Bab 4

1049 Words
“Ada … apa semua ini? Kenapa suara Kakak sampai ke luar rumah?” tanya Lintang kebingungan. Yah, sebenarnya tidak benar-benar kebingungan karena beberapa pelayan tahu persis kejadian yang dilihatnya secara tidak sengaja. “Kakakmu ini, lho. Bisa-bisanya dia ngebentak Mama di depan pelayan dan penjaga yang ada di rumah kita, sudah pasti dia gini gara-gara terpengaruh rakyat jelata itu!” seru Rinai kesal, serta memandang wajah Mega yang menahan amarahnya. “Terserah Mama mau ngomong apa, Bagas bukan rakyat jelata seperti yang Mama kira. Apa pun pandangan Mama tentang Bagas, aku gak peduli. Bagas itu temanku,” jelas Mega lalu segera pergi dari rumah, bersamaan dengan taksi online yang dia pesan tadi. Jika kalian berpikir bahwa mobil di rumah Mega hanya satu, kalian salah besar. Bahkan Mega sudah punya mobil sendiri, namun ia tidak berani untuk mengendarainya jika saat emosinya tidak stabil. Itu terlalu berisiko dan berbahaya untuk anak seumurannya. “Mau ke mana, Neng?” tanya supir taksi sabar. Dia sudah menanyakannya beberapa kali namun tidak direspon oleh Mega yang berusaha menahan air matanya jatuh mati-matian. “Ke mana aja deh, yang penting jauh dari sini.” Supir itu mengangguk, dan segera beranjak dari kediaman keluarga Shyam yang luasnya melebihi tiga kali lipat rumahnya. Tidak ada yang Mega lakukan selama berada di taksi, masih tidak habis pikir dengan Rinai yang memiliki pandangan buruk mengenai rakyat jelata. Bukankah semua manusia itu sama saja di mata Tuhan? Yang membedakannya hanya amalan semasa hidup. Bagaimana jika amalan rakyat jelata itu lebih besar dibanding mamanya? Itu sangat memalukan. “Neng, kalau ada masalah cerita aja, siapa tahu bisa ngeringanin beban di hati,” saran supir itu lembut, tidak ada unsur yang mencurigakan. “Masalah ini terlalu rumit buat diceritakan, Pak. Saya sendiri nggak tahu masalah sebenarnya itu apa, padahal saya sudah melakukan yang terbaik,” gumam Mega menatap bangunan kota pencakar langit yang berdiri dengan gagah. “Neng jadi anak pertama, kah?” “Iya, Pak. Memangnya kenapa?” Supir itu lambat laun bisa memahami posisi Mega, seorang gadis yang membutuhkan pertolongan mental ini terlihat sangat hancur dilihat dari sisi mana pun. “Itu artinya kedua orang tua Neng ngasih harapan tinggi, makanya dituntut buat jadi yang terbaik.” “Tapi masih ada adik saya, Pak. Kenapa dia lebih bebas ketimbang saya?” “Karena perhatian yang kalian dapat berbeda. Kamu dan adikmu juga berbeda, kalian punya sisi istimewa masing-masing.” Perlahan senyum Mega mengembang—walaupun tipis bahkan hampir tak terlihat. Hatinya sudah lebih tenang, dan mengatakan jika akan pergi ke perpustakaan untuk kembali mencari buku yang sangat diidam-idamkan. “Perlu saya tunggu, Neng?” tanya sopir taksi santai, yah walau Mega berasal dari keluarga Shyam, sang sopir tidak peduli. Toh sama-sama manusia. “Nggak perlu, saya masih lama buat pulang, sebelumnya maaf sudah dengar masalah pribadi saya. Bapak gak perlu sebarin semua itu ke sispa-siapa.” “Nona Mega sudah masuk ke dalam perpustakaan. Nyonya tidak perlu cemas, saya akan mengawasi Nona Mega dengan baik,” ucap seseorang sedang berkomunikasi dengan Rinai lewat ponselnya. *** Tidak terlalu banyak pengunjung hari ini, setidaknya Mega dapat menyendiri dengan aman, pikirnya begitu. Hanya ada sekelompok siswa SMA yang sepertinya sedang mengerjakan sebuah tugas kelompok, dan juga seorang laki-laki yang sibuk membaca novel ditemani dengan musik. Mega tidak peduli, ia berjalan menuju rak buku sejarah yang tinggi, disertai tiap-tiap buku yang tentu saja sangat tebal. Dinasti Sailendra judulnya, tebal buku yang diambilnya itu tak jauh berbeda dengan buku-buku lainnya. Inilah buku yang dicari-cari Mega setelah sekian lama. Sudah sangat lama dan warna kertasnya pun sudah menguning. Namun aroma buku novel selalu candu di dalam benaknya, membuatnya semakin bersemangat untuk membacanya. “Oh, ternyata isinya gak jauh dari ekspektasiku,” gumam Mega sudah mencapai halaman ke sepuluh. Entah darimana Mega menjadi sangat suka dengan buku yang diambilnya beberapa menit yang lalu, ingin membawanya pulang namun sudah pasti Rinai akan memarahinya habis-habisan. Tentu saja berakhir dengan hukuman dikurung di kamar seharian serta tidak dapat jatah makan di hari itu juga. Tidak ada kejadian aneh di sana, hanya tempat sunyi yang dipenuhi dengan buku, pengunjungnya pun sudah mengerti bahwa di perpustakaan itu tidak boleh berisik, dan mereka mematuhinya. “Pengen sih rasanya cari buku ini sama Bagas, tapi apa aku bisa?” tanya Mega dalam diri sendiri, setelah pertemuan Bagas dengan Rinai berakhir seperti itu, Mega sudah yakin tidak akan bisa berkumpul dengannya. Kecuali dengan cara yang sangat ekstrim, bukan Mega namanya jika melaggar peraturan seperti itu, terlalu berisiko. Bahkan, saat ini pun Mega tidak tahu jika ada salah satu pengawal yang membuntutinya sejak tadi, tentu saja pengawalnya bersembunyi di balik rak buku yang menjulang tinggi. Sejauh ini, menurutnya tidak ada pergerakan yang aneh, semua aman termasuk orang-orang yang memperhatikannya sedari tadi. “Kadang gue kasihan banget sama Nona Mega, orang tuanya keras, dituntut buat jadi yang terbaik, bahkan Nyonya Rinai aja berambisi banget buat pamer ke temen-temennya. Lagian, kenapa juga Nona sampai dilarang main sama rakyat jelata? Gue kan rakyat jelata juga astaga,” dumel penjaga yang sedang bertugas—Feri. Namun penjagaan Feri sedang lengah, sehingga Mega dapat melihat tubuhnya yang tegap itu. Dengan perlahan Mega menyusul Feri yang sepertinya sedang merenung. “Lagi ngapain, Pak?” Feri terpelonjak kaget, kecewa karena kali ini malah ketahuan dengan majikannya. “Y-ya … biasa lah Non, kerja,” jawab Feri kikuk. Suasananya menjadi semakin canggung ketika Feri mendapatkan kedatangan Mega yang memasang wajah suram. “Oh,” kata Mega singkat, setelah melihat tubuh tegap tadi, Mega langsung paham, pasti itu adalah suruhan dari Rinai. Astaga, keadaannya seperti ini, sampai kapan akan berlanjut? Tidak bisakah ia tenang untuk hidup atau bahkan memliki waktu yang benar-benar ‘sendiri’? Hanya kamar mandi yang terletak di kamarnya saja yang dapat menjawab semuanya. Bahkan kamar pun diberi kamera cctv. Sungguh, Mega muak dengan seluruh keadaan ini. Lebih baik menjadi seorang rakyat jelata namun keluarganya harmonis dan dapat menerima apa adanya. Jika kalian bertanya mengapa Mega tidak mencurahkan hatinya kepada Feri, itu karena Mega tidak pernah mempercayai orang rumah, sekalipun Lintang. Ah, mengenai Lintang, Mega juga terkadang berpikir memiliki hidup sebebas adik satu-satunya. Bagaimana bisa hanya dia yang dituntut? Sopir taksi tadi memang benar, tapi Lintang benar-benar bebas dan dapat diunggulkan di bidang non-akademis. Sedangkan Mega? Jangankan mencari bakat non-akademis, dia saja tidak boleh ikut ekstrakurikuler. Betapa merepotkannya hidup Mega.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD