Hari yang dijanjikan oleh Bayu untuk datangpun telah tiba, Sekar dan mbok Darmi dari pagi sudah sibuk memasak. Setelah selsai, Sekar mandi dan berdandan rapi. Dengan dress pink selutut dan rambut yang diikat cepol diatas kepala membuat gadis itu semakin cantik. Sekar duduk menunggu di teras rumah.
"Wah... sudah cantik dek Sekar, ada yang ditunggu toh?"
"Eh mas Iwan, hehehe iya mas. Mas Iwan mau kesawah? Kok tumben kesiangan?" Jawab Sekar sedikit malu.
Laki laki yang sedang memikul cangkul itu ketawa. "Iya... maklum ga ada yang bangunin makanya kesiangan"
"Ya cari toh mas yang bangunin biar ga kesiangan" Senyum Sekar.
"Lah... ga ada yang mau piye? wes item, kerjaannya cuma kesawah. siapa yang mau? yo wes saya ke sawah dulu ya nanti keburu panas" laki laki yang dipanggil iwan itupun berlalu.
Sekar tertawa mendengar penuturan tetangganya itu.
Satu jam dua jam sudah berlalu, Sekar menunggu dengan gelisah sang pujaan hati yang tak kunjung datang. Memang sih Bayu tak menjanjikan jam berapa dia akan datang, tapi dia berprasangka kalau Bayu datang pagi atau agak siangan dikit.
"Hurung teko (belum datang) toh , nduk?" Tegur mbok Darmi dari dalam saat melihat wajah cucunya gelisah.
"Belum, mbok"
"Sabar, kali masih dijalan, ya udah masuk aja dulu makan, ini sudah siang. Kamu belum makan "
"Iya, mbok" Sekar masuk ke dalam dan makan. Kebetulan cacing dalam perutnya sudah berteriak minta diisi.
Menjelang sore saat Sekar sudah bosan menunggu, ' mungkin dia ga jadi datang' fikirnya.
Tak berselang beberapa lama di depan rumah mbok Darmi berhenti sebuah mobil sport berwana putih.
Para tetangga melongok untuk melihat karena didesa Sumber Waras belum pernah mobil mewah lewat, mereka penasaran dan saling berbisik.
Sekar yang sudah lelah menunggu dan hendak masuk kedalam lalu berbalik, ia tampak heran dan penasaran siapa yang didalam mobil tersebut .
Seorang pemuda dengan memakai kemeja dan celana jeans keluar dari mobil , disusul pengemudi yang tak kalah tampan keluar dari tempat kemudi.
Sekar melongo melihat siapa yang datang mendekat.
Dengan senyum yang menawan pemuda itu menyapa Sekar yang berdiri seperti patung.
"Siapa nduk?" Mbok Darmi keluar
"Mas...mas Bayu" gadis itu tak percaya dengan apa yang dilihat, masalahnya Bayu yang sekarang terlihat sangat tampan, tampilannya berbeda dengan yang biasa dia temui. Seperti bintang film korea yang sering dia tonton.
"Ini toh yang namanya Bayu itu?" Mbok Darmi menyenggol lengan Sekar.
"Iya mbok, saya Bayu" jawab Bayu sambil mencium tangan mbok Darmi.
Sebenarnya dia sedikit aneh mencium tangan wanita itu karena sebenarnya dia jauh lebih tua dari pada mbok Darmi tapi berdasar pengamatan yang dia liat tentang kebiasaan calon menantu ke mertua yang suka mencium tangan saat dia bertemu membuat dia melakukannya.
"Lah ini siapa?" Mbok Darmi memandang pemuda yang disebelah Bayu.
"Dia Kinar, mbok. Saudara saya"
Kinar hanya mengangguk hormat, sahabat sekaligus pengawal Bayu dari kecil itu memang cenderung tak suka bicara.
"Suruh masuk toh nduk, tamunya?" Kata mbok Darmi kemudian .
Sekar yang dari tadi diam jadi salah tingkah, "masuk, mas" ajaknya.
Sumi dan Narti yang asik ngerumpi diteras rumah Sumi, penasaran sama mobil mewah yang datang dan parkir di depan rumah mbok Darmi, mereka mengikuti dari belakang.
"Siapa?" Tanya Narti
"Ga tau siapa, mungkin orang dari kota mau melamar Sekar, ya"
"Oh..."
Sumi dan Narti ga heran dari dulu Sekar sudah banyak yang melamar dari luar kota, ada yang bapak bapak, ada yang masih muda tapi mau dijadikan istri muda ada juga sih yang perjaka tapi mereka ditolak semua.
"Gantengnya" ucap mereka bebarengan saat mereka melihat Bayu dan Kinar keluar dari mobil.
"Kita bertamu lewat belakang yuk" ajak Sumi yang semakin penasaran.
Narti mengangguk dan mengikuti Sumi menuju belakang rumah mbok Darmi, setelah para tamu masuk rumah.
"Nak Bayu sudah lama kenal, Sekar?"
Suara mbok Darmi terdengar dari belakang.
"Saya tahu Sekar sudah lama, tapi mengenal dekat baru sebentar"
"Kenal dari mana?"
Mbok Darmi penasaran dan membuat Sekar sedikit gugup
"Saya sering liatin Sekar mbok kalau berkunjung ke desa sini mbok" terang Bayu kemudian.
"Oh... ya udah saya kebelakang dulu, dilanjut ngobrolnya sama Sekar ya"
Mbok Darmi ke dapur saat mendengar ada orang didapur.
"Loh... Sumi? Narti?ada perlu apa?"
Mbok Darmi heran saat mendapati Sumi tetangganya dan Narti sudah duduk manis di dapur.
"Siapa itu, mbok" Sumi tanpa malu malu langsung bertanya
"Iya mbok, siapa?" Narti menimpali
"Temennya Sekar dari kota"
"Ganteng ya, mbok?"
Mbok Darmi tersenyum geli dengan ulah tetangganya.
"Ya wes, daripada kalian kesini ga ada perlu apa apa, sekarang bantuin saya siapkan makanan kedepan, mau ga?"
"Mau, mbok" ucap mereka bersamaan.
Mbok Darmi terkekeh, tumben dua tetangganya ini mau membantu biasanya langsung ngacir kalau dimintain pertolongan.
Mbok Darmi menyiapkan makanan di dapur, sementara Sumi dan Narti mengantar makanan buat tamu kedepan.
"Silahkan mas mas ganteng dimakan hidangannya, ini spesial masakan saya.. eh maksudnya masakan si mbok buat mas ganteng semua" dengan senyum genit Sumi memper silahkan tamunya buat makan.
"Yuk Sumi, mba Narti makan aja sekalian disini barengan. O ya si mbok, mana?"
"Boleh ,tah? O yo wes kebetulan saya belum makan" kata Sumi sambil menyenggol Narti
"He'em" angguk Narti
Buru buru mereka Duduk di sebelah Kinar dan memandangi Kinar dan Bayu bergantian, "Guanteng ya, kaya artis korea" bisik Sumi ke Narti "Iya, yuk(mba)"
"Kayanya kalau yang ini diterima, tapi yang mana, yuk?"
"Emboh, aku juga ga ngerti"
"Ehm..ehm" Kinar berdehem keras mengagetkan dua manusia yang sedang berisik di sampingnya. Kinar melirik tidak suka pada keduanya.
Sumi dan Narti saling bersikutan sambil tersenyum canggung.
"Ayo dimakan hidangan sederhananya" ajak mbok Darmi yang datang dari dapur dan duduk bersama.
"Baik mbok" jawab Bayu dengan sopan.
Sebelum magrib para tamu pamit pulang, Sekar mengantar sampai depan. Bayu memeluk Sekar sebentar dan pulang.
"Ganteng calonmu, Sekar" Sumi menyolek Sekar dari belakang.
"Ya iya lah, Sekarnya cantik" balas Narti yang membantu mbok Darmi membereskan sisa makanan
"Kang ujang juga ganteng" Sekar berbalik dan masuk kedalam untuk membantu mbok Darmi.
"Yo jauh toh ibarat langit dan bumi, mau tukeran apa?" Sumi menyusul sambil menyomot makanan dipiring.
"Hus...ga baik ngomong gitu, jodohnya itu ya harus diterima" tegur mbok Darmi.
"Iya yuk Sumi ini, kalau kang ujang jelek kenapa dulu diterima"
"Habis ga ada yang mau lagi" Sumi cengengesan
Sekar geleng melihat tingkah Sumi yang seperti ABG padahal sudah bersuami.