Bab 13

1027 Words
Bagas menuliskan sebuah soal, semenit kemudian dia memberikan kertas itu kepada Mega. "1 menit buat menjawab ya." Mega meraih kertas itu lalu mulai menjawabnya dengan santai. "Udah." "Kayaknya kepintaran lo enggak usah diraguin," gumam Bagas. Mega tertawa. "Perlu, keluarga aku aja masih ragu dengan hasil aku. Selalu nuntut buat jadi yang terbaik," ujar Mega blak-blakan. Bagas memandangnya lama, kemudian beralih kepada bukunya. "Terbaik itu, ketika kita enggak pernah gagal dalam mencoba," ujar Bagas. "Terbaik itu bukan siapa yang cerdas, siapa yang pintar, tapi terbaik itu ketika dia punya tata krama dan sopan santun," ujar Bagas. "Percuma ...." "Percuma, Gas. Aku udah berusaha, namun mereka masih aja kayak gitu? Gimana caranya agar aku jadi seperti apa yang mereka minta?" tanya Mega. "Kalau nurutin kemauan seseorang itu enggak akan ada abisnya, dan enggak akan ada puasnya. Karena mereka enggak rasain apa yang lo lakuin." "Kamu bisa ngerti apa yang aku rasain?" Bagas memandang Mega. Sungguh ini pembahasan mereka terlalu berat untuk anak seusia mereka. "Tanpa lo tanya pun, gue ada feeling tertentu jika ngerasa ada yang aneh dari lo." "Semisal tadi, saking lamanya kita bersahabat gue udah kenal lo, kenal gerak-gerik lo dan segala macam, tapi kenapa sampai saat ini lo belum mau cerita yang sebenarnya?" tanya Bagas. "Apa karena lo belum percaya sama gue?" Pertanyaan itu membuat Mega melepas pulpennya. "Aku percaya kok, cuman rasanya enggak ada gunanya kalau aku kasih tau semuanya ke kamu. Enggak ada dampak sama sekali yang ada kesannya aku sedang membongkar sebuah aib keluarga sendiri," ujar Mega. "Tapi aku tau kok, tanpa aku cerita kamu bisa sedikit tau satu hal."  "Kamu bisa nilai dari awal kamu ke rumah aku, pertama kalinya." **** "Beneran Mega mau mendaftar mading? Ini enggak boong? Dia bukannya dilarang ya sama orang taunya buat masuk eskul?" tanya salah satu orang penting dalam ekstrakurikuler Mading. "Mungkin setelah keputusan kepala sekolah bilang kalau siswa diwajibkan untuk ikut ekstrakurikuler," ujar Dina—sekretaris Mading.  "Beneran, dia beneran daftar. Dia isi formulir," ujar Abian memberikan surat pendaftaran. "Bagus deh, dia kan cerdas. Populasi anak-anak cerdas di ekstrakurikuler mading bertambah banyak."  "Ini seleksinya kapan?" tanya Rumi.  "Besok terakhir pendaftaran, kita bakal wawancara doang. Enggak ada seleksi, peminat mading cuman sedikit soalnya," ujar Dina. Abian, merupakan anggota penting di dalam eskul mading ini. Dia memang mengambil beberapa bidang eskul lainnya, namun dia bisa membagi waktu sebaik-baiknya yang dia punya. Mulai dari basket, mading, musik, dan juga OSIS. Jadi tak jarang bilang Abian selalu ada jika ada acara penting karena dia memang memiliki sikap yang bertanggung jawab. Rifki, ini adalah ketua dari eskul mading, selain mading dia juga mengikuti eskul Jurnalistik dan juga PMR. Rifki sudah sering kali turun lomba untuk mewakili sekolah, bakatnya pun sudah tak diragukan, makanya dia dipilih menjadi ketua di antara yang lain. Dina, ini adalah sekretaris dari eskul ini. Dia sangat kompeten dan juga paling rajin jika ada rapat dan hal penting lainnya, dia juga sumber informasi setelah Rifki. Bertugas sebagaimana mestinya.  Dan selebihnya adalah anggota, dan beberapa jabatan lainnya; pengarah, penyalur dan pemegang akun informasi, pencari informasi penting untuk dipasang ke mading.  *** Mega menyimpan tasnya di sebuah ruangan, cukup banyak yang ikut ekstrakurikuler ini termasuk temannya, Bunga. Mega duduk dengan menatap teman seangkatannya yang jauh lebih berpengalaman dalam ekstrakurikuler ini.  "Oke teman-teman, adik-adik sekalian kita mulai dari perkenalan anggota tetap di sini ya," ujar Abian.  Semuanya mengiyakan. "Saya Abian, saya tidak punya jabatan khusus. Tapi, punya tanggung jawab untuk ekstrakurikuler mading, karena itu perintah guru." "Saya Rifki ketua, dan ini Dina ekstrakurikuler."  Setelah mereka memperkenalkan diri, Rifki selaku ketua memberitahu apa saja yang dilakukan anak mading, apa saja yang mereka sebarkan, aturan dan juga tata tertib. "Kita anak mading harus melihat apakah yang dikirim anak-anak SMP 3 Magelang ini pantas dipublikasikan atau tidak, jangan sampai mereka mendapatkan informasi hoax berita tidak benar," jelas Fikri. "Kalian juga masing-masing punya tanggung jawab untuk mencari berita hangat, serta karya-karya bisa berupa puisi untuk dipajang," tutur Dina.  "Sepulang sekolah kalian datang ke sini untuk tes wawancara, siapa yang cepat dia yang didahulukan," jelas Fikri. Mega mengambil tasnya dan pergi meninggalkan ruangan, mungkin dia akan meminta jadwal jika dia benar-benar lulus seleksi di eskul ini. Mega berjalan mengarah ke perpustakaan, jam sudah menunjukkan pukul 1 siang.  Hal yang beruntung bagi dirinya, karena ulangan harian untuk hari ini ditunda karena guru lagi berhalangan. Mega melewati ruangan eskul musik, tak sengaja melirik sekilas di sana sudah ada Bagas yang sibuk dengan gitar yang dia pegang. Jika dilihat dari sini, Bagas itu masuk tipe-tipe orang baik dan diminati banyak anak-anak perempuan remaja, lagian Bagas wajahnya cukup tampan.  "Ikut eskul musik?" tanya seseorang membuat Mega menoleh. "Ah enggak, cuman ngeliat aja," jawab Mega. "Kalau mau lihat, boleh masuk kok. Diperbolehkan, karena engga lagi latihan cuman nyanyi biasa," ujar orang itu membuat Mega menggeleng. "Iya, makasih ya. Cuman liat aja tadi, duluan." Mega pergi meninggalkan cowok itu yang masih menatap dirinya hingga hilang di tikungan koridor.  Semenjak dirinya sering keluar dari kelas, banyak sekali orang yang mengajak dirinya mengobrol, walau singkat tapi banyak. Mega bersyukur karena dirinya tak terlalu risih dengan hal ini.  Ternyata banyak orang sopan di antara anak-anak julid di sekolah ini. Saking jarangnya Mega keluar dan berkomunikasi dia tak tau banyak tentang anak-anak di sini, padahal dia sudah 3 tahun di sini. Mega duduk di pinggir taman. "Huh." "Aw!" Mega memegang kepalanya yang terasa sakit karena timpukan sesuatu. Mega menoleh. "Sorry enggak liat," ujar Satya lalu duduk di samping Mega. "Lo lupa sama janji lo ngajarin gue apa? Btw, gue mau masuk eskul yang sama dengan lo masuki. Biar sering ketemu," ujar Satya. Mega menggeleng. "Jangan." "Kenapa?" tanya Satya.  "Malas sama orang rusuh kayak kamu. Dan soal janji bisa kok belajar setelah pulang sekolah? Jangan di sekolah aja. Males," ujar Mega.  "Malas?"  "Kata Papa lo, lo itu rajinnya enggak ketolong." "Pintar aku bisa diragukan, malasku jangan diragukan." Mega pergi meninggalkan Satya yang terdiam. Mega menghentakkan kakinya kesal, di mana-mana dia selalu saja bertemu dengan orang-orang sok akrab dan suka mengobrol. Mega tak suka banyak bicara, jika tidak merespon dirinya terkesan sangat jutek dan sombong. Mega merasa tidak enak, apalagi orang itu tidak jahat. Sediam-diamnya dia, dia juga tetap memikirkan perasaan orang lain. Mega tak seegois keluarganya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD