Clive mengarungi kepala Zanna, mengusapnya pelan dan mengecupnya. Zanna terkejut dan langsung mengusap air matanya. Tangan Clive memeluk pinggang Zanna, lagi-lagi dia mengecup pipi Zanna yang membuat gadis itu merona. “Maaf.” Satu kata itu membuat hati Zanna seketika menjadi lebih tenang, rasa gelisahnya menjadi sirna. Zanna membalikkan badannya, menatap mata Clive. Kalau dekat begini terus-terusan, Clive mungkin tidak sanggup jika tidak menyentuh Zanna. Dia juga laki-laki, namun dia berusaha sekeras mungkin tidak menyentuh Zanna sampai hatinya benar-benar telah mencintai Zanna. Dia tidak tau kapan pastinya, namun dia harus tetap menjaga jarak dengan Zanna. “Maaf kenapa Mas?” tanya Zanna. Clive bisa melihat dengan jelas bulu mata Zanna yang basah, tentu saja pasti karena habis menangis.

