Bab 8

1059 Words
Malam itu penuh ketegangan untuk keluarga Shyam. Mega berdiri di ujung sana dengan keringat bercucuran karena menahan sakit di bagian kepalanya karena dipaksa untuk terus belajar, dipukul setiap salah dalam mengerjakan. "Kamu jangan main-main sekarang, udah kasih les privat lama-lama tau-taunya nilainya malah turun! Kamu sebenarnya keturunan siapa sih, otaknya dangkal banget biar diajarin beberapa kali," kesal Adhitiya penuh dengan kemarahan. "Mega udah lakuin sebisa Mega, Pa. Ini hasilnya juga Mega yang paling tinggi kok," ujar Mega. "Tapi tetap salah kan? Kita cari yang sempurna, bukan yang tertinggi. Karena sempurna itu sudah tentu paling tinggi, tapi yang tinggi belum tentu sempurna," ujar Adhitiya telak tidak ingin dibantah. "Kamu sering sekali membantah sejak Bagas, si Bagas teman kamu itu ke rumah. Papa tak akan segan-segan nyuruh orang buat keluarin dia dari sekolah jika dia menjadi alasan kenapa anak Papa kinerja belajarnya menurun," ujar Adhitiya. "Jangan bawa-bawa Bagas, Pa. Ini urusan Mega bukan urusan dia," ujar Mega. Untuk saat ini dia benar-benar berani mengungkapkan apa yang ingin dia katakan, karena terlalu capek jika terus diam namun akhirnya dia selalu saja dikekang. Apa gunanya?  "Permisi tuan, ini ada surat yang lupa saya sampaikan," tutur salah satu pelayan yang menunduk sambil memberikan surat itu. Mega membulatkan matanya. Gadis itu berusaha menetralkan jantungnya yang berdegup kencang.  Adhitiya mengambilnya dan mulai membuka surat itu, dia membacanya dengan seksama.  BRAK! Semua orang terkejut, saat Adhitiya memukul meja tempat Mega belajar. Gadis itu mendongak ke arah Papanya yang sedang menatapnya tajam. Mega menunduk mulai berdoa agar dirinya terselamatkan malam ini, setidaknya tidak ada bekas pukulan di bagian wajahnya.  Karena masih ada hari besok. Mega tak bisa menutupi luka lebamnya.  "INI APA MEGA?!" teriakan itu membuat gadis berumur 15 tahun itu terlonjak kaget.  Kertas itu Adhitiya melemparnya tepat di wajah Mega. "KAMU BOLOS?!"  Mega menggeleng, mulutnya seakan bungkam melihat kemarahan ayahnya. Jujur, Mega sangat takut saat ini tak berani menatap mata Ayahnya.  Adhitiya menarik tangan Mega menuju sebuah ruangan, dihempasnya tangan Mega ke dalam ruangan itu membuat tubuh gadis itu menabrak keras lemari besi di belakangnya. Adhitiya mengambil sebuah rotan.  Memukulnya tepat di kaki Mega. "Ini untuk kamu yang nilainya turun!" Adhitiya memukul kaki Mega. Gadis itu mulai terisak menahan sakitnya, teriakannya bahkan tidak membuat siapa pun menolongnya, termasuk ibu dan adiknya sendiri. "Papa udah, Pa ...." Ucapan Mega mulai melirih. plak plak. "Ini untuk kamu yang bolos." Plak plak. "Ini karena kamu sering membantah!" Adhitiya memukul di bagian lengah kiri Mega, tangis gadis itu pecah.  "Papa ...." "Mega ini anak Papa," ujarnya sekuat tenaga. "ANAK PAPA TIDAK ADA YANG BODOH KAYAK KAMU!"  Pintu itu tertutup dengan keras. Adhitiya membantingnya meninggalkan Mega di dalam sana. Mega tersandar di lemari, badannya terlalu remuk untuk berdiri, pakaiannya sudah lusuh, badannya benar-benar lemas, pandangannya memburam karena air matanya yang terus mengalir.  "Sakit," lirih gadis itu. Mega menatap kakinya yang penuh dengan bekas pukulan rotan, beralih pada tangannya. Sebelumnya dia pernah, namun tak separah ini. Kenapa? Kenapa dunia tak adil bagi dirinya, Mega tak ingin kekayaan ini! Mega butuh orang yang perhatian dan sayang kepada dirinya.  Percuma kaya, tapi tak punya hati. Mega menangis terus menerus, sakit yang dia rasa ini bukan seberapa. Namun kemarahan ayahnya begitu membuat dirinya takut. Tubuhnya bergetar. *** Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, pintu itu terbuka. Lintang datang membawa sebuah kotak P3K bersama dengan alat kompres dengan air hangat. Lintang menatap kasihan kepada Mega, dia sebelumnya tak pernah prihatin sampai seperti ini.  Namun, jika dilihat-lihat Papanya benar-benar gila. Membiarkan anaknya seperti ini. Kakaknya ini masih berumur 15 tahun, tapi sudah diperlakukan seperti ini. "Kak?" Lintang mencoba memegang bagian tubuh Mega. Mega bergeming kecil, dia mendongak. "Ngapain kamu ke sini?" tanyanya pelan hampir tidak bersuara. Lintang memperbaiki posisinya kakaknya. "Nggak usah ditanya kenapa ke sini." Lintang mulai membasahi sapu tangan dan mulai mengompres luka bekas pukulan ayahnya. Mega meringis setiap luka itu disentuh. Mega hampiri kehilangan kesadarannya. "Bertahanlah," gumam Lintang. Dia beralih mengambil obat merah dan mengolesnya perlahan. "Biar enggak terlalu kentara kalau udah diobatin." Lintang membereskan semuanya.  Lintang memberikan segelas air kepada kakaknya. Membantunya agar air itu bisa diteguk sepenuhnya. Lintang mengusap wajah Mega, lalu pergi meninggalkan ruangan itu dan kembali menguncinya. Mega kembali menangis. Gadis itu lemah, tidak kuat jika diperlakukan seperti ini. Tepat pukul 3 pagi, pintu terbuka kembali. "Kamu keluar ke kamar sekarang juga! Mandi dan belajar!" perintah Adhitiya. Mega yang tertidur langsung terbangun, gadis itu mencoba berdiri dengan sekuat tenaga. Adhitiya yang bosan langsung menarik tangan anaknya itu. Menarik sampai di kamar Mega. "Sana." Adhitiya mendorong tubuh Mega. Mega menunduk lalu masuk ke dalam kamarnya, dia meraih ujung lemari dan berjalan ke ranjang miliknya.  Pintunya kamarnya terbuka.  "Non ...." Bibi Asna—salah satu dari asisten rumah tangga yang usianya tak muda lagi. Dia adalah asisten rumah tangga pertama di rumah ini, sejak Mega masih kecil. Mega menoleh, lalu tersenyum. Bibi Asna menggeleng lalu mengusap wajah Mega. "Non, bibi bawain makanan. Non belum makan kan?"  Mega terdiam, lalu berkata, "Untuk apa Mega makan, Bi? Mega mau mati aja rasanya kalau diginiin terus," keluh gadis itu. Bibi Asna menggeleng. "Bibi percaya kalau Non Mega itu bisa jadi apa yang orang tua Mega harapkan, jangan patah semangat ya, Nak."  Bibi mengelus kepala Mega dengan lembut. "Mega enggak sanggup ...." Bibi Asna mulai menyuapi makanan masuk ke mulut Mega. Mega menerima suapan itu, tidak ada percakapan di tengah Mega sedang makan. Selesai makan, Bibi Asna membantu Mega untuk membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya Mega. Mega tersenyum, merasa lebih baik sekarang. "Makasih, Bi." Mega duduk di meja belajarnya. "Iya Non, kalau butuh bantuan langsung panggil Bibi aja ya?"  Mega mengangguk sebagai jawaban. Bibi Asna keluar. Mega kembali fokus ke pelajaran yang sempat Kak Anggi ajarkan kepada dirinya tadi. Belum sempat dirinya makan, sudah disemprot duluan oleh Papanya. Takdir menjadi anak seperti ini, pergerakan Mega terhenti saat merasa lukanya masih sangat nyeri. Mengingat Lintang sempat mengobatinya. Ternyata adiknya itu baik juga, namun kenapa baru sekarang? Lintang bisa membantu Mega untuk keluar dari lingkaran jahat ini. Jika adiknya itu mau, namun ketauan membantu Mega saja Lintang sudah k.o duluan dan berjanji tidak akan mengulanginya. Itu sudah jadi siklus kehidupan Lintang adiknya. Pada akhirnya orang yang paling baik dan peduli dengan diri sendiri adalah, diri sendiri. Mega bahkan tak berharap banyak, hanya beberapa saja. Salah satunya punya keluarga yang saling menyayangi dan menerima segala kekurangan dan kelebihan anak-anaknya.  Itu impian kecil Mega yang sampai kapan pun tak akan terwujud. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD