Bab 5

1069 Words
Mega menyisir rambutnya yang masih basah, gadis itu menoleh sekilas melihat jam dinding. Sebentar lagi dia akan diintrogasi tentang pekerjaan sekolah; pelajaran dan lain sebagainya. Gadis itu mendudukkan tubuhnya di kursi belajar, menyalakan lampu dan mulai membuka bukunya. Lembaran demi lembaran dia buka dengan perlahan. 20 menit mengerjakan semua pekerjaan sekolah pintu terbuka. "Makan malam nanti dibawa ke sini, kamu lanjut belajarnya. Makan kalau udah selesai belajar," ujar Rinai. Mega mengangguk kecil, pintu kembali tertutup. Gadis itu menghela napasnya pelan, ingin mengeluh sekali saja. Tapi sepertinya tak akan bisa, melihat CCTV yang terpasang di sudut ruangan merasa dirinya bukan tuan rumah di sini, melainkan tahanan yang harus terus diawasi. Pintu kembali terbuka, seorang pelayan datang membawa nampan berisi makan malam untuk Mega. "Ini makan malamnya, Non." "Makasih." Pelayan itu keluar, Mega meraih nampan itu. "Kamu udah selesai belajar?" Suara berat itu mengalihkan pandangannya. Adhitiya berdiri di pojok pintu, dengan tatapan elangnya. Mega menghela napasnya lalu menggeleng. "Dikit lagi kok, Pa. Perut Mega kelaparan, enggak bisa mikir kalau laper," ujarnya. "Sejak kapan? Kamu kalau laper malah bisa mikir," ujar Adhitiya. "Udah enggak, Pa. Semenjak perut Mega selalu sakit kar—" "Katanya pekerjaan sekolahnya tinggal dikit? Yaudah kerjain dulu itu, baru makan. Kan tinggal dikit," ujar Adhitiya. Mega menatap Papanya cukup lama hingga nampan itu dia kembalikan ke meja satunya.  Meraih pulpen dan mulai menulis kembali. Adhitiya menghampiri anaknya, mengelus pelan pucuk kepala Mega. "Hari ini ujian Lintang dapat 100, kamu hasilnya udah selesai?" tanya Adhitya. Mega masih fokus dengan tulisannya. "Belum, Pa. Besok mungkin udah keluar," jawab gadis itu. "Kamu rajin-rajin belajarnya ya, jangan tinggalin setiap pelajaran yang ada di sekolah. Tetap jadi yang pertama, kamu ingat kan? Apa hukuman kalau nilai turun?" tanya Adhitiya. Mega mengangguk. "Ingat, Pa." *** Mega berjalan di sepanjang koridor sekolah dengan buku yang bertumpuk yang sedang ia bawa. Gadis itu sering mendapatkan tatapan sinis oleh orang-orang karena terlalu sombong untuk menjawab sapaan, karena menurut Mega itu sangat membuang waktu. "Mega!" Suara yang sangat dia kenali itu membuatnya menoleh. "Gue bantuin." Bagas dengan cekatan mengambil beberapa buku di tangan Mega. Mereka berdua berjalan beriringan bersama menuju kelas. Langkahnya terhenti saat Rinai berdiri menatapnya dari ujung sana bersama dengan Lintang. Mega menghela napasnya pelan. "Biar aku aja yang bawa. Kamu ke kelas aja duluan, soalnya Mama aku ada di sana," ujar Mega. "Enggak, gue bakal bantuin. Emang kenapa kalau ada mama lo?" tanya Bagas. "Kamu enggak bakal ngerti, Gas. Kamu pergi atau kita engga bisa temenan?"  Bagas menatap Mega sedikit lama, lalu mengembalikan bukunya kepada Mega dan berlalu pergi meninggalkan gadis itu. Mega berjalan lurus, sedangkan Bagas melewati koridor samping.  "Kamu kenapa masih temenan sama dia?" Pertanyaan itu membuat Mega menatap Lintang, adiknya itu paham lalu pergi meninggalkan mereka berdua.  "Dia teman kelas Mega, jadi bagaimana pun dia akan berteman sama Mega, Ma." "Tapi Mama enggak suka kamu temenan sama dia, dia itu anaknya enggak sopan dan dilihat dari penampilannya yang biasa, kita beda kasta sama dia. Gimana caranya agar Mama bisa buat kamu ngerti?" tanya Rinai. "Mega udah besar, Ma. Udah bisa tau mana buruk mama enggak, Mama enggak tau sikap Bagas kayak gimana jadi enggak usah simpulin kalau dia itu bukan anak yang sopan," ujar Mega. "Selagi kamu masih makan pakai uang orang tau, kamu harus tetap ikutin apa yang Mama dan Papa inginkan." "Mega udah lakuin semuanya, tapi untuk kali ini, maafin Mega. Mega enggak bisa." Gadis itu berlalu begitu saja, meninggalkan Rinai. Bukan bermaksud tidak sopan, tapi menghindari perdebatan yang sebentar lagi akan meledak.  Mega tak suka perdebatan di depan banyak orang.  Apalagi dengan keluarganya sendiri.  "Mega!" Panggilan itu justru dihiraukan oleh Mega. Rinai mengontrol emosi dan raut wajahnya kemudian dia melangkah menuju ruangan. **** Mega mengambil pulpen, mulai mencatat kembali ringkasan yang dia hapal semalam untuk mengingat-ingat kembali pelajarannya. Mega tak bisa leluasa bahkan di kelas ini, karena khusus kelasnya ada CCTV yang dipasang oleh keluarganya.  Mega harus belajar, belajar dan belajar itu saja.  Memang keras, tapi lama kelamaan Mega sudah terbiasa dengan tekanan ini. Saking seringnya merasakan sakit, tangisnya bahkan tidak pecah jika hanya dibentak, atau dipukul.  "Jangan terlalu serius, enggak baik juga kali kalau dipaksain," ujar Bagas. "Kayak enggak biasa aja." "Udah biasa sih, cuman lama kelamaan gue bosan. Banyak banget ya anak orang kaya yang sibuk main dan juga sibuk dengan kekayaannya, enggak kayak lo," ujar Bagas. "Keluarga gue emang beda, unik atau aneh. Aku enggak bisa nilai antara keduanya," ujar Mega. "Gue salut sih dengan didikan orang tua lo, yang bisa bikin lo segiat ini belajar." "Tapi pernah lo nolak untuk belajar karena capek?" tanya Bagas hati-hati. Mega menutup bukunya, dia sudah selesai mencatat. Menatap lekat Bagas lalu berkata, "Kalau aku bilang kayak gitu, mereka bisa menjawab semuanya." "Orang tua aku jauh lebih capek membiayai sekolah dan kebutuhan makan aku, kayaknya itu udah cukup buat aku ngerti posisi sebagai anak," ujar Mega. "Tapi itu kewajiban orang tua kepada anaknya," ujar Bagas. "Ngikutin apa yang diperintahkan orang tua juga itu kewajiban anak, mendengarkan perkataan orang tua itu kewajiban seorang anak, selagi itu baik, dan enggak buruk." "Gue yakin apa yang lo ungkapin enggak sesuai isi hati lo," ujar Bagas. "Seyakin apa kamu? Please lah, aku baik-baik aja. Udah terbiasa dengan semua ini," ujar Mega tersenyum. "Kalau gue jadi lo, udah k.o!" "Untung aku bukan kamu, yang bisa k.o begitu aja," ledek Mega.  "Ini pertama kalinya kita ngobrol panjang setelah beberapa bulan lamanya, dan gue senang karena lo masih mau berteman sama gue bukan ngeliat dari harta dan kasta." "Siapa yang peduli, dia yang aku temenin." *** Mega mengaduk-aduk baksonya, menatap sekitar lalu kembali fokus. Kantin siang ini cukup ramai, selebih dari mereka sibuk melihat cowok-cowok yang sedang tanding basket di lapangan. Mega ingin, tapi rasanya buang-buang waktu saja.  "Hidup lo batu banget ya? Diam kayak gini emang ada dampaknya?" tanya Siska—salah satu teman angkatannya yang masuk kategori aktif dalam ekstrakurikuler. Mega tak menggubris. "Kalau diajak ngomong minimal dijawab, atau direspon dengan anggukan. Emang orang tua lo cuman ngajar lo buat belajar? Tata krama lo rendah kalau gue liat," ujar Jia—teman Siska. Mega memasukkan bakso ke dalam mulutnya.  "Capek tau, dia diam doang kayak gini tapi bisa dikenal guru-guru. Bokap lo nyogok berapa?"  Pring!  Mega melempar sendok ke arah Jia. "Jangan pernah ngomong buruk tentang keluarga gue, karena lo semua enggak pernah tau lingkup keluarga gue!" ujar Mega. "Nih!" Mega melempar tisu. "Sumbat mulut kotor lo itu dengan tisu bersih."  Mega berlalu begitu saja. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD