Jam setengah empat sore, mbok Darmi mengingatkan Sekar untuk bersiap siap ke undangan.
"Sudah sore, sana pergi mandi dan siap siap, katanya mau keundangan bersama nak Bagas" mbok Darmi mengingatkan Sekar yang asik nonton film kesukaannya di tivi jadul peninggalan bapaknya.
"Iya mbok, sebentar lagi" Sekar enggan untuk bergerak, tangannya asik mengupas kacang rebus dan mengunyahnya.
"Sudah buruan, nanti malah telat. Cah wedok(anak perempuan) kan dandannya lama"
Sekar beranjak dari duduknya dengan malas dan menuju kamar. Sebenarnya Sekar pengen ngantuk dan tertidur biar Bayu Aji mengunjunginya tapi sayang rasa kantuk tidak juga kunjung datang, mungkin karena dia bangun kesiangan makanya tidak ngantuk ngantuk.
Sekar segera mengambil handuk dan menuju kamar mandi yang letaknya di belakang dan jadi satu dengan dapur, melewati mbok Darmi yang masih menonton sinetron kesukaanya sambil memakan kacang.
Tepat jam lima, Bagas datang menjemput Sekar. "Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam...." mbok Darmi bergegas membukakan pintu untuk Bagas.
"Masuk nak Bagas, Sekar masih siap siap di kamar"
"Sudah siap Sekarnya , mbok" Sela Sekar yang tiba tiba muncul di belakang mbok Darmi.
"Oalah... mbok kira masih dandan" canda mbok Darmi menggoda Sekar.
"Sekar biar ga dandan tetep cantik kok mbok" timpal Bagas sambil melirik sekar.
Sekar hanya menggunakan pakaian sederhana berwana pink dengan lipstik senada dan bedak tipis, walau begitu dia sudah cantik menawan di mata Bagas.
"Sekar pamit ya, mbok?" Sekar menyalami tangan mbok Darmi.
"Bagas bawa dulu Sekarnya, mbok?" kata Bagas sambil ikut menyalami mbok Darmi.
"Iya hati hati, ingat nak Bagas jangan malem malem nganter pulang Sekarnya, ya"
"Inggih, mbok, assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam" mbok Darmi menutup pintu dan melanjutkan menonton tivi.
Bagas menjemput Sekar dengan mobil fortuner bapaknya, sepanjang jalan mereka hanya diam.
"Kita mampir dulu kerumah ya, Sekar. Tadi ibu menyuruh mampir dulu" ucap Bagas memecah kesunyian.
"Oh...iya mas, ada perlu apa toh ibu sama Sekar?"
"Nah kurang tahu saya" Bagas membelokkan mobil ke halaman rumahnya rumahnya. Rumah beton berwana putih tingkat dua itu termasuk rumah paling bagus di desanya, halamannya luas dan banyak pohon buah buahan di samping rumahnya. Dulu saat masih sekolah, ketika Ratih sahabatnya mengajak kerumah Bagas. Dia selalu memanjat dan memetik buah buahan itu.
Lastri sudah menyambut mereka di depan pintu, wajahnya sumringah melihat Sekar turun dari mobil. Lastri sangat menyukai Sekar, dia berniat menjodohkan putra sulungnya itu dengan gadis itu. Dia yang tidak punya anak gadis sangat mendamba punya menantu Sekar. karena selain ayu, Sekar gadis yang sopan dan pintar.
"Sini, nduk ayu!" Lastri menarik Sekar kedalam.
"Ikut ibu ke kamar atas, ya?" Lastri menggandeng Sekar.
Sekar mengikuti dengan tatapan bingung ke Bagas.
"Ikutin aja maunya ibu" kata Bagas lirih.
Lastri mengajak Sekar masuk ke kamar dilantai dua, kamar yang lumayan luas bernuansa biru. Ada gitar menggantung di dinding atas meja belajar.
Diatas kasur ada sepasang baju kebaya moderen berwarna maroon.
"Jangan sungkan, ini kamar Bagas " kata Lastri membuyarkan lamunan Sekar.
"Iya , bu" jawab Sekar gugup.
"Sini.. kamu coba bajunya ini!" Lastri menyodorkan baju yang dia ambil diatas ranjang.
"Mudahan pas ya, soalnya ibu ga tau ukuranmu" ujarnya lagi
"Ini baju siapa, bu?"
"Itu baju ibu pas masih muda, buat kamu aja. Sudah ga muat sama ibu" jelasnya, padahal baju itu sebenarnya dia beli untuk Sekar kemaren pas jalan ke kota. Sepasang dengan kokonya untuk Bagas. Rencana akan di berikan pas lebaran nanti tapi berhubung bagas mengajak Sekar ke undangan maka niatnya dia percepat.
Sekar berganti baju di kamar mandi dalam kamar Bagas. Bajunya pas sekali di badan Sekar.
Lastri melihat Sekar keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang dibelinya.
"Ternyata pas sekali dikamu, cah ayu" puji Lastri
"Sini biar ibu dandani kamu, pasti tambah cantik" Lastri menyuruh Sekar duduk diatas kasur. Ditangannya sudah ada alat make up.
"Sekar sudah berbedak tadi, bu" elak Sekar
"Wes sini tah... nurut sama ibu, biar kamu tambah cantik"
Sekar menurut dan duduk di kasur. Dengan lihai Lastri mendandani Sekar, dandanan minimalis sangat cocok dengan sekar. Rambutnya disanggul modern dengan sedikit aanak rambut menjuntai dikedua sisi.
Lastri menmandangi Sekar yang sudah didandani dengan takjub, sudah sejak lama dia ingin memiliki anak gadis. Mendadaninya dan mengajak belanja bareng, itu impiannya. Dia tersenyum dañ puas denga hasil dandanannya.
"Sudah selsai, sini coba lihat dicermin" Lastri menarik Sekar kedepan cermin besar, " cantik, kan?"
Sekar melihat pantulan dirinya di cermin, dirinya terlihat berbeda dari yang tadi. Sekarang dia lebih cantik.
Dia tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Lalu Lastri mengajaknya turun kebawah.
Bagas menoleh ke tangga saat mendengar suara langkah kaki menuruni anak tangga. Matanya terpaku menatap Sekar yang sangat berbeda dan amat sangat cantik. Lastri tersenyum melihat tingkah anaknya.
"Sana, Le, ganti bajumu sama koko yang ada di atas tempat tidur, biar coupelan kalian" tegur Lastri pada Bagas.
Bagas beranjak dari tempat duduk dan segera naik ke atas.
"Sini, cah ayu, duduk dulu sambil nunggu Bagas" Lastri mengajak Sekar duduk di sofa disisinya.
"Loh, ibu ga siap siap? Katanya mau kondangan?" Sutarji muncul dari kamar. Pakaiannya sudah rapi dengan baju batiknya.
"Kita ga jadi jalan pak, biar Bagas aja sama Sekar. Ibu masih ada keperluan" Lastri berkedip pada suaminya.
Sutarji memandang sekar dan tersenyum, tahu arti kedipan istrinya.
"Ada Sekar toh, sudah lama, nduk?"
"Iya, pak" Sekar berdiri dan menyalami Sutarji.
Lastri dan Sekar asik bercerita. Sutarji hanya diam sambil membaca koran, saat Bagas turun dengan setelan barunya. Pemuda itu terlihat sangat tampan.
"Bagas jalan dulu ya, bu? Assalamualaikum" Bagas pamit pada Lastri.
"Iya, hati hati ya. Kalau nyetir pelan pelan"
"Siap, bu" Bagas berjalan keluar dan diikuti oleh Sekar. Lastri mengantar sampai diambang pintu.
"Sekar pamit ya , bu, pak?" Sekar mencium dengan takjim tangan Sutarji dan Lastri.
Lastri tersenyum dan mengangguk," Hati hati dijalan". Mereka memandangi keduanya.
"Wahhhh cantiknya mbak Sekar" seloroh Heri sambil mendorong sepeda dan masuk ke teras ruamh.
"Pantesan mas Bagas klepek klepek" lanjutnya
"Hust.." Bagas melotot pada adiknya.
"Heri dari mana?" Sapa Sekar pada Heri.
"Dari rumah temen mbak" jawabnya sambil tertawa.
"Cocok ya, pak?"ujar Lastri sambil menyikut suaminya. Sutarji hanya tersenyum pada istri tercintanya.
"Heri ayo masuk, sudah sore"
Mendengar panggilan dari ibunya, Heri langsung berlari masuk, sebelum memasuki rumah dia berteriak " lamar sudah mas, daripada keburu diambil orang hahaha..." tawanya dengan keras.
"Ga usah di denger itu, usil" kata Bagas sambil menutup pintu mobil.
fortuner putih itu berjalan pelan meninggalkan Rumah pak lurah menuju desa Bambu Asri tempat dimana acara pernikahan diadakan.