Bab 11

1051 Words
  Karena merasa bosan gadis dengan dress berwarna hijau muda itu berjalan mengelilingi aula luas sebuah gedung dengan tatanan megah dan mewah ini. Langkahnya terhenti saat seseorang memanggil dirinya.  "Hm?" Mega menoleh. Satya datang menghampiri Mega. Mega menatap lama Satya, dia melihat penampilan Satya yang jauh lebih keren jika seperti ini. Dengan jas berwarna hitam dalaman putih dengan dasi layaknya orang kalangan atas. Namun sisinya seperti berbanding terbalik saat dia ke sekolah dengan baju acak-acakan, dikeluarkan, dan tanpa dasi.  "Enggak nyangka ketemu di sini, enggak bisa traktir tapi lo bisa bantu gue buat belajar," ujar Satya dengan alis terangkat. Mega menggeleng. "Enggak, aku urus hidup aku sendiri aja susah, masa harus ngajar kamu?" tanya Mega. "Sebagai balas budi karena gue udah nolong lo. Emang lo enggak denger tadi kata ibu dan papa lo?" tanya Satya. "Dan kata Papa gue apa ya? Gue anaknya nakal, bandel dan suka nyari masalah, lo harus awasin gue," ujar Satya lagi. Mega terdiam lama, dia salut dengan Om Hasan karena dia berani mengakui kejelekan anaknya, tanpa rasa malu sedikitpun walau di depan banyak orang. Orang tua yang pengen sekali Mega dapatkan, adalah orang tua yamg tak marah jika nilai anaknya turun.  Tidak bermain fisik.Dan bisa membantu anaknya, dan mendorong anaknya dengan lembut dan pelan tanpa tuntutan dan paksaan. Mega memang sering melihat perbedaan orang tuanya dengan orang lain, dia hanya melihat dan tak berkomentar. Alasan kenapa dirinya sering melihat hal itu karena Mega merasa lelah jika harus dituntut menjadi anak sempurna, dan selalu dibanding-bandingkan dengan keluarga sendiri, adiknya sendiri, Lintang.  "Aku usahain, cuman jangan rewel dan nyusahin," ujar Mega. "Makasih loh. Btw malam ini lo cantik," puji Satya. "Enggak usah aneh-aneh ngomongnya, aku enggak bisa termakan pujian kayak gitu. Jelek yaudah jelek aja," ujar Mega. "Basi dengan kata cantik." "Sinis amat sih, btw adik lo enggak lo ajak jalan-jalan kalian itu kayak bukan sodara tau enggak? Gue liat sepanjang acara berlangsung kalian hanya diem-dieman dan tak saling berbincang." "Berbeda dengan anak-anak yang lain, jika saat seperti ini saudara adalah orang yang akan menjadi teman ngobrol jika tidak ada teman," ujar Satya panjang. "Cerewet banget sih."  Mega berjalan pergi, Satya mengikut dirinya dari belakang. Mega terus berjalan, jalannya dia percepat, Satya pun melakukan hal yang sama. "Gue bukan anjing yang ngejar-ngejar lo kek gini," ujar Satya membuat Mega berhenti. "Aku enggak pernah anggap kamu anjing ya, kamu aja yang mikirnya gitu. Ngapain coba ikutin aku mulu? Duduk aja di sana, sama keluarga besar kalangan atas," sewot Mega. "Gue maunya sama lo." "Gue bosan, mereka terlalu membanggakan anaknya dalam bidang prestasi, sedangkan gue? Apa yang bisa gue banggain buat bokap gue?" tanyanya. "Gue kasian sama dia yang terus berharap anaknya yang ganteng ini mau belajar dan menjadi juara kelas, sayangnya malas gue lebih tinggi daripada rasa kasian gue ke Papa gue," ujar Satya. Mega menoleh lalu menoyor kepala Satya. "Gila banget sih, lama-lama kocak juga." Mega tertawa kecil. "Bagus deh, akhirnya setelah sekian lama gue bisa liat lo ketawa, jadi sebagai imbalannya lo harus mau turutin 1 permintaan gue, selain dari bantu gue jadi lebih baik lagi," ujar Satya. "Apasih? Suka banget nuntut atas kebaikan yang kamu kasih," kesal Mega. "Harus, biar timbal balik. Saling menguntungkan," balas Satya. "Ih aneh." Mega berjalan kembali ke tempat duduknya, duduk di samping Lintang yang sedang tertawa melihat handphonenya.  Mega dapat melihat adiknya dengan make up ini, memanglah cantik. Mega menatap dirinya di kaca handphone.  "Udah dibilang cantik juga," bisik Satya membuatnya kaget. "Ih, kamu sana gih. Enggak enak dilihat banyak orang, sana!" usir Mega sambil mendorong-dorong tubuh Satya menjauh. Gadis itu kembali duduk dengan tenang.  Tak ingin diganggu lagi.Dia lelah dan ingin segera istirahat. "Kak BIAN!" sapa Lintang membuat Mega menoleh.  Abian, pun datang? Ternyata di sini banyak yang diundang ya? Mega merasa minder saat banyak anak-anak gadis yang berlalu lalang dengan elegan dan anggun. Mega berusaha menghilangkan pikirannya.  Lintang sudah tak ada di sampingnya, Mega melihat Lintang yang sedang menggandeng Abian untuk ke suatu tempat. Mega berpikir andai saja Bagas ada di sini, dirinya mungkin jauh lebih nyaman untuk berbincang kepada orang yang semestinya. Mega tak mau mempersulit dirinya dengan hal itu, dan Bagas pun sudah ada tempat khusus di kehidupan Mega. Sahabat sejati yang tak akan pernah mati. Maksudnya, Bagas akan menjadi sahabatnya sampai dia mati.  "Kamu enggak makan, sayang?" tanya Rinai. "Mega enggak laper, Ma. Ini acaranya masih lama enggak?" tanya Mega sudah risih dengan pakaiannya sendiri. "Ini kayaknya sampai jam 10 malam. Kamu bisa jalan-jalan dulu, sama Satya sana gih, daripada bosan," ujar Rinai. "Satya!" panggil Rinai membuat Mega membulatkan matanya sambil geleng-geleng. "Kamu temenin Mega jalan-jalan, dia bosan katanya."  Satya tersenyum dengan senang hati. Mega sangat mengutuki dirinya saat ini, dia berjalan dahulu lalu disusul oleh Satya. Mamanya ini memang memiliki kepribadian yang unik, kadang marah, sayang, dan lainnya. Ah susah untuk dideskripsikan. Karena Mega pun tak mengerti. Dia duduk di salah satu ayunan dengan hiasan lampu di bagian atas dan bunga-bunga di setiap ujung ayunannya.  "Eh Satya?" Suara itu membuat mereka berdua menoleh. "Abian?" Satya menaikkan alisnya. Abian mengangguk. "Ketemu di sini, eh Mega." Abian duduk di samping Mega membuat Satya tercengo. Lintang menatap mereka berdua yang tengah mengobrol seakan lupa dengan Lintang dan Satya. Lintang menoleh ke arah Satya yang juga cuek sedang bermain handphone, Lintang menghela napasnya pelan. Malam ini dia sudah tampil jauh lebih cantik, namun kakaknya sekarang yang menjadi pujian dari dua lelaki ini. Satya dan Abian.  *** Mega berjalan masuk ke kamarnya, akhirnya dia bisa pulang dan melepas high heels yang mematikan kakinya ini. Gadis itu mengganti pakaiannya dan mencuci wajah serta menggosok giginya. Menyisir rambutnya. Baru saja ingin merebahkan tubuh, pintu terbuka menampilkan Adhitiya.  "Kamu belajar dulu, sejam baru deh tidur. Kamu besok ada ujian kan? Besok pulang setelah eskul kamu selesai," ujar Adhitiya. "Besok aja ya, Pa. Aku bangun pagi kok, untuk belajar, Mega capek banget," keluh gadis itu. "Enggak, Mega. Kamu harus belajar sebelum tidur, biar besok tinggal diulang lagi biar gampang. Belajar sejam baru tidur." "Kamu bangun jam 3 malam buat belajar, sambil nunggu adzan subuh," ujar Adhitiya. Lalu kembali menutup pintu kamar anaknya. Mega menghela napasnya pelan, lalu mengambil bukunya dan belajar di kasur king miliknya.  Mulai membuka lembaran demi lembaran, gadis itu merasa sangat mengantuk. Sesekali menguap, dia masih fokus. 20 menit setelahnya, gadis itu bersandar di kepala ranjang. Lalu napasnya mulai teratur. Mega tertidur.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD