Bab 6

1056 Words
Pagi itu, upacara dilangsungkan dengan tenang seperti biasa. Mega berdiri kedua paling depan, bisa melihat jelas kepala sekolah sedang berbicara mengenai perubahan sekolah ini.  "Termasuk ekstrakurikuler," tutur kepala sekolah. "Peminat ekstrakurikuler sangat sedikit, hingga kami para guru sekalian memutuskan untuk mewajibkan satu ekstrakurikuler bagi siswa-siswi di sini," jelasnya. Mega terkejut, gadis itu mengulum bibirnya mencoba memikirkan apa yang akan dia katakan kepada orang tuanya. "Ada yang ingin ditanyakan?"  "Ya kamu." Kepala sekolah menunjuk ke arah gadis yang mengangkat tangannya.  Mega. "Silahkan, apa yang ingin kamu tanyakan?" "Sebelumnya terimakasih untuk bapak yang mempersilahkan saya bertanya, sebenarnya saya tidak ingin bertanya. Melainkan ingin memberitahu sesuatu," ujar Mega. Seisi lapangan hening, semua siswa menatap ke arah Mega.  "Jika ingin anak-anak di sini tidak merasa keberatan, mohon diberikan surat pernyataan perizinan untuk semua siswa mengikuti minimal satu ekstrakurikuler." Kepala sekolah menatap Mega.  "Apasih, emang kenapa?" Salah satu siswa menyahuti.  "Karena tidak semua orang tua setuju anaknya ikut ekstrakurikuler." "Dan itu saya sendiri." Bisikan demi bisikan kembali terdengar di telinga Mega. Gadis itu berusaha bertahan pada kekuatannya sendiri, menebalkan telinga dan tak memperdulikan omongan orang-orang sekitar. Kepala sekolah mengangguk. "Baiklah, bagi kalian yang orang tuanya keberatan dengan ekstrakurikuler ini, dipersilahkan ke ruangan tata usaha untuk mengambil surat pernyataan perizinan yang nanti akan dibuat," ujar kepala sekolah final membuat Mega menghela napas, gadis itu tersenyum sekilas. Setelah upacara selesai, Mega langsung mengganti pakaiannya karena sebentar lagi pelajaran olahraga akan dimulai. Mega mengganti pakaiannya di ruang ganti di sana banyak sekali orang, lebih tepatnya teman kelasnya sendiri. Kedatangannya membuat orang-orang di sana menoleh dan menatap datar ke arahnya. Mega meraih brangkas lemarinya, membukanya dengan pin.  "Anak sok disiplin kayak dia ini susah dimusnahkan," ujar Anita. "Caper di depan banyak orang lagi, enggak capek apa? Di kelas jadi juara, dapat nilai jeblok dikit aja diprotes, sekarang perintah kepala sekolah pun dia protes." "Saking pengen caper ya?" tanya Hara.  "Capek enggak? Hidupnya penuh dengan pencintr—" "Aw!!" Mega langsung menendang kaki Anita yang menghalang jalannya menuju ruang ganti baju. "Ini bukan kamar lo tuan putri, jangan ngehalang orang lewat," ujar Mega tak perduli dengan omongan basi teman-teman kelasnya yang hampiri 70% julit dengan dirinya.  25 persen di antaranya lebih memilih diam, mengamati, tidak ikut campur baik menindas atau membela. 5 persen lagi, ada yang peduli, sesekali menanyakan hal-hal dengan baik, membela di saat-saat teman pembulinya keterlaluan. Beginilah kisah kehidupan Mega, bukan di rumah atau di sekolah sama saja. Sama-sama harus punya drama sendiri, benar kata mereka ini terlalu pencitraan bagi dirinya.  Mega menutup pintu, dia bersandar di tembok. Menghela napas panjang, mulai mengganti pakaiannya. **** Semua berkumpul di lapangan, anak laki-laki sibuk dengan basket sedangkan anak perempuan duduk di pinggir bersama dengan guru olahraga mereka. Giliran laki-laki memainkan lapangan, para cewek-cewek hanya diberikan kesempatan untuk berlatih dasar. Walau anak perempuan yang ikut eskul basket menyela dan kesal, tentu tak ada perubahan keputusan Pak Adam.  Pak Adam, adalah salah satu guru yang sangat disiplin. Selain dari menjadi guru olahraga, dia juga berperan penting jika ada acara studi tour, ujian komputer dan hal-hal penting lainnya.  Dia juga memegang beberapa ekstrakurikuler di berbagai bidang dengan bantuan beberapa guru.  "Bunga, silahkan giliran kamu."  Gadis yang bernama Bunga itu langsung berdiri menatap orang yang akan mengajarinya. Gadis itu menoleh ke arah Pak Adam. "Pak, yang ajar saya bisa orang lain?" "Mislanya Ira, dia anak basket tim putri?" tanya Bunga. "Tidak Bunga, ini udah bapak atur dengan baik-baik." Bunga tak mau membantah lagi, dia mulai mengambil bola dan berhadapan dengan Bagas. Bagas hanya diam sambil memandang objek lain, matanya mencari seseorang yang sedari tadi tak ada di pandangannya.  "Bagas fokus sama orang yang kamu ajar," titah Pak Adam. Bagas tersentak, lalu menoleh melihat Bunga yang sedang asyik sendiri memainkan bola tanpa memperdulikan Bagas. Bagas meraih bolanya membuat Bunga terdiam.  "Gue ajarin." "Em." "Lo pegangannya kayak gini." Bagas memperagakan cara memegang bolanya.  Untuk lay up. "Lalu fokus sama titik yang akan lo lempar, bayangin aja batu yang lo lempar biar kena mangga yang lo inginkan," ujar Bagas. "Dan ...." Bagas melempar dan masuk! Bunga bertepuk tangan, lalu tersenyum.  "Sekarang lo." 5 menit setelah itu, Bunga berhasil mengambil satu skor memasukkan bola ke dalam ring. "Sekarang giliran ...." "Savana Mega Shyam," ujar Pak Adam mengalihkan pandangannya mencari sosok Mega.  Semua orang terdiam, tidak ada sosok anak unggul yang selalu menjadi juara di kelas. Bagas pun turut menoleh. "Mega tidak ada pak, mungkin dia bolos," ujar salah satu siswi di ujung sana.  "Enggak mungkin. Mega enggak gitu," bela Bagas. "Seunggul-unggulnya orang, pasti punya kekurangan. Mungkin Mega malas untuk bergerak jadi bolos pelajaran." "Dia enggak pernah bolos di pelajaran saya," ujar Pak Adam. "Bagas coba kamu cari Mega ada di mana," titah pak Adam.  Bagas mengangguk lalu berlari meninggalkan lapangan. Alasan kenapa Pak Adam menyuruh Bagas, karena Bagas adalah anak yang paling bertanggung jawab di kelas. Apa yang disuruhkan pasti dia bisa kelola sebaik-baiknya.  Bagas mencari mulai dari kelas, kantin, taman dan beberapa ruangan. Bagas menarik napasnya pelan, lalu kembali memasang mata di seluruh penjuru sudut.  Kamar mandi. Bagas tak mungkin ke sana, takut ada perselisihan dari anak-anak cewek tentang dirinya. Bagas kembali ke lapangan dengan napas ngos-ngosan. "Gimana, Gas?" tanya Pak Adam. "Saya tidak menemukan Mega, Pak. Saya sudah mencari ke semua tempat tapi ... dia tidak ada," ujar Bagas. Pak Adam berdiri, lalu menatap anak-anak muridnya sekali melirik jam tangannya. "Tinggal 10 menit, jam saya berakhir. Kalau kalian ketemu sama Mega suruh dia ke ruangan saya menghadap," ujar Pak Adam. "Sekarang kalian bisa kembali ke kelas." Semua siswa kembali ke kelas, kecuali untuk para ciwi-ciwi langsung ke tempat ganti baju. Anita dkk yang baru saja masuk saling bertatapan. "Mana kuncinya?" tanya Anita.  Hara merogoh sakunya dan memberikan kuncinya. Anita yang baru saja melangkah masuk, heran melihat pintu itu sudah rusak tergeletak di depan.  "GUYS!" teriak Anita. Hara, Jia dan Mutia langsung berlari menghampiri Anita. "Kenapa?" Mereka semua terkejut saat melihat sudah tidak ada Mega di sana, hanya ada pintu yang rusak. Mereka saling pandang memandang. "Kemana tu anak?" tanya Hara. **** Mega menyandarkan tubuhnya di pohon taman belakang, sambil melirik seseorang yang baru saja membantu dirinya. Ini first time, ada yang menolong dirinya selain daripada Bagas. "Lo siapa?" Lelaki itu menoleh dengan santai, duduk dengan kaki terlentang. "Gue anak kelas sebrang, mau bolos tapi ngeliat suara lo teriak makanya gue masuk," ujarnya. Mega terdiam, jujur dia tidak tau banyak anak-anak satu angkatannya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD