Bab 15

1055 Words
Bagas mencari-cari keberadaan Mega, namun gadis itu tak muncul sedari tadi. Bahkan pelajaran pertama sudah berlalu, Bagas berjalan ke kelas Lintang, mencari informasi. Tumben sekali gadis itu tidak datang, biasanya walaupun dia sakit, dia tetap datang ke sekolah bagaimana pun caranya dan apa pun halangannya. "Lintang," panggil Bagas saat melihat Lintang yang baru saja keluar dari kelas. Lintang menoleh lalu tersenyum. "Ya ada apa, Kak?" tanya Lintang. "Mega di mana ya?" Raut wajah Lintang menurun lalu gadis itu menautkan kedua tangannya. "Hm, enggak tau," jawabnya. "Kok bisa? Kalian kan satu rumah, dia juga kakak lo." Lintang menatap teman-temannya mengisyaratkan untuk pergi. Teman-temannya itu mengangguk lalu pergi meninggalkan Lintang bersama dengan Bagas. "Kakak tau kan? Sedekat apa aku dengan Kak Mega? Enggak dekat sama sekali, bahkan di rumah sekalipun," ujar Lintang. "Jadi soal kabar dia, aku hanya bisa liat dia saat makan malam, sarapan atau hal-hal untuk berkumpul selebihnya tidak." "Tadi dia enggak bareng sama lo?" tanya Bagas lagi. Lintang menggeleng. "Enggak, Papa nyuruh aku buat pergi dulu. Kak Mega nanti nyusul," ujar Lintang. "Tapi dia enggak ada di pelajaran pertama. Dan enggak ada kabar sama sekali," ujar Bagas. "Oke deh, gue titip salam sama kakak lo. Kalau pun dia lagi sakit, suruh dia ngabarin gue ya!" ujar Bagas berlalu pergi meninggalkan Lintang yang terdiam. Lintang menghela napasnya pelan, enak jadi Mega ya? Diperhatikan sampai sebegitunya dengan Bagas, Lintang bahkan tak punya teman favorit seperti Bagas, wajahnya ini ternyata tidak menjamin dirinya dapat teman cowok yang bisa sebaik Bagas. Lintang terkadang heran, mereka terlalu dekat? Apakah mereka pacaran? Atau tidak? Lintang harus mencari tau! *** Mega merintih kesakitan di bagian belakang tubuhnya. Dia merasakan benda di keningnya yang tengah menempel, Mega melirik ke atas lalu mengambil kompres itu. Gadis itu langsung mengubah posisinya menjadi duduk melirik jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi!  Mega membulatkan matanya, lalu berlari mengambil pakaian sekolahnya dan memakainya dengan cepat. Gadis itu mengambil tasnya lalu berlari turun ke bawah.  Tak ada siapa pun, Mega menatap sekitar karena tak ada ibu atau ayahnya gadis itu langsung pergi meninggalkan rumah ini, menarik sebuah kunci motor dan mengendarai motornya sendiri. Mega mempunyai motor dan mobil, terserah dia ingin menggunakan apa. Mega lebih suka motor, karena lebih mudah dan gampang. Dan itu pun sesekali saja jika mendadak seperti ini. Gadis itu langsung menancapkan gas dan pergi meninggalkan rumahnya, tujuannya sekarang adalah ke sekolah! Tidak ada yang lain. Bibi Asna yang dari dapur melihat pintu terbuka, menaruh nampan itu di meja lalu melihat ke sekitar sudah tidak ada Mega di tempat tidur. "Non Mega di mana?" panggil Bibi Asna. Tak ada sahutan. Bibi Asna beralih ke ruangan lainnya, tempat belajar dan juga toilet namun tidak ada sama sekali. Bibi Asna kembali ke kamar Mega melihat sudah tidak ada tas Mega di atas meja sana.  Bibi Asna menggeleng tak percaya. "Non Mega ke sekolah? Padahal dia lagi demam tinggi, belum makan lagi," ujar Bibi Asna. *** "Tolong dong Pak, saya mau masuk Pak," mohon Mega. "Enggak bisa, kamu udah telat 2 jam lebih," ujar Pak Satpam. "Pak, saya mohon dong Pak. Saya janji enggak akan telat lagi deh," ujar Mega berjanji. "Lagian bapak kenal saya kan? Saya Mega anak siswi di kelas unggulan, bapak tau kalau saya antusias dalam belajar kan? Ngapain saya bolos pak kalau enggak ada alasannya, Pak. Mohon pak saya mau masuk," ujar Mega terus memohon. Pak Ujang—satpam sekolah ini terdiam sesaat lalu mengangguk. "Baiklah, tapi saya akan tetap catat nama kamu dan berikan kepada kepala sekolah. Sana masuk, jangan telat lagi!" ujar Pak Ujang. Mega tersenyum lalu berlari masuk ke dalam sekolah, gadis itu langsung berlari menuju kelasnya. Jam pertama pasti sudah berlalu, dan ini baru saja selesai istirahat. Mega mengetuk pintu. Mega mendorong pintu itu, lalu mendapati tatapan tajam ibu Melati. "Mega?!" tanya Ibu Melati. Jam pelajaran ibu Melati memang 3 jam, dua jam pertama dan setelah istirahat masih ada satu jam. Mega menunduk sambil berjalan masuk ke dalam kelas. "Maaf ibu, saya terlambat," ujarnya. Ibu Melati menatap Mega dari atas hingga bawah. "Kamu juga enggak pakai dasi? Kamu darimana Mega? Kenapa bisa telat?" tanya Ibu Melati. Mega menatap dirinya. "Maaf-maaf ibu, saya telat bangun. Makanya gini," ujarnya. Ibu Melati geleng-geleng kepala. "Kamu bisa-bisanya, ini kamu berdiri selama satu jam di pelajaran ibu. Enggak boleh duduk sebagai hukuman," ujar Ibu Melati. "Kamu dua jam enggak masuk." Mega menghela napasnya pelan, lalu berdiri di ujung papan tulis sambil menatap ke depan, matanya beralih menatap ke arah Bagas yang juga sedang menatap dirinya. Mega tidak ada semangat hari ini. Dia mengingat kejadian subuh tadi .... Ibunya kejam sekali, ini bukan pertama kalinya. Mega memang sering diperlakukan seperti ini, namun ini yang pertama kalinya dia pingsan dan tak sadarkan diri. Mega mengusap-usap tangannya karena merasakan dingin masih ada di tubuhnya, untung saja tadi ada yang mengompresnya keningnya serta mengganti pakaiannya, tapi Mega tak tau siapa itu.  Mungkin Bibi Asna, karena cuman dia yang berani membela dirinya walau hampir mati terbunuh karena ulah ayahnya.  Siksaan apa lagi yang belum Mega rasakan karena kesalahan kecil yang tak sengaja dia lakukan? Mega hanya ingin tersenyum di balik keluarga yang harmonis. Mega dituntut menjadi sempurna di mata orang tuanya, mereka lupa kalau Mega ini bukan robot yang tak boleh mereka perlakukan seperti ini. Mega hanya anak biasa yang mau hidup bahagia bersama keluarganya. Mega tak bisa ini itu dan melakukan banyak hal lagi, sedikit salah dapat hukuman. Di sekolah ini dia juga dituntut untuk disiplin karena sekalinya seperti ini pasti dapat hukuman dan parahnya, Ayahnya ini meminta kepada semua guru yang mengajar dirinya untuk melaporkan apa saja kelakuan Mega di sekolah. Mega bingung, mereka dibayar berapa hingga sampai seperti ini? Mega tertekan, dia mau curhat tapi kepada siapa? Selain kepada Allah? Bagas? Mungkin Bagas mengerti namun dia pasti tak ingin ikut campur dengan masalah keluarganya yang terlalu runyam ini. Mega memang gadis bodoh yang mau saja diperalat untuk menjadi robot yang bisa diperintah ke sana kemari tanpa tujuan tertentu, Mega tak mau tau apa alasan Mama Papanya sampai seperti ini. Persetan dengan masa depannya. Yang sekarang, adalah bagaimana Mega bisa meloloskan diri dari kejamnya dunia ini? Apalah Mega harus mati dulu? Baru bisa mendapatkan kebahagiaan seperti apa yang dia inginkan? Mega seperti bukan anak yang diinginkan oleh Adhitiya dan juga Rinai, sakit rasanya memendam semua ini selama bertahun-tahun. Mega ini juga punya perasaan, dia juga bisa menangis. ReplyForward
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD