Bab 7

1078 Words
Mega mengangguk kecil, lalu pandangannya beralih ke depan. Dia melirik jam tangannya. "Huh, mampus deh gue." Lelaki yang menolong Mega itu kembali menoleh. "Kenapa?" "Bolos pelajaran pertama," jawab Mega. "Yaelah gitu doang, gue udah hampir satu semester kayak gini biasa aja. Btw gue baru tau lo bisa diajak ngomong kayak gini, biasanya juga lo diam, kaku, kayak batu es," ujarnya. "Hm." "Oh ya gue Satya," ujarnya mengulurkan tangan. "Satya Hadiwijaya," ulangnya.  Mega menatap lama tangan itu, lalu mendongak. "Gue Savana Mega, btw thanks udah bantuin tadi." "Gue duluan."  Mega pergi meninggalkan Satya. Lelaki itu hanya mengangguk lalu kembali menarik tangannya yang tak disentuh sama sekali oleh gadis itu. Satya tertawa lalu menggeleng.  **** Mega berlari meninggalkan taman tadi, berakhir masuk ke dalam kelas semua tatapan beralih kepada dirinya yang tiba di ujung pintu, napasnya naik turun. "Lo dari mana, Mega?" tanya Bagas bingung.  Mega menatap Bagas lama kemudian menghela napasnya pelan. "Nanti aku jelasin," tuturnya lalu masuk ke dalam kelas.  Bagas mengangguk, Mega duduk di tempat duduknya lalu memandang ke depan. "Meg, lo disuruh ke ruangannya pak Adam, dia manggil lo," ujar Sintia—salah satu teman kelasnya. "Sekarang?" Sintia mengangguk. Mega berdiri dan pergi meninggalkan kelas dan berjalan menuju ruangan Pak Adam.  Tok, tok, tok! "Masuk." Mega membuka pintu ruangan pak Adam lalu masuk dengan perlahan, gadis itu menunduk sebagai hormat. "Silahkan duduk, Mega." Mega mendudukkan tubuhnya di depan Pak Adam. Pak Adam menatap Mega, gadis itu terdiam sesaat. "Kamu tau kenapa saya manggil kamu kan?" tanya Pak Adam. Mega mengangguk. "Iya, Pak. Maaf saya tadi tidak ikut pelajaran bapak karena ada sesuatu hal yang ...." Pak Adam menunggu Mega menjelaskan.  "Yang?" "Tadi ada beberapa kesalahan yang saya perbuat makanya tidak masuk ke pelajaran bapak, saya mohon maaf pak." Mega menunduk. "Saya sudah mengirim surat keterangan kepada orang tau kamu, tentang bolos pembelajaran pertama ini." Mega mendongak lalu terkejut. "Tapi, Pak? Saya baru melakukan kesalahan ini untuk pertama kalinya. Saya mohon untuk tidak memberitahu kepada orang tua saya, saya berjanji tidak akan mengulanginya." Mega terus memohon. "Terlambat. Saya sudah mengirimkan kepada orang tua kamu," ujar Pak Adam. Mega menutup matanya, lalu menghela napas pelan. "Yasudah pak, sekarang apa yang akan saya lakukan?" "Tidak ada, ini peringatan pertama. Silahkan kembali ke kelas," ujar Pak Adam. Setelah perselisihan itu, Mega kembali ke kelas. Guru biologi sudah ada di kelas, Mega masuk dengan memberikan salam. Mega duduk dan menatap ke arah papan tulis.  "Hari ini ibu akan membagikan hasil ulangan kalian," ujar Ibu Tuti. "Baik bu." "Anita Jasoka." "Sintia Adima." "Hara Uraira." "Savana Mega," ujar Bu Tuti. Mega tak bergeming.  "Savana Mega." "Meg." Sintia menepuk pundak Mega, membuat gadis itu tersentak kecil.  "Mega, kenapa kamu melamun? Kamu sakit?" tanya Ibu Tuti. Mega menggeleng. "Enggak bu." Gadis itu mengambil lembaran ujiannya.  "Salah kamu ada 2," ujar Bu Tuti. "Tapi tenang saja, kamu yang paling tinggi di antara teman-teman kamu." Mega terdiam, lalu mengangguk dan berterimakasih.  Ah, pasti Adhitiya akan marah kepadanya setelah tau anaknya ini bolos pelajaran; nilai ulangan bukan 100, ah itu sudah cukup menjadi beban hari ini, esok atau mungkin selamanya.  *** Sepulang sekolah, Mega dan Lintang menunggu di ujung gerbang. Selang beberapa menit sebuah mobil hitam mengarah ke mereka. Rinai dengan lambaiannya tersenyum kepada anaknya. Lintang tersenyum dan berlari masuk ke dalam mobil. Mega hanya memasang wajah datar sambil berjalan menuju mobil. Selama perjalanan, Lintang terus mengoceh dan memberitahu perkembangannya selama di sekolah, mulai dari pujian teman-teman hingga guru kepada dirinya, dan juga menceritakan bahwa ada yang menyatakan perasaannya kepada dirinya namun gadis itu menolak. Mega terdiam di sepanjang perjalanan, menatap jalanan dari kaca mobil.  "Malam ini, katanya Papa mau ngomong sama kalian," ujar Rinai tepat membuat Mega menegang seketika. Jantungnya berpacu dengan cepat, napasnya seakan berhenti. Mega mungkin sudah sering dibentak, namun bentakan demi bentakan itu lama membekas di dalam hati dan pikirannya dan sampai terbawa mimpi. Itu yang membuat Mega stress dan tertekan dengan keluarganya sendiri.  Mega berusaha berdiri dengan kemampuannya, bukan karena paksaan namun tidak lagi. Apa sekarang? Dia malah selalu mendapatkan kesialan jika terus memaksa kehendaknya, dia bebas salah, dia cuek juga salah, serba salah kehidupannya baik di rumah atau di sekolah sama saja. Impian Mega ada hidup sendiri, berdiri sendiri dan berusaha sendiri dengan perasaan yang tenang. Dia tak mau dipaksa, namun keadaan yang memaksa dirinya untuk melakukan hal yang terpaksa.  Mega turun dari mobil, masuk dengan perlahan ke kamarnya. Menyimpan tas dan langsung membuang dirinya di kasur king miliknya. Dia menatap langit-langit kamar yang penuh dengan bintang yang menyala, ini adalah permintaannya saat masih kecil. Dia suka bintang, namun dia hanya bisa datang saat malam hari. Saat malam hari, Mega jarang keluar bahkan hanya bisa di balkon dan cuman saat-saat tertentu saja. Jadi, dia meminta untuk dipasangkan bintang dan bulan di langit-langit kamarnya. Tidak banyak, namun indah. Mega terus memikirkan apa yang akan terjadi malam ini, mungkin dia akan dipukul? Atau dibentak? Dimarahi? Dikurung sampai esok hari? Dipaksa belajar? Atau tambahan les privat? Lelah sungguh. Pintu kamarnya terbuka.  "Mega kamu mandi, ganti baju terus makan abis itu kamu ke ruang les privat kamu. Guru kamu sebentar lagi akan datang, les privat kamu ditambah 3 jam," ujar Rinai. Mega mengubah posisinya menjadi duduk, gadis itu hanya mengangguk. Sejam saja membuat dirinya lelah, gimana dengan 3 jam?  Lupa! Mega lupa untuk mengambil surat perizinan mengikuti ekstrakurikuler. Ah, kenapa jadi rumit seperti ini?  Gadis itu terlalu memikirkan banyak hal, dia melepas pakaiannya lalu masuk ke dalam kamar mandi. Merendam dirinya di bath up cukup lama, lalu mulai membersihkan tubuhnya. 20 menit mandi, gadis itu bersiap untuk les privat. Gadis itu mengeringkan rambutnya dan mengambil buku-bukunya, keluar dengan setelan rumahan biasa. Dia masuk ke dalam sebuah ruangan yang dipenuhi dengan buku-buku pelajaran. Lampu yang sederhana namun cukup sebagai penerang. Di sana ada kursi beserta meja-mejanya. "Kamu pucat, Dek?"  Gadis yang usianya beda sekitaran 6 tahun dengannya itu menatap wajahnya dengan lekat. "Kamu baik-baik aja? Udah makan?" "Enggak papa kok Kak Anggi, aku cuman kecapean aja," ujar Mega. Anggia, merupakan salah satu guru les privat Mega di hari Senin, Rabu dan Kamis.  Mega memiliki banyak guru les privat, sering berganti hanya karena hasil yang mereka ajarkan tidak sesuai dengan harapan orang tua Mega, dan alhasil mereka dipecat dan digantikan dengan orang baru. Namun, ini adalah guru les privat Mega yang termasuk baik dan perhatian. Karena selalu memberikan waktu istirahat yang lebih untuk dirinya, memberikan ringkasan langsung saat Mega benar-benar lelah, jadi Mega hanya tinggal menghapal dan mempelajarinya secara mandiri.  Kehidupan Mega memang dikelilingi tekanan, dan juga kebaikan. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD