Bab 4

1036 Words
Setalah mandi sekar menuju dapur, dia duduk di depan meja makan. Matanya berbinar melihat tahu kesukaanya. Dia menoleh pada mbok Darmi, "Ayo mbok sarapan dulu" ajak sekar sambil berdiri dan menuju dandang untuk mengambil nasi dan memasukkannya kedalam bakul dan membawanya kemeja makan. "Mbok sudah sarapan duluan tadi, kelamaan nungguin kamu, keburu kelaparan si mbok" "Hehehe..., maaf sekar kesiangan" kata sekar sambil mendekat dan memeluk manja wanita renta itu. Mbok Darmi cuma tersenyum dengan tingkah laku cucu kesayangannya ini. "Ya sudah... sarapan dulu sana, hari ini kita ga usah keladang. Banyak pesenan jagung pipil, bantuin mbok ya" pintanya sambil melepas pelukan Sekar dan keluar menuju belakang rumah. Sekar merasa hatinya yang riang tiba tiba mendung, dia berharap pergi keladang supaya bertemu Bayu lagi. Makanan yang tadi terlihat nikmat sekarang sudah terasa tak senikmat tadi. ' Perasaan baru tadi ketemu kok pengen ketemu lagi' Sekar menggerutu seraya tangannya memukul kepalanya sendiri. "Nduk, ini kayu bakarnya ko banyak?" Suara mbok Darmi dari luar mengusik makan Sekar. Cepat diselsaikannya makanannya dan menyusul mbok Darmi kebelakang. "Ada apa, mbok?" Sekar mendekati mbok Darmi dengan wajah tak mengerti "Ini lo...kayu bakarnya ko penuh, kemaren kan tinggal sedikit, nduk" Sekar melihat tempat tumpukan kayu bakar, seketika alisnya mengernyit. "Oh... itu kan Sekar yang nyari kemaren mbok" Sebenarnya Sekar juga heran, dia membawa kayu bakar tak sebanyak itu tapi kok tiba tiba penuh persediaan kayunya. padahal kemaren sisa sedikit, lagian kan dia meninggalkan kayunya di bawah pohon beringin. 'apa ini Bayu Aji yang melakukan' gumamnya dalam hati. "Tapi...mosok sebanyak ini nduk kamu nyarinya?" "Ya kan memang masih banyak persediaan kayu kita, mbok, ditambah Sekar yang nyari jadi penuh lagi" ujarnya meyakinkan mbok Darmi. Mbok Darmi masih bingung, " Sudah.. sudah... mbok, dari pada mikirin kayu asalnya dari mana,mana jagungnya yang mau dipipil biar Sekar bantuin mipil" Sekar beranjak dan pergi ke tempat penyimpanan jagung dan mengeluarkan jagung yang sudah kering, "Lah ini sudah ada jagung pipil setengah karung, mbok?" Sekar menunjukkan karung berisi jagung bijian. "Itu pesenan bu lurah, dia pesen sekarung jadi masih kurang setengah lagi. Pak Darman juga pesen sekarung" kata mbok Darmi sambil menggelar tikar untuk duduk. "Assalamualaikum..." Terdengar suara salam dari depan rumah. "Mbok, ada tamu" Sekar menyikut lengan mbok Darmi. "Sana..Sekar yang liat" mbok Darmi menoleh pada Sekar. Sekar beringsut dan pergi masuk ke dalam rumah dan membuka pintu ruang tamu. Didepan pintu Bagas anak pak lurah sedang menunggu. "Mas Bagas?ada perlu apa?" Sapa Sekar saat tahu siapa yang bertamu. Bagas tersenyum sambil menggaruk tengkuknya. "Anu...mau ambil pesenannya ibu" "Oh... maaf mas, jagung pipilnya masih separuh. Ini masih dinkerjain sama si mbok dan saya, Mas Bagas mau nunggu atau nanti saya anter agak siangan" "Saya nunggu aja, sekalian bantuin biar cepat selsai, boleh?" Sebenarnya alasan Bagas saja untuk menunggu dan membantu biar lama lama dia di tempat mbok Darmi dan memandang Sekar. Sebenarnya Bagas dari dulu suka sama Sekar, dari saat masih sekolah dasar. Tapi dia tak pernah mengungkapkan rasa sukanya, takut ditolak, maklum yang menyukai Sekar bukan dia seorang tapi masih banyak laki laki yang jatuh hati pada Sekar. "Boleh kalau ga merepotkan, mas Bagas" "Ga...saya ga merasa direpotkan" Bagas tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi, entah kenapa jika berhadapan langsung dengan Sekar sifat groginya selalu muncul. "Mipilnya dibelakang, mas, Mas Bagas bisa masuk dan langsung kebelakang. Saya mau buat teh dulu" Sekar melangkah kedalam dan di ikuti Bagas. "Mas Bagas keluar terus belok kiri, nah disamping kandang ada si mbok yang sedang mipil" Sekar menunjuk arah pada Bagas. "Iya... Saya kesana dulu" Bagas keluar menuju belakang rumah. Sekar membuat teh dalam teko dan menggoren pisang, setelah selsai Sekar membawanya kebelakang. Terlihat mbok Darmi dan Bagas sedang bersenda gurau. Sekar mendekat dan duduk di sebelah mbok Darmi. Diletakkannya teh dan pisang goreng yang dibuatnya tadi. "Monggo(silahkan), nak, dimakan pisangnya mumpung masih panas" mbok Darmi menyodorkan piring yg berisi pisang. Sekar menuang teh kedalam gelas dan meletakkan ke depan Mbok Darmi dan juga Bagas. Mbok Darmi melihat Bagas memandangi Sekar. "Ehem..ehem" mbok Darmi berdehem membuat pemuda itu tersipu. "Cepet dimakan pisangnya biar kenyang, memandangi yang buat ga bakal kenyang" seloroh mbok Darmi sambil tertawa. Bagas hanya tersenyum dan mengambil pisang, memasukkannya kemulut dengan lahap. "Nak Bagas ini kan kuliah toh?apa sudah selsai? Kok dirumah ga dikota?" "Tinggal sekripsi, mbok, jadi ga intens turun kuliah, ini sudah rampung tinggal menyetorkan ke kampus biar bisa diwisuda" "Oh...sekripsi itu apa, le?" "Skripsi itu tugas akhir, mbok, sebagai syarat kelulusan kuliah" Bagas dengan lembut menjelaskan "lek Wisuda iku opo maneh,toh le?" "Wisuda itu upacara kelulusan untuk perguruan tinggi, mbok" "Walah macem macem jenenge(namanya) yo, embok ra ngerti" "Mbok mana ngerti lawong mbok ga sekolah" timpal Sekar cekikikan. Bagas tersenyum sambil memandang Sekar. Rasanya tak bosan bosan melihat kecantikan gadis itu. Mbok Darmi pamit untuk masuk kedalam meninggalkan muda mudi itu berdua di belakang, kebetulan sebentar lagi jagung pipilnya sudah penuh sekarung. "Emm...Sekar nanti sore ga kemana mana?" Tanya Bagas memecah keheningan. "Apa, mas?" Sekar mandang wajah Bagas "Anu...Sekar nanti sore dirumah aja?" Ulang Bagas "Iya mas, emang mau kemana lg" jawabnya cuek "Temenin mas ke undangan, bisa?temen mas menikah di desa sebelah, lagi nyari temen buat jalan" "Loh, biasa sama ibu dan bapak, kok tumben ga bareng?" "Ibu sama bapak ga datang, mas jalan sendiri keundangan. Malu sudah tua masak masih ditemenin bapak sama ibu terus" "Oh...apa ga malu mas Bagas jalan sama Sekar? Sekar ini kampungan loh, kalo makan banyak" "Ya enggak lah, mas malah seneng kalau bisa jalan sama Sekar" "Sekar ijin mbok dulu ya, takutnya di iyain tapi malah ga diijinin" "Tadi mas sudah ijinkan ke mbok Darmi, katanya kalau Sekar mau ga papa, gima Sekar mau apa engga?" "Emm...." Sekar melihat wajah Bagas, tak tega mau menolak ajakan pemuda itu. Sebenarnya Bagas bukan laki laki yang jelek, Dia tampan dengan rambut cepak dengan sorot mata yang lembut. Di dagunya ditumbuhi janggut tipis, kulitnya tidak putih dan tidak pula hitam. Di desa pun banyak gadis yang menyukainya, apa lagi dia anak dari kepala desa siapa yang tidak terpesona padanya. "Oke lah... nanti jam berapa berangkat? Biar saya siap siap" "Jam lima saya jemput ya" binar bahagia terlihat di wajah Bagas. Setelah pesanan jagung pipil sudah penuh satu karung Bagas pamit pulang dan menyerahkan uang dua ratus ribu dari ibunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD