Bagas sedang sibuk menyusun sekripsi sambil sesekali menyeruput kopi mocca favoritnya di dalam kamar, wajahnya sedang serius menatap laptop di depannya saat sayup sayup dia mendengar nama Sekar disebut. Hatinya langsung bergetar mengingat sosok gadis ayu bermata biru itu. Sudah lama dia tidak bertemu pujaan hatinya itu. Dia sibuk kuliah di universitas negeri di kota, membuat dia sibuk dan jarang pulang ke desa. Sehingga hatinya sudah sangat rindu pada Sekar.
Katakanlah dia merupakan salah satu pengagum setia gadis itu, walau tak pernah sekalipun dia mengungkapkan perasaannya. Tapi perhatiannya selalu tercurah pada gadis itu. Pernah ketika kelulusan sekolah menengah atas dia ingin mengungkapkan cintanya, tapi dia urungkan karena takut gadis itu akan menjauhinya.
Umur Sekar dengannya selisih dua tahun dan dia dua tingkat diatas Sekar ketika di sekolah. Dia suka melindungi gadis itu , terutama saat di ganggu dengan teman teman pria lainnya. Kerena dia kakak senior dan merupakan murid kesayangan para guru, membuat Bagas di takuti di sekolah. Tak ada yang berani melawannya. Apalagi dia anak orang terpandang di kampung Sumber Waras. Kakeknya sampai ke ayahnya selalu menjadi kepala desa di sumber Waras.
Cepat dia tutup laptopnya dan membereskan semua berkas sekripsinya lalu dia menghampiri Sutarji bapaknya dan Lastri ibunya yang sedang mengobrol di di ruang keluarga. Bagas menyalakan tv dan pura pura menonton acara kesukaannya. Padahal dia sambil mencuri dengar obrolan sang ibu dengan bapaknya.
"Iya pak, kemaren itu saya ketemu mbok Darmi pas belanja diwarung mbak Ninik, ibu pesen jagung sekarung buat makan ayam. Katanya sore ini baru dianter" kata Lastri pada Tarji.
"Mbok ya diambil aja toh bu kesana, ga usah nunggu dianterkan, kasian mbok Darmi sudah tua masak disuruh angkat angkat kesini"
"Loh kan ada Sekar, pak. Sekalian ibu pengen ketemu cah ayu itu, mau kuajak masuk jadi anggota pkk pak, dari pada kerjaannya dirumah aja. Gimana menurut bapak? Sekar kan pinter, dari Sekolah Dasar sampai Mengah Atas dia selalu ranking satu. sayang kalo kepinterannya cuma di pake keladang cari kayu dan ngrumput aja. siapa tahu dengan masuknya Sekar ke pkk membuat program kita yang monoton jadi berkembang karena idenya, pak"
"Sekarepmu, bu. Bapak cuma manut wae, kan ibu yang jadi ketuanya jadi terserah ibu baiknya gimana"
"Kok gitu sih pak, ibu kan minta pendapat bapak sebagai kepala desa"
"Lah saya kan kepala desa, bu. bukan kepala pkk, jadi saya ga tahu urusan dalam pkk. Urusan bapak masih banyak dari pada sekedar ngurusi program pkk"
"Pak, sampean iki kalo dimintain pendapat istri kok begitu sih" bu Lastri cemberut dan merajuk.
Bagas terkikik pelan melihat kelakuan ibunya. Dia takut tertawa keras dan membuat ibunya makin marah.
Pasti bentar lagi bapaknya akan mengiyakan permintaan ibunya, sudah sering soalnya pemandangan seperti ini, tapi itu yyang membuat keduanya harmonis dan bertahan sampai berpuluh puluh tahun pernikahan ibu bapaknya.
" Iya... iya... Bapak setuju kalau Sekar ibu masukkan jadi anggota pkk, siapa tahu dengan masuknya Sekar pkk lebih maju dan program programnya lebih baik" ujar Sutarji mengulang omongan sekar demi melihat istri tercintanya merajuk.
' Tuh kan...' batin Bagas.
