Bab 14

1057 Words
  *** 16:00 Mega berada di sebuah ruangan, ruangan wawancara untuk masuk ke ekstrakurikuler mading. Di depannya sudah ada Rifki, Abian dan juga Dina. Mega menatap ke depan ketiga orang yang satu angkatan dengan dirinya. "Kau benar-benar yakin ingin masuk sini?" tanya Rifki. Mega mengangguk. "Alasannya?" "Ini pilihan pertama yang aku putuskan untuk dimasuki, karena menurutku fashion ku ada di sini." "Jika kamu sedang belajar, dan di eskul ini kamu dibutuhkan apakah kamu siap meninggalkan pelajaran kamu demi mading?" tanya Dina. "Tidak." Mereka bertiga saling bertatapan satu sama lain. "Alasannya?" tanya Abian. "Karena prioritas saya ke sekolah adalah belajar, bukan mencari ekstrakurikuler. Jika saja kepala sekolah tidak meminta agar setiap siswa wajib memasuki ekstrakurikuler saya tidak akan bisa masuk apa pun." "Tidak akan bisa? Kenapa?" "Sesuatu yang tidak bisa saya katakan."  *** Mega mengganti pakaiannya, Lintang masuk ke dalam kamarnya secara langsung tanpa permisi membuat dirinya terkejut. Alisnya saling bertaut, karena bingung tumben sekali Lintang masuk ke kamarnya.  "Aku pengen ngomong," ujar Lintang. Mega duduk dan menatap adiknya.  "Kakak dibolehin buat masuk eskul?" tanya Lintang. Mega mengangguk sebagai jawaban. "Kakak pilih eskul apa?" Mega menarik sebuah kertas dari meja belajarnya dan memberikannya kepada Lintang. Lintang mengambilnya, lalu mengangguk. "Mading," gumamnya. Mega masih diam menatap adiknya. Lintang mengembalikannya kertas itu lalu pergi meninggalkan Mega yang diam dan masih menatapnya. Mega menghela napasnya pelan, lalu memilih acuh dan tak peduli.  "MEGA!!"  Mega mengikat rambutnya lalu menoleh. "IYA? TUNGGU, MA!" Mega berlari keluar dan turun ke bawah menemui keluarganya. Adhitiya yang awalnya sibuk dengan berkas langsung menoleh ke arah anaknya yang berdiri sambil menatap dirinya.  "Kamu duduk sini, Papa mau cerita," ujar Adhitiya. Mega duduk di samping Lintang yang sibuk dengan buku yang dia baca, sedangkan Rinai sibuk menyuapi Lintang. Mega menatap ayahnya kembali.  "Gimana ulangannya tadi, lancar?" tanya Adhitiya. Mega menggeleng. "Gurunya enggak masuk, Pa. Jadi ulangannya enggak jadi deh," jawab Mega santai. "Gurunya kenapa enggak masuk?" "Sakit katanya," jawab Mega asal. Karena jujur dia tak tau apa-apa, kenapa gurunya tidak masuk. Papanya terlalu mempermasalahkan hal yang tak penting. "Kenapa nggak diganti aja dengan guru lain, kan di sekolah kamu enggak cuman satu guru," ujar Adhitiya. Mega menatap diam Adhitiya, lalu menghela napasnya pelan. "Mega!" bentak Rinai. Mega tersentak lalu menoleh. "Kamu enggak pernah diajarin buang napas di depan orang tua kayak gitu seolah-olah capek dengan orang tua kamu," ujar Rinai tegas. "Maaf, Ma." "Kelakuannya makin hari makin enggak wajar, kamu temenan sama siapa aja di sekolah selama ini? Sikap kamu kepada orang tua semakin tidak baik," ujar Rinai. Mega tak menjawab gadis itu hanya menunduk jika diomeli seperti ini.  "Lihat Lintang, mau sebanyak apa pun teman dia. Dia tetap jaga attitude kepada orang tua!" ujar Rinai. Adhitiya memperbaiki posisinya. "Lintang Papa minta kamu awasi kakak kamu selama di sekolah, dia berteman dengan siapa saja." Lintang mengangguk pelan, sebenarnya dia tak selalu melihat kakaknya karena Mega terlalu sering ke perpustakaan, atau tempat-tempat yang jarang didatangi oleh anak-anak. Terkecuali kantin, itu tempat mereka bertemu.  "Mana jadwal eskul yang Papa minta?" tanya Adhitiya. Mega memberikan selembar kertas panjang. "Kamu masuk ke kamar, lanjut belajarnya. Mama kamu akan urus jadwal belajar kamu," ujar Adhitiya. Mega mengangguk lalu berjalan santai ke dalam kamarnya, menutup pelan pintunya lalu bersandar di balik pintu. Mega kembali menghela napas pelan, sakit rasanya jika terus menerus dicurigai oleh keluarga sendiri, belum lagi Lintang disuruh untuk ngawasin dirinya di sekolah, ini berarti Mega harus tetap sama; dirinya harus bersikap cuek kepada orang-orang bahkan teman eskul-nya jika ada Lintang.  Mega berusaha menjadi orang baik di kalangan luar, namun justru mendapatkan imbas yang jahat di rumahnya. Serasa tidak ada keadilan di dalam kehidupannya, jika Mega diminta untuk bertukar posisi dengan orang biasa namun orang tuanya memiliki kasih sayang yang luar biasa, Mega akan menukar dirinya. Mega tak tahan merasakan tekanan batin selama ini. Mega hanya ingin dirinya nyaman bersekolah di detik-detik terakhir dirinya akan lulus dari SMP 3 Magelang, Mega muak dengan semuanya. Gadis itu berjalan menuju kasurnya lalu menenggelamkan kepalanya di balik bantal dan selimut.  **** "Kamu kenapa ngunci pintu dari dalam?! Kamu enggak mau diganggu sama orang tua kamu sendiri? Kenapa?" tanya Rinai menarik tangan Mega keluar dari kamar, kepalanya terasa sangat pusing dirinya baru saja bangun dari tidur.  Semalam dirinya juga belum makan, Mega berjalan dengan linglung berserah tangannya ditarik paksa oleh ibunya. Mega diseret ke kamar mandi, gadis itu disuruh duduk di lantai. Rinai mengambil gayung dan menumpahkan air ke kepala Mega, gadis itu menggigil. "Mama," ucapnya dengan bibir bergetar. "Kamu pasti engga belajar semalam?! Kan? Makanya kamu sibuk tidur dan kunci pintu kamu dari dalam!" ujar Rinai. Rinai meninggalkan Mega di dalam kamar mandi, gadis itu menggigil. Karena suhu sekarang memang masih sangat pagi, lebih tepatnya jam 4 subuh, gadis itu bahkan tak bisa berbicara dengan jelas. Kepalanya terasa berat. Pandangan gadis itu memburam hingga akhirnya tak sadarkan diri. *** "Kakak kamu mana, Lintang?" tanya Adhitiya. Lintang menggeleng. "Enggak tau, Pa. Dia belum keluar dari tadi malam hingga sekarang," ujarnya. "Ini udah jam 7 pagi, kamu berangkat aja duluan. Daripada telat," ujar Adhitiya. "Tapi, Kak Mega gimana?" "MEGA!!" teriak Rinai. Tak ada sahutan. "MEGA? TURUN KAMU, UDAH MAU KE SEKOLAH INI!" teriak Rinai lagi. Tak ada sahutan. "Anak itu pasti mageran, kamu duluan aja. Nanti Mega Mama yang anter ke sekolah," ujar Rinai. Lintang terdiam lama lalu mengangguk, dia meraih tangan Adhitiya dan menyalaminya begitupun dengan Rinai. Gadis itu berlari meninggalkan dapur. Rinai berjalan menuju kamar Mega, tak dikunci. Dia langsung masuk dan tak ada siapa pun di dalam sini, Rinai mencari-cari keberadaan anaknya itu, Rinai memberhentikan langkahnya saat mengingat tadi subuh dirinya mengguyur anaknya dengan air dingin. Rinai berjalan perlahan ke dalam kamar mandi.  Rinai membulatkan matanya saat melihat Mega tak sadarkan diri di dalam kamar, Rinai meraih kepada anaknya. "Mega? Kamu kenapa?" Rinai menepuk-nepuk pipi Mega. Mega tak bergeming, gadis itu benar-benar pingsan, tubuhnya dingin, dengan wajah yang pucat. "BIBI! PELAYAN!"  Pelayan yang dipanggil langsung masuk. Rinai berdiri. "Urus anak ini," ujar Rinai keluar dari kamar mandi. Bibi Asna menatap kepergian Rinai, dia menggeleng pelan lalu berusaha membopong tubuh Mega. Bibi Asna mengganti pakaian Mega dan membaringkan gadis itu di kasur king milik Mega. Bibi Asna memegang kening Mega. "Panas," gumamnya. Bibi Asna tak abis pikir dengan orang tua Mega yang tega memperlakukan anaknya sampai setega ini, dan pilih kasih dalam memberikan kasih sayang. Bibi Asna bingung sendiri, dia menarik selimut hingga menutupi tubuh Mega. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD