Mega membawa beberapa camilan yang baru saja dibuat oleh pelayannya ke gazebo taman rumahnya. Ia sudah mengatakan pada Rinai jika akan mengadakan kerja kelompok walau Rinai tetap bertanya bagaimana lesnya nanti. Tentu saja Mega menjawab bahwa lesnya akan diundur nanti malam, jadi ia dan Bagas harus menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin.
“Memang kamu sudah konfirmasi kalau mau les malam?” tanya Rinai memastikan, ia tidak ingin anaknya bolos les hanya karena kerja kelompok.
“Sudah, kok. Tadi aku sudah bilang ke Lintang kalau lesku diundur malam. Tenang saja Ma, ini gak akan lama,” jawab Mega menenangkan. Untung saja jika sebatas kerja kelompok Rinai memperbolehkannya, tapi apabila teman satu kelompoknya adalah anak laki-laki, Mega akan dijaga ketat oleh pelayan-pelayan yang bekerja di rumahnya.
Rinai hanya mengangggukkan kepalanya, ia sangat penasaran siapa yang menjadi teman sekelompok Mega. Apakah dari keluarga kaya yang sangat terpandang? Atau seorang laki-laki yang terlihat tampan dan pintar? Rinai bahkan sampai senyum-senyum sendiri membayangkannya.
Tak lama kemudian, satpam yang menjaga rumah Mega menelpon Rinai. Katanya, ada seorang laki-laki yang mencari Mega dengan alasan kerja kelompok. “Oh? Ya sudah, persilahkan dia masuk,” ucap Rinai lalu mematikan sambungan telepon.
“Permisi,” ucapnya dan Rinai langsung menengok ke arah pintu masuk. Terlihat seorang laki-laki yang berpakaian seadanya, hanya menggunakan sweater dan celana jeans, tidak lupa dengan membawa buku yang diperlukan untuk kerja kelompok hari ini. Rinai sama sekali tidak melihat sisi ketampanan kepadanya.
“Kamu siapa?” tanya Rinai menatap Bagas tajam. Sesaat, Bagas merasa takut ketika dipandang seperti itu. Tapi ia harus bisa mengendalikan diri dengan baik.
“Saya Bagas, teman sekolah Mega. Tujuan saya ke sini, hanya untuk kerja kelompok saja,” jelas Bagas dengan tegas. Ia tahu sedang ditatap oleh orang yang kastanya lebih tinggi, ayahnya hanyalah bekerja sebagai PNS. Itu saja Bagas sudah bersyukur karena bisa makan setiap hari dengan makanan yang layak.
“Oh? Ternyata kamu yang jadi teman sekelompok Mega. Ah, kamu masuk ke SMP 13 pakai jalur apa?” tanya Rinai bertanya semakin intens.
Buset, kasih gue duduk bentar aja napa sih? Dikira ga cape berdiri mulu? gerutu Bagas dalam hati karena kesal dengan perlakuan Rinai padanya.
“Gas, langsung aja ke belakang. Cepet, aku tunggu,” sela Mega tiba-tiba. Ia tidak suka dengan ibunya yang selalu saja bertanya seperti itu. Jika diteruskan, Rinai akan bertanya ke sesuatu yang lebih privasi.
“Iya, Meg. Tante, saya duluan, ya,” ujar Bagas sopan lalu segera pergi dari hadapan Rinai secepat mungkin untuk menghindari pertanyaan berikutnya.
“Ah? Siapa yang nyuruh kamu buat manggil saya dengan sebutan ‘tante’? panggil saya Nyonya,” tegur Rinai dengan penegasan di tiap katanya.
“Baik, Nyonya. Saya mengerti.” Setelah mengatakan hal itu, Bagas segera menuju gazebo dan tentu saja menemukan Mega yang telah mengotak-atik laptopnya.
“Maaf, mama emang suka gitu,” ungkap Mega menatap mata Bagas dengan teduh.
“Enggak apa-apa, gue maklum kok. Lagian lancing banget gue manggil mama lo dengan sebutan ‘tante’, maaf juga gue kurang sopan ke mama lo,” kata Bagas merasa tidak enak. Walaupun Bagas sudah tahu sejak lama bahwa ini adalah rumah Mega, ini adalah pertama kalinya ia menginjakkan kaki di rumah mewah ini.
Mama keterlaluan, batin Mega kesal. Memangnya kenapa sih jika Mega berteman dengan anak seperti Bagas? Walaupun Bagas memiliki banyak teman, orang yang sangat dianggap olehnya adalah Mega. Bagas benar-benar berteman dengan tulus walau Mega memiliki sifat yang sangat dingin.
“Yaudah, ayo kerjain. Malam ini aku les,” papar Mega singkat lalu memberitahu bagian mana saja yang akan dimasukkan ke dalam makalah. Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi mereka berdua untuk mengerjakan hal seperti ini. Selain Bagas yang pintar dan teliti, Mega juga memiliki kemampuan mengetik dengan sangat cepat dan juga pintar merangkai kata-kata Bagas yang sebelumnya kurang enak dibaca.
Walau kelihatannya mereka berdua baik-baik saja, sebenarnya sejak tadi banyk pengawal yang mengawasi mereka, tidak lupa dengan cctv yang tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun.