“Mama kenapa harus tanya gitu ke temen aku, sih?” tanya Mega ketus. Lagian kenapa pula Bagas sampai tidak boleh memanggilnya dengan sebutan ‘Tante’?
“Supaya mama bisa menilai seberapa pantasnya bocah itu berteman sama kamu, Mega. Kamu tahu kita tidak boleh dekat dengan rakyat jelata, kan? Lagipula dia tidak bisa masuk dalam kriteria pertemananmu, kamu harus jauh dari bocah jelata itu,” jelas Rinai khawatir.
Sebelumnya Rinai sudah mendengar dari beberapa teman ‘sekasta’-nya bahwa rakyat jelata itu sangat kumuh, mereka tidak bisa membersihkan diri sendiri, juga selalu mengemis bahkan mencuri hanya untuk mencari makan.
Lebih jijik lagi, ketika Rinai melihat sekumpulan anak kecil yang memungut sampah di Tempat Pembuangan Akhir. Sudah jelas-jelas bila sampah itu memiliki aroma yang busuk, kenapa masih diteruskan? Itu artinya otak mereka terlalu dangkal.
“Pemikiran Mama tentang mereka salah, tidak semua rakyat jelata memiliki otak dangkal. Buktinya Bagas bisa mendapat beasiswa di sekolah, bukankah sangat bagus?” bantah Mega kesal. Hanya Bagas-lah satu-satunya teman yang ia punya, kenapa juga harus jauh dari anak pintar seperti dia?
“Justru karena itu, Mega. Harusnya kamu malu sekaligus jijik bisa temenan sama dia, bisa-bisanya anak dari kasta rendahan seperti itu dapat beasiswa di sekolahmu, memang bukan satu-satunya, tapi seharusnya kamu malu, Mega.”
“Apa masih kurang? Nilai tesku tertinggi waktu itu, Ma. Lagipula sebentar lagi SMA, Mama masih tuntut aku buat sekolah di Tokyo.”
“Tentu kurang, Nak. Lihat saja anak dari Nyonya Lita, sangat berprestasi dan berwibawa. Bahkan sudah beberapa kali dikirim ke luar negeri untuk lomba di tingkat Internasional, sedangkan kamu masih di tingkat nasional, makanya Mama tekan kamu sampai bisa sekolah di Tokyo!”
Mega mendengus kesal, ini kan kehidupan Mega bukan kehidupan Mamanya, jadi untuk apa terlalu mengatur? Terkadang ia tidak habis pikir dengan pemikiran seperti ini. Baginya, pemikiran Mamanya lebih dangkal dari pada anak-anak pemulung yang rela berpanas-panasan di tengah tumpukan sampah. Setidaknya mereka sudah berusaha mencari sesuap nasi demi bertahan hidup di dunia yang keras ini.
Gadis yang menggunakan blouse merah muda itu pergi memasuki kamarnya, segera menyegarkan tubuhnya setelah kerja kelompok selama tiga jam bersama Bagas tadi. Tubuh mungilnya itu memasuki bathup yang diisi dengan air hangat untuk melemaskan otot-ototnya sekaligus menenangkan pikirannya tentang Rinai.
“Bagas itu pintar, sekaligus … tampan, sih,” gumam Mega memikirkan temannya itu.
Kalau dipikir-pikir, saat pertama kali mereka bertemu sangatlah menggelikan. Bagas yang suka berbicara dan selalu aktif di lingkungan pertemanan, sedangkan Mega malah sebaliknya. Bahkan Bagas rela memberikan contekan secara sukarela, sampai Mega gemas dibuatnya. Mega tahu persis bagaimana susahnya begadang demi menyelesaikan satu pekerjaan rumah yang sangat rumit.
Bagaimana bisa Bagas memberikannya secara cuma-cuma? Yang menyontek pun tidak memiliki rasa bersalah sedikit pun, hanya fokus menyalin jawaban yang sudah ditulis. Tak jarang pula Bagas diperbudak oleh anak-anak kelas atas seperti Mega untuk mengerjakan pekerjaan rumah.
Dan apa kalian tahu? Bagas menerimanya dengan sukarela walau tidak mendapat imbalan sedikit pun. Hanya senyuman sinis dan puas yang didapatkan dari mereka, benar-benar mengenaskan. Beda dengan Mega yang lebih disegani bahkan diidolakan oleh kaum laki-laki, sering pula dijadikan bahan taruhan jika mereka kalah.
Namun Mega berhenti dijadikan bahan taruhan ketika suatu saat ada seorang laki-laki menembaknya dengan alasan tidak jelas. Sudah terlihat dari gelagatnya jika anak itu hanya kalah taruhan, tidak segan-segan Mega menamparnya dengan keras. Bahkan Lintang saja tidak percaya jika kakaknya itu memiliki nyali sebesar itu untuk menampar seseorang.
Jadilah Mega dibicarakan oleh warga sekolah dalam satu minggu. Banyak perempuan yang menjauhinya dan mulai menyinisinya. Tidak lupa memberi julukan ‘Ratu Es’ kepada Mega. Yah, Mega sih tidak terlalu mempermasalahkannya.
Masih ada masalah yang lebih runyam ketimbang menampar anak laki-laki, setidaknya dia beruntung karena anak yang ditamparnya tidak lapor kepada guru.
“Kenapa mama membenci Bagas sampai segitunya? Dia tidak salah, dari sekian banyak anak yang bersekolah di sana cuma Bagas yang benar-benar tulus berteman sama aku.”
Menurut Rinai, tidak ada yang lebih penting selain mendapat pujian dari teman-teman kalangan elitnya. Terutama mereka sering juga memuji anaknya satu sama lain, sehingga membuat Rinai berambisi untuk membuat Mega menjadi sesuatu yang dia inginkan.
Egois sekali.
***
“Kamu mau ke mana?” tanya Rinai sambil membaca koran yang berisi berita yang disebarkan hari ini.
“Perpustakaan,” jawab Mega singkat. Namun Rinai segera meliriknya tajam, jika ada uang kenapa harus pinjam, sih?
“Buat apa? Kamu gak punya uang buat beli di toko buku?” tanya Rinai sinis, korannya dilipat dengan rapi sepertinya memutuskan untuk melanjutkannya nanti setelah menginterogasi putri sulungnya itu.
“Tapi buku yang aku cari gak ada di toko buku mana pun, Ma.”
“Kenapa bisa begitu?”
“Karena buku itu sudah sangat langka.”
“Ya sudah kalau gak ada gak usah dicari, ribet banget sih.”
Rinai tidak akan paham dengan permintaan Mega, hanya karena sebuah buku saja sampai seperti ini, kenapa?
“Tapi aku mau buku itu, Ma.” Mega membuang napasnya kesal, bahkan tidak tertarik menatap Rinai yang jelas-jelas berdiri di hadapannya.
Rinai menampar pipi sebelah kanan Mega dengan keras, serta membentaknya. “Jaga sikap bicaramu, Mega. Mama tidak pernah mengajarkanmu untuk membuang napas sembarangan ketika berbicara sesuatu kepada orang lain. Siapa yang mengajarkanmu begitu? Pasti rakyat jelata itu, kan? Sudah kuduga jika anak itu pasti bawa pengaruh buruk buat kamu.”
“Bagas gak pernah ngajarin aku yang nggak-nggak. Jangan pernah anggap Bagas kayak gitu!”
“Tuhkan, sebelum kamu temenan sama dia kamu gak pernah membantah Mama, Mega!”
“Ya wajar aku ngebantah kalau sikap Mama kayak gitu terus.”
Sekali lagi, tamparan itu melayang dengan bebasnya, kali ini adalah pipi sebelah kirinya. Penampilan Mega sudah acak-acakan, tidak ada satu pun yang berani membantunya. Bukan karena tidak mau, tapi pelayan-pelayan di sana lebih baik tidak berurusan dengan Rinai supaya tidak dipecat.
“MA!” teriak Mega berlinang air mata. Sebelumnya dia sudah sering mengalami hal serupa, tapi selama ini Rinai tidak pernah menyangkut pautkan Bagas dalam urusan pribadi seperti ini.
Lintang yang baru saja pulang dari lesnya terkejut mendengar teriakan kakaknya di dalam. Sebelumnya tidak pernah ia mendengar Mega yang pendiam berteriak seperti itu. Dengan setengah berlari Lintang mengintip kakaknya dari pintu utama.
“Ada apa?” tanya Lintang kepada petugas yang sedang menjalani pekerjaannya.
“Kurang tahu sih, Non. Tapi kelihatannya kalau Nona Mega tadi ngebantah Nyonya Rinai. Saya kurang tahu kenapa mereka bertengkar.”
Lintang yang mendengarnya cukup terkejut, selama ini kakaknya itu hanya mau menuruti kemauan kedua orang tuanya terutama sang mama yang sangat terobsesi dengan ambisinya. Tapi kenapa sampai seperti ini sekarang? Bahkan Lintang tidak sengaja melihat ada luka di bagian pipi kanan-kiri kakaknya.