Lastri langsung sumringah, wajahnya langsung cerah " Nah gitu dong... kalau istrinya meminta pendapat itu harus di tanggapi"
" Nah terus masalah jagung, Sekar kan wedok(perempuan), bu. Kasian lah masak disuruh ngankat jagung kesini! ga sedikit loh...ini sekarung, mana mereka cuma adanya sepeda ontel, lumayan jauh loh rumah mbok Darmi kesini, kamu ga kasian?"
"Iya pak ya... aku tadi kok ya ga kepikiran toh"
"Suruh Heri atau Bagas ngambil kesana kan lek bisa toh?"
"Ya udah nanti tak suruh Heri aja ngambil kesana"
"Biar saya aja bu yang ngambil, kebetulan lagi nganggur ga ada kerjaan" Bagas menyela pembicaraan kedua orang tuanya itu.
"Nah, tu Bagas mau ngambil"
"Kamu ga sibuk, toh le(panggilan untuk anak laki laki)? Tadi ibu lihat kamu sibuk sekali sampe sarapan aja dilewatkan"
"Enggak, bu. Bagas Sudah selsai"
"Oh...ya udah nanti sore jam tigaan aja kamu ambil, jangan lama lama di sana, ingat nanti kamu mau ke undangan di kampung sebelah"
"Sekarang aja, bu" Bagas berdiri dengan semangat, menyambar kunci motor di nakas.
"E... E...E... kok langsung mau pergi aja, sarapan dulu. kamu kan belum sarapan dari tadi, ibu ada masakin rendang kesukaanmu itu loh"
"Enggak ah bu, Bagas sudah kenyang makan roti sama minum kopi"
"Ga bisa... harus makan dulu, kalau ga ibu suruh Heri aja yang ngambil jagung" Lastri tahu Bagas buru buru mau jalan pasti karena ngebet pengen ketemu Sekar. Dari dulu dia sudah tahu kalau anak mbarepnya ini naksir berat sama Sekar.
"Iya... iya... Bagas pergi makan" dengan gontai dia menaruh kembali kunci motornya dan menuju dapur.
Sutarji dan Lastri berpandangan heran, tuben anaknya semangat sekali. Lastri tersenyum sendiri liat kelakuan anaknya.
Bagas menuju dapur, dia mengambil nasi beserta rendang kesukaanya dan langsung melahapnya. Entah apa karena dia berfikir tentang bertemu dengan Sekar atau rasa rendang yang tak sedap sehingga dia tak begitu berselera makan. Padahal biasanya kalau ibunya memasak rendang dia akan menambah makan hingga berkali kali.
Selsai makan Bayu bergegas untuk pergi, disambarnya kunci motor yang diletakannya tadi dan langsung keluar rumah.
"Le, ini uangnya" teriak Lastri sambil menyusul anaknya.
"Kamu ini maen nylonong pergi aja, lah jagungnya mau ga dibayar opo" katanya lagi sambil menyerahkan uang ratusan ribu dua lembar
"Hehehe..." Bagas hanya tertawa menanggapi ocehan ibunya.
"Bagas jalan dulu, nggih bu?" pamitnya sambil menstater motor
"Hati hati, jangan buru buru, Sekarnya ga kemana mana kok" goda Lastri sambil tersenyum.
Bagas menjalankan motor vespanya setelah mengucap salam pada ibunya.
Jarak rumah mbok Darmi tidak terlalu jauh, hanya sepuluh menitan aja perjalanan dari rumahnya. Rumahnya Sekar letaknya paling ujung di desa dan dekat dengan persawahan penduduk.
Rumah kayu ber cat biru yang hampir pudar dengan bentuk joglo itu sudah terlihat di depan mata. Tampak sunyi dari depan. Bagas turun dari motor dan mengetuk pintu.
"Assalamualaikum.." tidak ada jawaban dari dalam, dia mengulang lagi ketukan dan salamnya agak keras. Terdengar suara langkah kaki dari dalam. "Krek" suara pintu dibuka dari dalam, sosok gadis yang dirindukannya itu muncul dari balik pintu. Rambut panjangnya dikuncir kebelakang dengan setelan kaos biru dan celana selutut, terlihat sangat cantik dimata Bagas.
"Mas Bagas, ada perlu apa?" Sapa gadis itu kemudian.