Bab 12

1054 Words
Pagi ini, Mega tidak bangun jam 3 subuh melainkan bangun saat adzan sudah berkumandang tentunya membuat dirinya semakin was-was, apalagi ada CCTV. Malam tadi dia terlalu lelah hingga tubuhnya meminta untuk tidur, Mega duduk di meja makam sambil terdiam.  "Kalian pulang barengan?" tanya Adhitiya. Lintang meminum susunya.  "Em, enggak tau kak Mega emangnya langsung lanjut eskul?" tanya Lintang. Mega menoleh dengan tidak bersemangat. "Mungkin." "Kok mungkin? Papa minta nanti jadwal eskul mading, mau diatur sama waktu belajar kamu dan les privat. Awas kamu macam-macam sampai bikin nilai kamu jeblok ya," ujar Adhitiya. "Lintang gimana sekolahnya sayang?" tanya Rinai mengalihkan topik, karena tak mau setiap pagi Mega terus menjadi sasaran utama soal pelajaran. "Pelajaran Lintang biasa aja kok, Ma. Makin hari meningkat, dan eskul juga aku mau ditunjuk jadi ketua," ujarnya. "Wah anak Mama."  "Pinter banget," puji Rinai. "Karena Lintang masih kelas 8, dan kamu kelas 9 jadi pembatasannya emang beda. Kamu harus lulus dengan hasil yang memuaskan, kamu harus jadi juara umum dan membanggakan, satu-satunya hal yang bisa dibanggakan dari kamu adalah kepintaran dan isi otak kamu," ujar Adhitiya. "Berbeda dengan adik kamu, yang punya talenta di bidang seni; menari, dan berpenampilan layaknya model." "Mega emang beda," ujarnya pelan. "Enggak bisa jadi kayak Lintang yang selalu menjadi kebanggaan setiap orang di rumah ini, karena kalian enggak bisa lihat apa yang Mega dapatkan," ujarnya dengan nada bergetar namun sebisa mungkin gadis itu menahan agar air matanya tidak luruh. "Karena itu faktanya," ujar Adhitiya. "Iya, Mega memang terlahir jadi anak bodoh dan tak punya bakat yang bisa membanggakan kalian berdua. Jika memang seperti itu, kenapa kalian maksa Mega untuk jadi seperti apa yang kalian mau?" "Apa yang kalian mau itu, tidak sesuai dengan apa yang Mega mau. Kalian pernah mikirin gimana sakit kepala yang Mega rasakan saat terus menerus belajar, tekanan apa yang Mega rasakan sampai saat ini, kalian pernah mikirin itu?" tanya Mega lagi. "Mega!" tegur Rinai. "Apa, Ma? Sampai kapan anak kalian ya—" Plak// Mega menutup matanya, merasakan pipinya yang panas akibat tamparan yang begitu menyentuh di kulitnya.  "Kamu jaga omongan kamu, sejak kapan kamu bisa ngomong kayak gitu ke Papa dan Mama? Capek kamu itu tidak setara dengan capek kami mengajar dan mendidik kamu hingga sekarang! Jadi jangan macam-macam untuk hal ini," ujar Adhitiya. Mega menunduk, selera makannya langsung menurun karena perdebatan yang lagi-lagi ada di pagi hari.  *** Megan menggandeng tasnya di sebelah kiri, dia tak memakai tas gendong melainkan tas selempang. Nyaman seperti ini, karena benturan di bagian belakang dengan lemari yang diberikan oleh ayahnya itu masih sangat terasa jika terus disentuh. Paling nyaman memang saat dirinya tidur.  Hari Rabu ini, mengenakan baju batik dari sekolah. Berwarna biru, untung saja Mamanya menyediakan 3 baju untuk Mega dan Lintang, 1 di antaranya adalah lengan panjang. Karena Mega memang meminta, jika untuk meminta hal sekolah Mega akan dituruti dengan cepat. Bekas lukanya juga sudah hilang sejak kemarin, karena Bibi Asna yang mengompresnya dengan air hangat sepanjang malam saat sebelum mereka pergi ke acara malam tadi. Mega lupa kalau hari ini memang ada ulangan, Mega berdoa agar gurunya tidak masuk tidak apa-apa, Mega benar-benar tidak belajar. Takut hasilnya jeblok dan mengakibatkan dirinya kembali dipukuli. "Mega, ini ringkasan yang lo minta, sorry ya gue enggak bisa bales chat lo dengan cepat soalnya handphone gue rada sering mati gitu, maklum bukan handphone ori," ujar Bagas. Mega mengambil itu dengan senang hati. "Iya makasih ya, semalam aku enggak belajar. Soalnya ...." "Kenapa?" "Aku capek, btw chat aku di handphone kamu hapus juga ya. Takut Papa bisa tau di mana saja aku chat," ujar Mega. "Bisa gitu?" tanya Bagas sambil berjalan bersama Mega ke kelas. "Heem, terakhir aku chatan sama Sintia. Mereka berdua tau, padahal aku udah hapus semuanya di handphonenya Sintia juga. Aku enggak tau mereka taunya dari mana," ujar Mega. "Jadi gimana?" "Enggak tau, biarin aja deh. Capek mikirnya, baiknya gimana itu cuman orang tuaku aja yang tau," ujar Mega. Jalannya lebih dulu daripada Bagas, Bagas menatap Mega lama hingga ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Di belakang, di leher Mega. "Meg, berhenti deh." Bagas mensejajarkan dirinya dengan Mega, melirik jelas luka di leher Mega. "Leher lo?" Mega meraba hingga gadis itu meringis, dia tak tau kalau ada luka di sana. Mega tak tau, dia benar-benar tak tau makanya dia beranikan diri untuk menguncir rambutnya. Karena terlalu panjang dan lebat. "Itu kenapa sih?" tanya Bagas heran. "Enggak apa-apa, Bagas. Ayo ke kelas." Mega menarik tangan Bagas untuk ke kelas. "Lo dipukul?"  Pergerakan Mega berhenti, dia melepaskan pegangan tangannya dan menatap Bagas dalam. "Percaya enggak percaya itu karena kecerobohan aku loh, aku enggak sengaja kepentok. Rasanya juga enggak ada, pas disentuh baru sakit," ujar Mega. "Kapan kepentok?" tanya Bagas. "Tadi pagi," jawab Mega. "Itu lukanya udah kering, dan ini masih pagi. Enggak mungkin lukanya bisa kering secepat itu apalagi tanpa obat," ujar Bagas menyelidik. Mega mencoba mencari alasan.  "Bisa lah, soalnya aku kan ikat rambut terus pas di mobil aku buka kaca mobil jadi kena angin mulu. Makanya kering." "Udah ah, kenapa jadi bahas ini sih."  Mega dan Bagas kembali berjalan ke kelas. Mega sengaja menutupi semuanya, dia tak mau dikasihani karena sebuah pukulan dari kesalahan dirinya sendiri. Kata Rinai, ini pantas untuk dirinya karena kesalahan yang dia buat. Dan sesuai dengan perjanjian kalau nilai ulangan harian harus 100! Tidak boleh kurang. Jika kurang harus kena hukuman apa pun itu, Mega harus menerima semuanya.  Dan itu sudah Mega tanda tangani hitam di atas putih.  Inilah mengapa Mega terlalu tersiksa berada di lingkaran keluarganya yang semata-mata ingin dirinya sukses, Mega ingin dididik dengan baik-baik. Mega mau, asal jangan pakai kekerasan, tapi sepertinya mereka tak akan paham walaupun Mega sudah bersih keras memberitahu segala hal. Contohnya tadi pagi, perdebatan kembali terjadikan? Padahal itu hal sepele yang seharusnya bisa dimaafkan untuk Mega yang usianya terbilang masih sangat muda.  "Lo ngelamun mulu, ada masalah?" tanya Bagas. Mega tersentak kecil, lalu menggeleng. "Enggak cuman coba fokus sama pelajaran ini, kamu mau bantuin enggak? Akhir-akhir ini aku sering enggak fokus dengan pelajaran," ujar Mega. Bagas tersenyum lalu mengangguk. Dia menarik bukunya lalu menjelaskan satu persatu rumus-rumus matematika yang sudah Bagas susun dengan baik-baik. Mega mengamati dengan baik, rasanya lebih enak jika dijelaskan seperti ini daripada belajar sendiri.  "Paham enggak sampai sini?" tanya Bagas. "Paham." "Lanjut di akhir ya, gue bakal kasih lo kuis dan lo harus jawab," ujar Bagas. "Siap pak guru!" 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD