandatangani surat peraturan yang berlaku di sini," jelas Rifki. Dina berdiri dan mulai membagikan selebaran kertas berisi peraturan dan larangan, di sana juga tersedia untuk tanda tangan siswa.
Mega melihat beberapa peraturan lalu kembali fokus ke depan.
"Kalian tanda tangan sekarang dan kumpulkan kepada Dina kembali," ujar Rifki.
Mega mengambil pulpen di tasnya lalu menadatangani kertas tersebut, dia lalu berjalan ke arah Dina dan memberikan kertas itu lalu kembali ke barisannya.
"Cukup ini saja, besok baru kita mulai kegiatan dan mohon kerjasamanya, kalian boleh pulang," ujar Rifki.
Mega menghela napasnya pelan, dia akan pulang lagi ke rumahnya tempat yang paling melelahkan di dunia ini adalah rumahnya sendiri. Mega yang baru saja ingin pergi tertahan karena panggilan dari Rifki.
Mega menoleh.
"Boleh bicara sebentar?" tanya Rifki.
Mega mengangguk.
"Setelah hasil wawancara kemarin, cuman jawaban kamu yang paling berbeda dari yang lain. Dan saya salut akan hal itu, tapi sesuai dengan peraturan ini, kamu benar-benar harus mengikutinya sesuai dengan kemampuan yang kamu punya."
Mega terdiam, lalu mengangguk lagi, bingung harus mengatakan apa.
"Saya mau bertanya boleh?"
Mega mengangguk.
"Jika saja kamu tidak lulus di eskul ini, eskul apa yang akan kamu pilih setelahnya?" tanya Rifki.
Mega terdiam, lalu menggeleng. "Saya tidak tahu, karena pikiran saya hanya memilih satu saja yaitu mading. Dan menurut saya ini yang paling cocok untuk diri saya," ujar Mega.
Rifki tersenyum simpul lalu mengangguk. "Oke, udah itu aja silahkan pulang."
Mega langsung berlalu pergi meninggalkan orang-orang di sana. Yang mereka tau tentang Mega adalah tentang kepintaran dan juga kekayaan yang dia miliki, mereka engga tau kalau di balik kekayaan itu ada sebuah hal yang menyakitan dan di balik kepintarannya ada sebuah keterpaksaan yang tak mungkin Mega bagi kepada siapa pun.
Mega berdiri di pojok pagar, dia melirik jam tangannya sudah jam 5 sore, Lintang juga tak dia temui sejak datang ke sekolah, mungkin sekarang dia sudah pulang.
Mega menepuk keningnya. "Oh iya, aku lupa bawa motor!" ujarnya geleng-geleng kepala.
Mega keluar dari gerbang dan berjalan ke arah motornya yang terletak di dekat warung sate di sana. Mega mengambil kunci motornya dan mulai menyalakannya, gadis itu meninggalkan pekarangan sekolah.
****
Mega sampai di rumah, dia masuk ke dalam kamarnya. Sama seperti biasa, Mega hanya rutin belajar saja baik sebelum atau sesudah sekolah. Mega menyimpan tasnya lalu menoleh saat Bibi Asna datang membawakan s**u dan juga makanan.
"Non tadi ke sekolah? Non baik-baik aja sekarang?" tanya Bibi Asna.
Mega tersenyum lembut lalu mengangguk mengambil s**u itu lalu meminumnya.
"Aku baik-baik aja kok, Bi. Cuman tadi agak pusing sedikit, cuman aku udah makam di sekolah kok," ujar Mega.
"Tapi Non pasti belum makan nasi? Bibi bawain nasi padang nih," ujar Bibi Asna.
"Tapi jangan langsung makan, ya! Ganti baju dulu terus mandi takut Mamanya marah nanti."
Mega mengangguk lalu masuk ke dalam kamar mandi. Bibi Asna hanya bisa menatap anak tuanya itu dengan prihatin. Melihat wajah Mega dia selalu teringat dengan anaknya yang sudah meninggal. Ini alasan kenapa Bibi Asna dekat dengan Mega dibandingkan dengan Lintang.
Mega selesai dengan rutinitas membersihkan diri, gadis itu langsung melahap makanannya. Tubuhnya masih terasa sakit karena terlalu lama di dalam kamar mandi. Rinai ibunya bahkan tak perduli dengannya, Mega tak boleh selalu berpikir hal jelek tentang ibunya! Mega harus memikirkan hal yang baik-baik biar dapat hal baik juga!