Bab 10

1051 Words
Hasil selalu menjadi yang utama untuk mereka, namun mereka tidak sadar bahwa perubahan itu jauh lebih penting. Karena jika melihat perubahan, kau akan menemukan sebuah hasil. Adhitiya tak pernah mau melihat perubahan anaknya, dia hanya melihat dari hasil dan menyimpulkannya bahwa ini semua salah. Mega dengan langkah santai masuk ke ruangan kerja Papanya.  Adhitiya menatap putrinya itu di balik kacamatanya. "Hm?" "Ini ...." Mega memberikan sebuah kertas kepada Adhitiya. Adhitiya menerima dan membacanya. "Kamu akan ikut eskul apa?" "A—" "Cari yang tidak ribet dan tidak mengambil waktu yang banyak, cari yang bermanfaat buat kamu dan cocok buat kamu. Jangan ambil yang buat kamu senang." "Utamakan juga pendidikan, cari yang pas." Mega menghela napasnya. "Iya, Pa. Mega udah mutusin." "Milih apa?" Adhitiya menaikkan alisnya. "Mading." "Kenapa milih itu?" "Karena menurut Mega itu cocok buat Mega, selain tidak menghabiskan waktu banyak, kita bisa terus melatih diri untuk menulis dan berimajinasi. Jadi tetap berhubungan dengan studi," ujar Mega. "Beritahu Papa semua jadwalnya, nanti Papa akan urus semuanya. Kamu hanya perlu melakukan sesuai jadwal yang Papa kasih," ujar Adhitiya, tangannya beralih mengambil pulpen dan menandatanganinya. Mega tersenyum dan mengangguk, dia mengambil kembali kertasnya dan mengucapkan terimakasih kepada Papanya. Gadis itu dengan girang keluar dari ruangan Papanya dan masuk ke dalam kamarnya. "Akhirnya! Aku bisa ikut eskul juga, ini penantian yang akhirnya terjadi. Semoga dengan ini aku bisa jauh lebih bersosialisasi dan ....." Mega menghentikan ucapannya. "Jangan macam-macam Meg! Jangan terlalu senang, kehidupan ini tak selalu berada di pihak kamu. Jadi, tolong untuk tetap berada di sandaran kamu," ujarnya menghilangkan segala kesenangan yang hanya khayalan itu. *** "Mega cepat siap-siap! Kita akan ketemu sama teman-teman papa kamu," ujar Rinai berteriak. "Iya, Ma! Bentar!" Mega berlari meninggalkan kamarnya. Gadis itu memakai dress yang pas di tubuhnya, dress selutut dengan rambut yang ditata dengan model kepang setengah, dan sebagian dia biarkan terurai bebas. Mega menatap sekilas keluarganya yang juga sedang menatapnya. "Kamu jangan pakai sepatu itu," ujar Rinai.  "Nggak apa-apa, Ma. Mega lebih nyaman pakai yang biasa," ujar Mega.  "Astaga anak ini, liat tuh Lintang pakai high heels. Masa kamu pake sepatu ini doang? Pelayan!!!" teriak Rinai. "Iya nyonya?" "Ambilin sepatu high heels hitam punya Mega!" perintah Rinai. Pelayan itu langsung pergi mengambil sepatu milik Mega, dan memberikannya kepada Mega. "Pakai!" titah Rinai. "Lintang kamu masuk duluan ke mobil ya, Papa nunggu soalnya."  Mega menghela napasnya pelan, lalu memakai high heels yang tinggi itu. Dress berwarna cokelat muda itu sangat pas dengan tubuh Mega, sama halnya dengan Lintang.  Lintang jauh lebih cantik dengan gaun dress berwarna hijau toska dengan sepatu high heels berwarna kulit itu. Mega kadang iri dengan penampilan Lintang yang terbiasa memakai baju dan sepatu seperti ini. Mega meraih tasnya lalu berpamitan kepada bibi dan naik ke dalam mobil. "Kamu lama banget, dandanannya biasa aja lamanya hampir setahun," ujar Adhitiya membuat Mega tercengo sendiri. Bingung dengan perkataan ayahnya yang terlalu jahat untuk anaknya. Lama perjalanan tak terasa untuk Mega karena asyik menikmati perjalanan sekaligus memainkan handphonenya yang sudah lama tidak dia mainkan. Ini karena kelamaan bersama dengan buku, enaknya saat mereka pergi bersama-sama. Rinai dan Adhitiya tak perduli jika Mega bermain handphone, tapi di tempat dan waktu yang tertentu saja. "Udah sampai, kalian usahain jangan ngelakuin sesuatu yang memalukan, terlebih untuk kamu, Mega," ujar Rinai.  Lintang menatap sekilas ke arah kakaknya yang sedang menghela napasnya pelan. Menurutnya ini sudah menjadi kebiasaan alias menjadi drama di setiap acara pertemuan para teman-teman orang tuanya di kalangan atas. Mega berjalan dengan biasa, setidaknya tidak sekaku orang-orang. Dia hanya tidak nyaman, jangan berpikir kalau Mega tak bisa memakai heels.  Kalian salah besar, dia juga anak yang terpandang dan bisa memakai apa pun yang menurutnya nyaman, sewaktu kecil dia sering memakai high heels ke mana pun, namun setelah beberapa perkara, Mega tak suka lagi memakai high heels. Jika kalian tanya apa permasalahannya. Permasalahannya adalah, saat Mega terus menerus dibandingkan penampilannya bersama dengan Lintang. DI mana Mega terlalu sering disudutkan dengan mengejek Mega mengikuti gaya dan fashion dari Lintang, padahal pada awalnya Mega lah yang duluan memakai semua kebiasaan itu. Memang benar, berbeda dari yang lain adalah hal yang paling aman dan nyaman. *** Di pertemuan malam ini, banyak sekali orang yang datang dan di meja bulatan besar ini adalah kalangan atas termasuk keluarga besar Shyam. Savana Mega, anak ini sudah dikenali oleh teman-teman dari ayahnya dengan sebutan anak berprestasi. Karena di bidang akademik memang Mega adalah anak yang ambisius, nyatanya dia ambisius karena dorongan keras orang tuannya. Serta Lintang yang disebut sebagai anak bertalenta, karena banyaknya piala non akademik yang selalu dia capai dan juga di bidang pelajaran tak usah diragukan.  Inilah perbedaan keduanya yang harus mereka sadari, kalau semuanya punya kelebihan masing-masing.  Mata Mega menangkap seseorang yang sebelumnya pernah dia temui, mata mereka bertemu saat anak lelaki itu menoleh ke arahnya. Garis wajahnya menaik, lalu sudut bibir anak lelaki itu terangkat. Mega tercengang, kenapa dia bisa di sini? Hanya itu yang ada di pikiran Mega.  Mega terus memperhatikan anak lelaki itu, bahkan saat sedang berbincang dengan ayahnya. Kemudian sesaat ayah dari anak lelaki itu menoleh ke arahnya. Jarak mereka tak terlalu jauh, Mega nampak kikuk saat ayah anak itu tersenyum kepadanya. "Dia putrimu kan?" tanya Sosok paruh baya yang sedang menatapnya. "Iya dia, putri pertamaku. Namanya Savana Mega," ujar Adhitiya tersenyum. Rinai turut tersenyum.  "Dia sudah kenal mungkin dengan anakku satu ini," ujarnya sambil merangkul putranya. Satya Hadiwijaya. "Satya?" Anak lelaki yang diyakini sebagai Satya itu mengangguk santai sambil tersenyum menatap ke arah Mega.  Mega mengalihkan pandangannya ke arah lain berusaha untuk cuek, karena bagaimanapun mereka sebelumnya tak pernah dekat, dan itu tak akan pernah. Mega tak mau sampai kehidupannya terusik oleh orang-orang kalangan atas seperti ini, yang ada hidupnya akan tertekan selama-lamanya.  "Mega, om Hasan Hadiwijaya lagi nanya ke kamu loh, jawab dong," ujar Rinai. Mega mengangguk dan tersenyum kikuk. "Iya Om, dia teman saya. Kelas kamu sebrangan," ujar Mega dengan nada biasa. "Oh, kamu ternyata punya teman sebaik dia. Pertahankan, tolong ya. Dia ini anaknya nakal dan bandel makannya saya kirim di ke sekolah berkompeten," ujar Hasan. "Dia harus dididik dengan baik, om titip dia ya," ujar Hasan lagi. "Pasti, rajin-rajin ke rumah buat belajar bareng. Pasti Mega setuju kan?" tanya Adhitiya. Mega merasa ingin mengumpat namun sebaik mungkin dia mengangguk. "Iya, pasti om, Pa." "Kapan-kapan Satya bisa diajak ke rumah buat belajar bareng sama saya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD