Seperti biasa, siklus kehidupannya. Mega kembali ke sekolah, sayangnya dia memakai baju lengan panjang, dengan rok span panjang. Dengan rambut yang dia kuncir dengan kacamata hitam yang dia kenakan. Matanya terlalu sembab untuk saat ini jika memperlihatkan kepada orang-orang semuanya akan bertanya-tanya kenapa dirinya menangis.
Dan Mega malas untuk menjawab.
Apa yang terjadi semalam itu sudah menjadi hal biasa untuk dirinya jika ujian nilainya turun, belum seberapa itu? Jika nilai raport yang turun, lebih parah dari apa yang terduga.
"Sst!" Seseorang melempar sebuah kertas ke arah Mega membuatnya menoleh dan mencari siapa orangnya.
Bagas tersenyum mengarah kepada dirinya. Mega pun ikut tersenyum walau hanya sekilas. "Ngapain di taman sendiri?" tanya Bagas.
"Kenapa emangnya?"
"Jarang aja, lebih tepatnya tumben ke sini. Biasanya lebih milih di kelas membaca buku paket yang tebal itu hingga tamat," ujar Bagas meledek.
"Sesekali, lagian aku bawa buku kok." Mega memperlihatkan bukunya.
"Enggak bosan-bosan y? Padahal lo itu dari sananya udah pintar ya."
"Santai juga bisa dapat juara kok, enggak harus dipaksakan yang buat diri jadi capek sendiri."
Mega terdiam tak ingin membahas hal itu.
"Btw gue suka gaya lo hari ini, tumben? Kenapa pakai lengan panjang coba?"
Mega melihat penampilannya. "Biasa aja, sering kok kayak gini."
"Hm, tapi jarang ... itupun kalau ...."
"Apa?"
"Nggak apa-apa."
Mega tak mau pusing dengan hal itu, Mega ke sini juga hanya memenangkan pikirannya setelah percekcokan malam tadi yang hampir membuat dirinya mati gila. Mega bersandar di kursi lalu menoleh ke arah Bagas.
"Kamu suka jadi juara, kan?"
Bagas menoleh, dan mengangguk kecil.
"Gimana cara kamu belajar? Apakah kayak aku?"
Bagas menggeleng lalu tertawa. "Ya kayak biasa aja sih sebenarnya, gue belajar juga kalau ada waktu dan kalau ada ujian. Selebihnya cuman dibaca dan diulang materinya," ujar Bagas.
"Lo termasuk beruntung karena bisa les privat, dan punya semua kebutuhan yang lo punya. Harus bersyukur," ujar Bagas.
"Aku iri denganmu," ujar Mega jujur.
"Kalau saja aku bisa menukar diriku dengan dirimu. Maka aku akan melakukannya dan meminta serta memohon kepadamu," ujar Mega.
"Kenapa?"
"Apa yang mereka lihat tentang diriku, adalah sebuah kebohongan. Kamu kalau bilang ini tertekan, memang benar kok."
"Tapi gimana lagi? Aku itu dituntut untuk sempurna dan selalu jadi nomor satu di mana saja, di keluarga, di sekolah dan di mata teman-teman Papa dan Mama ku," ujar Mega mulai melunak berbincang dengan Bagas.
"Maka dari itu, Gas. Aku mohon sama kamu, jadilah Bagas yang selalu aku kenal. Yang selalu support aku," ujar gadis itu.
Bagas menatap Mega lama, dia tak menyangka kalau Mega akan berbicara panjang kali lebar sampai saat ini. "Gue janji akan selalu bantu lo kapan aja dan di mana aja, semampu gue," ujar Bagas.
Bagas meraih kacamata Mega, membuat matanya membulat. "Lo-lo abis nangis, Meg?" tanya Bagas tak percaya.
Pasalnya, Mega adalah gadis yang jarang menangis. Kenapa sekarang wajahnya menjadi sembab seperti ini? Bagas mengembalikan kacamata hitam Mega. Mega tertawa melihat reaksi Bagas.
"Maaf ya. Aku manusia biasa yang bisa nangis," ujar Mega.
Bagas masih menatap wajah Mega.
"Kenapa nangis?"
"Enggak perlu kamu tau, Gas. Ini masalah pribadi yang enggak bisa aku ceritakan."
"Ini enggak ada sangkut pautnya dengan bolos pelajaran olahraga kan?"
Mega menoleh, dia terdiam lama lalu menggeleng.
"Lo jadi ikut ekstrakurikuler?"
"Aku belum ngomong sama orang tua aku, nanti aku ngomong deh."
"Kamu? Jadi ikut apa?"
"Tetap aja sih, basket sama musik."
***
Lintang baru saja masuk ke kantin bersama dengan Melly, terlalu ramai. Matanya menoleh ke arah seseorang yang sedang duduk memakan permen karet. Lintang tersenyum sesaat kemudian senyumnya pudar saat melihat orang yang dia pandang sedang berbincang dengan orang lain.
Lebih tepatnya, Kakaknya sendiri.
Sejak kapan?
"Lin, kenapa enggak masuk?" tanya Melly. Melihat arah pandang Lintang membuat Melly paham.
"Hm, lo cemburu ya? Btw sejak kapan kakak lo dekat sama dia?" tanya Melly.
Lintang mengidikkan bahunya acuh kemudian melangkah maju masuk ke kantin.
Mega yang melihat adiknya itu masuk, langsung berjalan keluar. "Aku duluan, Bian!" ujar Mega lalu pergi meninggalkan kantin.
Lintang terus menatap ke arah Mega. Kemudian sesaat dia menoleh ke arah Abian yang kembali fokus dengan makanannya.
Lintang memang sudah lama mengincar Abian, bukan karena tajir. Tapi karena kepintaran dan bakat yang dimiliki oleh Abian.
Abian sudah banyak memimpin ekstrakurikuler, di antaranya adalah; Basket, Musik, Mading, dan juga OSIS. Jabatannya pernah menjadi ketua OSIS, namun setelah pemilihan ketua baru Abian fokus ke mading dan basket. Waktu luang dia pakai untuk ikut musik, jadi dia tak menetap di sana. Kadang-kadang saja.
Ini adalah salah satu keunggulan sekolah di sini. Bebas jika punya bakat dan kecerdasan, Abian juga sering mengikuti lomba olimpiade bersama dengan Mega dan Bagas.
"Eh Lintang!" sapa Abian saat itu juga.
Lintang yang termenung langsung mendongak melihat sumber suara. "Eh kak? Kenapa?"
"Nanti kamu arahin teman ekstrakurikuler cheerleaders untuk berkumpul karena nanti akan ada tanding basket di SMA ini, pembukaan nanti anak cheerleaders yang buka ya," ujar Abian.
Lintang mengangguk dan tersenyum. "Iya, Kak!" ujarnya dengan semangat.
Lintang selain berbakat jadi model, fashion show, dia juga mahir dalam menari dan itulah banyak yang mendukung dirinya masuk dalam cheerleaders. Memang kadang banyak yang meragukan Mega dan Lintang bersaudara karena jika dilihat mereka jarang bertegur sapa.
****
Mega mengambil surat perizinan mengikuti ekstrakurikuler, semoga saja dia bisa membujuk ayahnya untuk menandatangani surat ini. Sungguh, Mega takut namun bagaimana? Ini juga demi keaktifannya di sekolah.
"Woy!" Mega baru saja ingin melangkah, lalu menoleh.
"Ingat gue kan?" Satya berjalan menghampiri Mega.
Mega mengangguk. "Iya, kenapa?"
"Engga ada niatan traktir gue karena udah nolong lo dari kurungan yang menakutkan itu sampai-sampai lo teriak da—"
"Stttss!" Mega menempelkan jarinya di bibirnya menyuruh Satya untuk tidak membahasnya.
"Udah mau bel." Mega melirik jam tangannya.
"Nggak apa-apa, pulang biar traktir gue somay sama es krim okey?"
Mega menghela napasnya pelan. "Enggak bisa, aku harus langsung pulang."
"Oh, wait-wait lo pake aku-kamu?"
Mega mengangguk. "Kebiasaan gitu deh. Udah kan? Maaf nanti lain kali kalau ada waktu kita makan bareng. Aku harus ke kelas, bye!" Mega berlari meninggalkan Satya.
Sudut bibir Satya tertarik.
Dia berjalan santai di lapangan menuju kelasnya, dia melirik beberapa cewek yang juga berjalan. Satya bingung dengan sekolah ini; termasuk sekolah unggulan dan elit namun tata krama anak-anak di sini tak jauh beda dengan sekolah pada umumnya.
Termasuk dirinya sebenarnya, kalau bukan karena Papanya dia tak akan pernah mau pindah ke sekolah ini.
Najis, amit-amit.