Rasya menatap Kirana bingung. “Kenapa?” Kirana tidak menjawab. Tangan dinginnya meremas-remas syal di lehernya. Dua tahun lalu, ia membatalkan janji berkencan dan membiarkan Ardana sendirian menunggunya di restoran ini. Hal yang membuat hatinya pedih hingga kini adalah, ia tidak pernah memberi tahu alasannya tidak datang. “Kamu nggak suka restoran ini?” tanya Rasya lembut. “Ya, aku nggak suka.” Kirana memejamkan mata. Menghalau bayangan Ardana di benaknya. “Bisa kasih tahu aku apa alasannya?” tanya Rasya lagi. Perlahan mata Kirana terbuka. “Mantan pacarku dulu suka mengajakku kesini.” “Oh!” Rasya langsung paham. Tanpa menunggu lagi, ia langsung memutar haluan. “Maaf.” Kirana menyesali dorongan impulsifnya. Namun, ia merasa hal itu lebih baik daripada ia tak nyaman karena pasti aka

