Bab 17

1005 Words
Mereka memecahkan jendela depan. Pak supir sangat ketakutan. Kinar membuka pintu mobil dan turun. "Apa mau kalian!" Suara Kinar lantang dan keras. "Serahkan uang kalian dan pergi dari sini" ucap salah satu dari mereka. "Jangan harap" Kinar maju dan menghajar salah satunya. Melihat temannya dipukul sampai berdarah, orang yang satunya mengeluarkan pistol. Kinar cepat tanggap, Dia menendang tangan orang tersebut sampai pistolnya terlepas dan menghajarnya sampai terkapar di jalan. Orang orang yang lewat berdatangan mengerubungi dan salah satunya menelpon polisi. Sebelum disadari orang , Kinar masuk kedalam taxi. "Pak, jalan" kata Bayu. "Tapi nak Bayu, perampoknya itu gimana?" "Biarin aja pak, biar orang orang itu yang mengurusnya" Walau tampak panik supir itu menyalakan mesin mobil dan langsung jalan. Sampai didepan showroom taxi berhenti. Kinar dan Bayu turun. "Bapak pulang saja, ini tambahan buat bapak dan sekalian buat baikin kaca mobil yang rusak" Bayu menyerahnyan segepok uang ratusan ribu ke pak supir. "Terus nak Bayu nanti pulangnya gimana?" "Saya kan mau beli kendaraan pak jadi bapak tak perlu khawatir" Pak supir manggut manggut, wajahnya masih tampak pucat takut karena kejadian perampokan yang gagal tadi. Setelah mengucap terimakasih taxi melaju pergi. Bayu dan Kinar masuk ke dalam showroom. Mereka melihat lihat mobil yang di pajang. Tak lama mereka dihampiri seorang gadis cantik. "Mau cari mobil yang seperti apa, kak?" sapanya dengan ramah. "Yang melaju dengan cepat" jawab Kinar tanpa menoleh. Bayu hanya mengikuti saja. Gadis itu mengajak keduanya menuju sebuah mobil sport berwarna biru. Gadis itu menjelaskan spesifikasi mobil tersebut dan tentang ke unggulannya. Bayu hanya mendengarkan tanpa komentar. Dia tak peduli dengan keunggulan atau kekurangan mobil, yang dia butuhnkan cuma kendaraan yang dia akan bawa kerumah Sekar itu aja lagian dia tidak begitu mengerti mobil. "Berapa harganya?" "Satu milyar kak, bisa kredit" Bayu menyerahkan tas hitam yang dipegang Kinar. "Aku mencari mobil seharga uang yang ada di dalam tas ini" Gadis itu mengambil tas itu dan membawanya ke kasir. Bayu dan Kinar mengikutinya dari belakang. Setelah dihitung uang yang ada didalam tas, gadis cantik itu datang menemui Bayu lagi. "Iya cukup kak uangnya bahkan lebih kalau kakak mau mobil biru itu, atau kakak mau mobil yang lebih mahal ada, mari saya ....." "Ga usah, saya mau itu aja" Bayu memotong ucapan gadis itu " kalau begitu mari saya ajak tes drive dulu kak" supaya kakak bisa mencobanya sebelum di antar kerumah kakak" Bayu dan Kinar mengikuti. Mobil di bawa keluar dan mereka bertiga masuk untuk tes drive. Sepanjang jalan Bayu dan Kinar tidak banyak bertanya tapi matanya awas memperhatikan apa yang dikerjakan gadis itu. Setelah selsai transaksi, surat surat dan sisa uang dimasukkan kedalam tas. Kunci diserahkan ke Bayu. Bayu dan Kinar keluar menuju mobil yang sudah di parkir didepan. Dengan senyuman gadis yang tadi mengantarnya. Bayu dengan mudah mengendarai mobil sesuai apa yang dikerjakan gadis tadi. Mobil awalnya berjalan pelan setelah itu mulai laju dan kembali ke Desa Sumber Waras. Hari menjelang sore saat mereka memasuki desa. Bayu mengurangi kecepatan mobil dan berhenti sebentar. Kinar heran. "Kamu yang menyupir" Belum Kinar berucap Bayu sudah mengintruksi. Kinar hanya diam dan berpindah tempat duduk. Dia tidak memprotes sama sekali. Kinar menjalankan mobil dengan stabil menuju rumah mbok Darmi. Saat sampai didepan Rumah mbok Darmi, Bayu melihat Sekar hendak masuk ke dalam rumah. Gadis itu menghentikan langkah dan menoleh melihat kedatangannya. Dia terperangah saat Bayu turun dari mobil. Dengan senyum yang menawan, Bayu memghampiri Sekar dan disambut mbok Darmi. *** Sekar merebahkan diri diatas ranjang, rasa lelah membuat dia tidur terlelap. Saat pagi matahari mulai meninggi Sekar baru bangun. Sekar turun dari ranjang dan mengambil handuk menuju kamar mandi saat mbok Darmi masuk kedalam rumah. "Cah ayu...sudah siang baru bangun" mbok Darmi geleng geleng kepala. "Dari mana, mbok?" "Dari rumah mas Pur, tadi katanya besok libur ga nukang jadi bisa nukangin rumah. Nanti mas Pur kesini mau ngukur sama mau ngasih tau apa aja bahan bangunan yang dibutuhkan" "Jam berapa mas Pur kesini mbok?" "Bentar lagi, tadi pas mbok kesana dia lagi sarapan. Nanti diayang cari temen buat bantuin mas Pur, pokoknya kita terima beres" "Siap kalo gitu mbok, nanti habis mas Pur dari sini kita ke toko bangunan pak Tejo mbok buat sediain bahannya" "Iyo, nduk" Habis mandi Sekar sarapan berdua dengan mbok Darmi. Pur datang agak siang untuk bersepakat tentang ukuran bangunan dan apa aja yang harus disediakan. Besok paginya Rumah mbok Darmi ada beberapa orang yang mulai membangun rumah. Rumah bagian depan mbok Darmi dihancurkan tinggal dapur yang tersisa untuk tempat tinggal mbok Darmi dan Sekar. Jadi rencananya rumah mbok Darmi dimajukan dan di perlebar. Gaya minimalis menjadi pilihan Sekar. Ranjang, lemari dan kasur di pindah ke dapur. Maklum mbok Darmi itu sebatangkara jadi ga ada rumah sanak saudara yang bisa ditumpangi. Dulu orang tua mbok Darmi adalah pelarian dari jawa tengah menikah dan tinggal di Sumber Waras. Mbok Darmi anak tunggal tidak punya saudara makanya ketika orang tuanya meninggal dia hanya berdua dengan suaminya dan setelah punya anak Saiful suaminyapun meninggal saat Saiful menginjak sekolah menengah pertama, makanya Saiful hanya tamatan SMP. Sementara suami mbok Darmi adalah orang desa sebelah, selisih dua desa untuk pergi kesana jadi benar benar ga ada tempat untuk tinggal sementara. "Ga popo yo nduk umpet umpetan disek?" ( tidak apa apa ya sempit sempitan dulu) "Ga papa mbok, la wong katanya mas Pur kisaran sebulan sudah jadi kok rumahnya. Nanti kalau didepan sudah rapi kita pindah kedepan. Habis itu dapur di bongkar dibikin dapur yang bagus mbok. Cukup kok uangnya kemaren mas Pur sudah merincikan" Mbok Darmi manggut manggut. Setelah membereskan dapur Sekar dan mbok Darmi istirahat sebentar dan berlanjut masak buat tukang. "Jadi bulan Depan nak Bayu sama kedua orang tuanya kesini?" "Iya mbok, biar rumah kita jadi dulu juga" "O... yo wes. apa nanti Bayu sering kesini? malu rumahe masih berantakan" "Enggak kali mbok, nanti kesini pas sama ibu bapaknya aja" "emm" setelah selsai memasak, mbok Darmi memanggil Pur untuk istirahat makan. "Maaf yo Pur, makanannya sederhana" "Alhmdulillah mbok, ini sudah enak. Rezeki itu patut disyukuri" jawab mas Pur sambil memanggil teman teman tukang lainnya untuk makan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD