Bab 18

1020 Words
Rumah mbok Darmi sudah hampir jadi kisaran lima puluh persen lagi sudah bisa ditempati, butuh waktu dua minggu bisa kurang kalau cuaca panas terus rumah akan jadi seratus persen. Beberapa hari ini mbok Darmi keladang jadi cuma Sekar sendirian dirumah yang memasakkan tukang. Tukang yang mengerjakan rumah ada delapan orang tambah mas Pur jadi sembilan orang, jadi Sekar kadang sampai setengah harian masak di dapur karena porsi makanan yang dibutuhkan banyak. Sama dengan hari ini dari pagi Sekar sudah berkutat di dapur sendirian untuk memasak lauk dan nasi buat tukang. Dia asik mengulek bumbu saat ada tangan yang menepuk pundaknya. "Astagfirullah...." Sekar terperanjat. "Mas Bagas... kapan datang, masuk kok ga salam dulu toh?" Ucap Sekar dengan muka cemberut. "Aku sudah dari tadi ngucap salam berulang kali ga di jawab, ternyata pas mas lihat pintunya ga dikunci. Ya sudah mas masuk aja" "Duduk mas Bagas, maaf ya berantakan masih. Ini saya sambil masak ya" Bagas duduk di kursi kayu sambil melihat Sekar yang sibuk memasak sayur. "Mau minum apa, mas? Ini ada es teh sama es syrop" "Ga usah, nanti kalau haus aku ambil sendiri" "Ini ada gorengan" Sekar menyodorkan gorengan ke depan Bagas. Sambil nunggu sayur mateng dia duduk di depan Bagas. "Denger denger akhir bulan sudah wisuda mas, kok pulang?" Tanya Sekar kemudian. Karena setahu Sekar Bagas lagi di kota ngurus skripsi. "Sudah selsai semua, jadwal wisuda juga sudah ada jadi pulang dulu nanti pas hari h baru kesana lagi, susah ngurus peternakan bapak kalo jauh" "O...." "Bener kah Sekar ada yang datangin ke sini dati kota? Katanya calonnya Sekar ya?" tanya Bagas setelah beberapa lama diam. "Iya mas" Sekar tak berani menatap mata Bagas yang sendu. Dia menundukkan wajahnya dalam dalam. Hatinya merasa tak enak. Karena dia ga pernah menjawab ungkapan perasaan Bagas. "Kalau itu pilihan Sekar, aku cuma bisa doain semoga lancar sampai pernikahan. Ini ada oleh oleh dari kota" Bagas meletakkan paper bag yang dia bawa diatas meja. "Aku pamit pulang dulu ya" "Makasih, mas" Sekar memandangi punggung laki laki itu hingga menghilang di balik pintu. Desas desus tentang Sekar yang kedatangan laki laki tampan dari kota sampai ketelinga Bagas yang sedang dikampus. Dia bergegas ke dekkan untuk menyerahkan skripsinya, setelah sidang skripsi dia cepat bertolak ke kampung. Sebenarnya dari kota ke desa Sumber Waras tak terlalu jauh, cuma memakan waktu sekitar empat jam dari kota dengan menggunakan kendaraan roda empat. Dari kabar yang di terima Bagas, Sekar dan pemuda kota itu sudah kenal lumayan lama dan mereka menjalin kasih. Bagas merasa tak tenang sebelum bertanya langsung ke Sekar gadis idamannya itu. Setahu Bagas Sekar jarang ke kota dan Sekar selalu di rumah aja jarang berbaur dengan muda mudi kampung. Banyak rasa penasaran Bagas, tapi saat bertemu Sekar mulutnya seakan dikunci tak bisa bertanya apa apa. Bagas menyalakan mobil yang terpakir didepan rumah mbok Darmi. Malam setelah mandi Sekar membuka paper bag yang diberi Bagas. Didalamnya ada sebuah kotak kecil yang dibungkus kado, Sekar membukanya. Ternyata didalamnya sebuah kalung. Sekar tak berani membukanya, dibungkus kembali hadiah itu dan di masukkan ke dalam paper bag. Rencana Sekar akan mengembalikannya. Esok paginya, pagi pagi sekali Sekar kerumah pak Lurah untuk mengembalikan pemberian Bagas, dia merasa tak pantas menerimanya. "Kenapa dikembalikan? Aku membelikan buat kamu jauh sebelum aku bilang kalo aku suka sama kamu,Sekar. Cuma tertinggal di kos kosan aja lupa di bawa pulang" "Tapi mas, aku ga bisa nrima pemberianmu ini" "Kenapa? Karena kamu nolak perasaanku? Hahahah... ga papa Sekar, kalau kamu nrima kalung itu bukan berarti kamu harus nrima perasaanku. Cinta ga harus berbalas, Sekar. Anggap aja itu pemberian kakak ke adik perempuannya" "Tapi mas" "Ga ada tapi tapi, apa aku yang mau memakaikannya? Tapi seandainya ga kamu pakai juga ga papa, kamu bisa menyimpannya. Suatu saat kalau kamu perlu bisa kamu jual" Sekar merenung. "Baiklah. Makasih ya mas atas pemberiannya, selama ini mas Bagas sama Ibu sudah sering ngasih ngasih ke Sekar tapi Sekar belum bisa balas apa apa. Aku pamit dulu mas, dirumah masih banyak kerjaan. Kasian mbok ga ada yang bantu" Setelah pulang dari rumah pak lurah, Sekar pergi kepasar untuk membeli bahan bahan makanan, stok dirumah sudah habis. Sekar membeli ikan, ayam, daging rawon. Sayur sayuran juga dia beli lumayan banyak. Makanan favoritnya cenil juga ga lupa dia beli dan makanan ringan lainnya buat tukang. Setelah selsai dari pasar Sekar segera pulang, matahari sudah mulai panas. Ditengah jalan dia berhenti di warung pak Slamet untuk membeli makanan matang. Matahari sudah hampir diatas kepala kalau dia masak sudah ga cukup waktunya jadi lebih baik untuk hari ini dia membeli makanan jadi. "Nasi campur sembilan sama nasi pecel dua, nggih pak" "O...iyo iyo nduk, tumben kesiangan nduk?" "Iya, pak...tadi ada perlu di rumah pak lurah, gimana kabarnya Sari pak?" "Alhmdulillah baik, ini hamil muda dia... katanya nanti mau datang, mau melahirkan disini tapi yo embuh lah belum datang datang" "Oh....alhmdulillah, pak. Bentar lagi punya cucu" Pak Slamet ketawa senang. Sari anak pak Slamet, dulu dia teman sekolah Sekar tapi ga terlalu dekat hanya temen sekelas saja. Lulus sekolah Sari langsung menikah dan pindah kekota bersama suaminya. Rata rata anak perempuan di kampung memang begitu, lulus sekolah langsung menikah kalau ga merantau ke kota untuk mencari kerja. Yang melanjutkan kuliah bisa dihitung dengan jari, hanya sedikit itupun orang yang tergolong kaya yang mampu melanjutkan ke perguruan tinggi. Perempuan yang tinggal dikampung dan sudah cukup umur cuma Sekar seorang, ga kuliah, juga ga nikah maknya sering jadi bahan gosip. Sering dia ditanya kapan nikah? Sering nolak lamaran pamali nanti sampai tua ga ketemu jodoh loh, tapi Sekar cuma ketawa aja mendengarnya malas meladeni. "Ini nduk, pesanannya. Semua seratus dua puluh ribu" "Terimakasih, pak. Salam sama Sari kalau ketemu" "O iya nduk" Belum juga Sekar keluar dari warung, ibu ibu yang juga antri makanan sudah bisik bisik "Kemaren katanya ada yang datang juga orang kota melamar, kira kira diterima ga" "Wes dilamar toh? Kata Narti cuma datang aja kok belum lamaran" "Oh...mosok?" "Mari bu Darmi" Sengaja Sekar menegur salah satu ibu yang sedang ngerumpi yang bernama Darmi. "O iyo iyo" bu Darmi yang di tegur cuma saling sikut sama teman rumpinya. Sekar tak peduli dan langsung pulang kerumah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD