Bab 3

1003 Words
Bayu Aji berbalik setelah melihat Sekar masuk ke dalam rumah, kereta kencana sudah menunggu di depannya beserta para pengawal. "Kita kembali ke istana, pangeran?"sapa seorang pengawal padanya. Bayu Aji mengangguk dan naik kedalam kereta untuk kembali pulang ke istananya di atas gunung Arjuna. Hutan belantara di gunung Arjuna berubah menjadi perkampungan penduduk yang sangat ramai. Para wanita berpakaian seperti zaman dulu dengan kebaya dan juga jarik, sedang para pria berpakaian surjan(baju adat jawa laki laki) dengan celana cingkrang( semata kaki). Walau pakaian mereka masih kuno tapi rumah rumah mereka sudah sangat modern, rumah beton bertingkat dan toko toko yang bagus berjejer di sepanjang jalan dengan lampu yang menyinari sapanjang jalan. Hiruk pikuk penduduk terhenti sesaat, ketika kereta kencana melewatinya, para penduduk yang berpapasan menundukkan kepala memberi hormat. Pertanda bahwa yang lewat adalah orang yang sangat terhormat. Kereta berhenti didepan istana yang megah, bangunan istana itu sangat besar dan luas dengan pilar pilar yang banyak dan dihiasi ukiran ukiran yang terbuat dari emas. Bayu Turun dari kereta. "Paduka raja Wikradarma sudah menunggu, pangeran di Aula pertemuan" kata pengawal mengingatkan. Dengan langkah cepat Bayu Aji menuju ketempat ayahnya. Raja Wikradarma duduk disinggasana dengan dayang di kedua sisinya dan memegang kipas. Dia menggunakan jubah kerajaan dengan bordiran naga besar yang terbuat dari benang emas yang menempel di depannya. Mahkota emas berlapis berlian tepat berada di atas kepalanya membuat raja Wikradatma terlihat gagah dan berwibawa. Para punggawa dan mentri sudah pergi meninggalakan pertemuan. Bayu Aji masuk dan memberi salam kepada Ayahnya. " Matur sembah nuwon , romo. sekiranya ada perlu apa kanjeng Romo mencari saya?" kata Bayu Aji sambil menaruh hormat pada romonya. "Romo cuma mau tanya, apa kamu benar benar menyuki gadis itu, Bayu? Dia seorang manusia, berbeda dengan kita" "Inggih, Romo, saya sangat menyukainya dan ingin menikah dengannya, Romo" terang Bayu. "Manusia itu menua dan berumur pendek, suatu saat kamu akan kehilangan Dia, Bayu. Menikahlah dengan sesama kita, kaum kita yang cantik dan menawan juga tidak sedikit kamu tinggal memilihnya" "Hati tidak bisa dipaksakan, Kita tidak bisa memilih kemana cinta harus berlabuh, Romo. Biarkan Bayu memilih jodoh Bayu Sendiri" Wikradarma tahu kekerasan hati putra sulungnya itu, karena karakternya turun dari sifatnya dulu. Beribu ratus tahun yang lalu Wikradarma pun jatuh cinta pada gadis manusia. Hatinya yang telah dibutakan cinta bahkan menentang kehendak orang tuanya sehingga dia terusir dari keluarga kerajaan ayahnya di gunung kelud. Dia pergi sampai terdampar di gunung arjuna ini bersama wanita pujaannya. Hingga maut memisahkan mereka. Wikradarma terpuruk saat kehilangan sang kekasih, dengan amarah dia menakhlukkan gunung Arjuna. Membuat semua penghuni gunung Arjuna tunduk dalam kekuasaanya dan mendirikan kerajaan baru. Rasa sakit yang dialami dulu tidak ingin ia wariskan kepada putra kesayangannya itu. Satu satunya putra hasil dari buah cintanya dengan anak manusia. "Dengarkan nasehat Romo, le. Yang akan terluka itu kalian berdua, terutama gadis itu. Biarkan dia menjalani kehidupannya sebagai manusia, menemukan jodohnya dengan manusia lainnya tanpa adanya kamu yang memgusik" "Romo, pengapunten(mohon maaf), Saya tidak bisa melepasnya, saya mencintainya. Sebagaimana kanjeng romo mencintai ibu saya dulu" Bayu Aji ijin untuk undur diri, Wikradarma hanya bisa memandang kepergian putranya. Dia yak bisa merubah apa yang menjadi keputusan putra kesayangannya itu. Bayu Aji masuk ke dalam peristirahatannya, dipandanginya cermin besar yang ada didepannya. Terlihat sosok Sekar yang sedang lahap memakan hidangan yang dimasak mbok Darmi, gadis itu terlihat sangat menikmati. Tak lama Sekar menuju kamar tidurnya dan tersenyum dengan angannya, wajah gadis itu memerah membuat dirinya tambah cantik dan menggemaskan. Tangannya memegangi d**a dan mata birunya menerawang ke langit langit kamarnya, sesekali gadis itu bergumam dengan tersipu, tak lama gadis itu terlelap, membuat Bayu Aji beranjak dari tempatnya untuk menemui sang gadis pujaan. **** Setelah mandi dan makan, Sekar merebahkan tubuhnya di kamar. Fikirannya menerawang pada kejadian tadi yang dia alami. Saat membayangkan wajah Bayu Aji jantungnya berdetak kencang, ada rasa yang tak dapat dilukiskan dihatinya. Tangannya meraba d**a. "Ada apa ya denganku?" Lirihnya. Rasa lelah membuat Sekar tertidur lelap. Sekar duduk ditengah tengah kebun bunga yang sangat indah. Sepanjang mata memandang hanya hamparan bunga yang terlihat. "Sekar..." sebuah suara memanggilnya. Sekar menoleh pada sumber suara yang tak asing lagi. Sekar tersenyum saat melihat sosok yang dia temui tadi siang. "Bayu..kamu benar benar datang menemuiku?" Sekar berdiri menyambutnya. Dia terlihat grogi dan salah tingkah. "Iya...Aku datang menemuimu karena aku sudah rindu padamu "kata Bayu sambil jalan mendekat. Seketika wajah sekar memanas dan merah. Gadis dua puluh tahun itu menunduk menyembunyikan rasa sukanya. Mereka bersenda guaru menghabiskan waktu berdua di pinggir kolam ikan. Bayu Aji memetik bunga berwarna kuning dan menyelipkannya di telinga Sekar membuat gadis itu tersipu dan malu. "Cantik" katanya sambil memandang wajah Sekar yang bersemu merah muda. Walau banyak laki laki yang berlomba mendapat perhatian darinya Sekar cuek dan tak peduli, tapi bersama Bayu Aji Sekar merasa lain. Dia merasa nyaman dekat dengannya. Hatinya selalu berbunga bunga. **** Waktu sudah menjelang subuh. Ayam sudah berkokok bersahutan. Mbok Darmi sibuk memasak sarapan didapur. Wanita tua itu sengaja tidak membangunkan cucunya. Takut jika cucunya kelelahan karena mencari kayu bakar kemaren. Sambal terasi, sayur bening dan tahu goreng beserta ikan asin sudah terhidang di atas meja makan. Matahari sudah menyembul di ufuk timur. "Tumben si genduk (panggilan untuk anak perempuan) ini belum bangun" gumam mbok Darmi sambil menuju kamar Sekar. "Tok..tok..tok.."suara pintu diketuk mbok Darmi. "Sekar, bangun sudah siang. Ayo cepet bangun, nanti rezekinya di patuk ayam loh kalo kesiangan bangunnya" panggil mbok Darmi sambil tetap mengetuk pintu. Sekar terbangun dari mimpi indahnya. Dia tersenyum senyum sendiri mengingat mimpinya barusan. "Nduk,, belum bangun toh" terdengar suara mbok Darmi dari luar. "Iya mbok, Sekar bangun" jawabnya sambil berjalan menuju pintu. Sekar buru buru membuka pintu. Dilihatnya mbok Darmi memandangi wajahnya. "Lah ini apa toh, nduk?" Katanya seraya menunjuk sesuatu di telinga Sekar. "Orang tidur kok pakai kembang segala toh nduk" lanjut mbok Darmi sambil ketawa dan pergi ke dapur. Cepat Sekar kembali masuk ke kamar dan bercermin di depan lemari. "Bunga? Ini beneran, aku kira aku mimpi tapi kenapa bunga ini ada di telingaku" ucap Sekar tak habis fikir. Jadi benar Bayu menemuiku semalam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD