Ancaman

1311 Words
Kirana tergagap. Akan tetapi bibirnya mendadak bisu. “Lagi ngomongin kamu, Ar.” Gayatri menjawab dengan nada lembut. Begitu cepat ekspresinya berubah, padahal baru saja ia begitu tajam mengecam Kirana. “Ngomongin aku apa, nih?” Ardana duduk kembali di tempatnya semula. “Soal rencana kamu mau melanjutkan kuliah S2 ke Inggris. Minggu depan, kamu harus sudah berangkat ke sana, konfirmasi pendaftaran dan cari apartemen untuk tempat tinggal. Jadi … tadi Mama bilang ke Kirana, supaya rela melepas kamu. Karena, kamu harus memikirkan masa depan kamu sendiri, dan kalau sudah lulus nanti kamu akan sibuk ngurus perusahaan peninggalan Papa.” Gayatri melirik Kirana. Apa yang disampaikan Gayatri, terdengar seperti wejangan di telinga Ardana. Namun, bagi Kirana, apa yang dikatakan wanita itu adalah peringatan. “Tenang aja, Ma. Kirana sudah paham itu semua, dan dia pasti dukung aku.” Tanpa sungkan, Ardana menggenggam jemari Kirana di atas meja. Kirana menunduk. Tak mampu menghadapi tatapan menusuk Gayatri kepadanya. *** Pertemuan pertama dengan Gayatri, membuat energi Kirana terkuras habis. Ia berbaring tanpa melepas gaunnya. Walau lelah, matanya terbuka lebar memandangi plafon kusam kamar kos yang sempit. Ingin ia bersembunyi di ruang ini saja selamanya. Akan tetapi, hal itu tidaklah mungkin. Dua jam lagi, dia harus sudah berada di kedai kopi untuk bekerja. Berpuluh menit berlalu dengan pikiran yang tak karuan. Perkataan Gayatri bahwa dirinya tidak pantas untuk anaknya, membuat resah. Ketika dulu ia mau menerima cinta Ardana, ia sadar status sosial mereka berbeda jauh. Lelaki itu meyakinkan bahwa hal tersebut bukan masalah. Walau demikian, ketulusan Ardana tidak lantas membuat semuanya berjalan mulus. Apa yang baru dihadapinya, bukanlah persoalan sederhana. Ponselnya berbunyi. Sebuah pesan dari Ardana memanggil untuk dibaca. “Kirana … kamu nggak apa-apa? Tadi kulihat mukamu pucat.” Kirana tergoda menceritakan ucapan Gayatri yang menyinggung hatinya, jika saja ia tak khawatir Ardana akan emosi karena membelanya. Dia sudah pernah menyaksikan bagaimana lelaki itu tak segan memarahi dan menantang orang yang pernah mencela Kirana. “Aku cuma capek aja, dan mungkin lapar juga,” balas Kirana. “Kalau lapar, kulihat makanmu cuma sedikit tadi. Kenapa?” tanya Ardana lagi. “Aku malu, nanti Mama Kakak bilang aku kayak orang kelaparan,” tulis Kirana. “Lah, ‘kan memang begitu kenyataannya.” Pesan Ardana terterima cepat. “Beliau kayaknya nggak suka sama aku.” Dengan halus, Kirana mencoba memberikan isyarat. “Siapa bilang? … Mama nggak ada komentar yang negatif. Dia malah muji-muji kamu.” Tulisan Ardana diakhiri dengan emoji hati. Kirana bingung. Mengapa Gayatri tidak menjelekkan dirinya? “Nanti malam kita ketemu lagi, ya. Aku kangen.” Ardana meminta. Biasanya, Kirana akan langsung merespon cepat ajakan Ardana untuk bertemu. Kali ini, seperti ada yang memberatkan jarinya menuliskan jawaban. “Nggak bosan ketemu aku terus?” “Nggaklah … mana pernah bakal bosan. Kali ini aku mau ngerayain wisuda cuma berdua kamu aja.” Sesungguhnya, Kirana juga menginginkan hal yang sama. Dia ingin menghabiskan waktu berdua saja sebelum Ardana pergi. “Aku tunggu di Peach. Jam delapan.” Ardana menetapkan waktu. Kirana langsung setuju berjumpa di restoran favorit mereka yang sekaligus jadi tempat pertama kali Ardana mengajaknya berkencan. Segera ia bangkit, membuka lemari tempat menyimpan kotak syal yang dia rajut sendiri. Ia berniat akan memberikannya sebagai hadiah kelulusan Ardana sekaligus kenangan karena lelaki itu akan pergi jauh. Semangat yang sebelumnya menguap, kembali lagi sebab ia akan bertemu dengan Ardana, berdua saja. *** Kedai kopi di menjelang malam itu, tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas di laptop masing-masing. Setengah jam menjelang akhir shift kerjanya, ia dikejutkan dengan kedatangan Gayatri. Wanita itu, langsung menuju meja di tengah. Seketika Kirana gugup. Benaknya dipenuhi pertanyaan maksud dan tujuan ibu Ardana itu tiba-tiba datang ke kedai. Karena tak ada pelayan lain, ia segera menghampiri. “Selamat sore, Tante!” Kirana menyapa dengan wajah yang diriangkan. “Sore.” Gayatri menjawab dingin. “Aku pesan americano.” “Baik … ada yang lain?” tanya Kirana sopan. “Itu saja.” Gayatri menggeleng. Kirana cepat menyiapkan pesanan Gayatri. Dia berusaha keras agar tangannya tidak gemetar saat menyajikan cangkir berisi kopi pekat tersebut di meja. “Silahkan …,” kata Kirana, yang disusul ragu apakah dia harus menemani Gayatri atau kembali bekerja. “Duduk!” Gayatri menunjuk kursi di depannya. Kirana menoleh ke meja konter. Dengan isyarat mata, ia meminta izin pada supervisor yang selalu mengamatinya. “Sudah lama kamu kerja di sini?” tanya Gayatri dengan sikap formal serupa dengan pewawancara kerja. “Hampir dua tahun,” jawab Kirana. “Kamu nggak ingin tahu kenapa aku tiba-tiba datang kesini?” Gayatri menyilangkan lengan di d**a. “Saya memang kaget sewaktu lihat Tante datang.” Kirana berusaha menjaga ucapannya. “Kamu paham apa yang kukatakan saat makan siang tadi?” tanya Gayatri lagi. “Iya … saya paham.” Kirana mencoba tetap tenang. Benaknya dipenuhi bayangan Ardana. “Jadi kamu tahu apa yang harus dilakukan?” Suara Gayatri semakin kaku. “Jujur … saya nggak tahu harus bagaimana.” Kirana menjawab halus. “Kamu nggak bodoh ‘kan … sampai nggak tahu harus bagaimana seolah nggak paham maksudku.” Gayatri sinis. “ Maaf, saya nggak mengerti mengapa saya dianggap nggak pantas untuk Kak Arda. Biarpun saya dari kalangan orang biasa, saya nggak pernah berniat memanfaatkan Kak Arda. Kak Arda juga mau menerima saya apa adanya. Perasaan kami sama-sama tulus.” Meski sikap Gayatri mengintimidasi, Kirana tak mau terlihat lemah. “Nggak ada cinta yang tulus di antara dua orang yang derajatnya berbeda!” Suara Gayatri meninggi. Udara kedai tiba-tiba hening. Semua mata tertuju pada meja Kirana dan Gayatri. “Kamu harus tahu diri, Kirana!” bentak Gayatri. Kirana yang belum hilang kagetnya, kembali tersentak. Wajah putihnya pias sebelum memerah. “Walaupun kamu bisa kuliah di kampus yang sama dengan Arda, kamu tetap tidak setara dengan keluarga kami! Kalau kamu mengira bisa pansos dengan menjadi pacar Arda, kamu salah besar! Karena aku tidak akan pernah merestui anak penjual buah di pasar jadi pasangan Anakku.” Kata-kata tanpa jedanya, membuat Gayatri terengah. Sementara itu, lidah Kirana seperti membeku. Hatinya tercabik-cabik oleh ucapan tajam Gayatri. Ia terhina dan terluka. “Aku akan kasih tahu apa yang harus kamu lakukan … kamu harus memutuskan hubungan dengan Arda!” tegas Gayatri. Luka di hati Kirana bertambah dalam. Sekuat tenaga ia menahan air mata. Gayatri mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekati Kirana dan berbisik, “kalau tidak kamu lakukan, jangan harap kamu bisa lulus jadi sarjana di kampus ini. Aku kenal baik dengan orang yang berpengaruh, yang bisa bikin kamu drop out.” Ancaman itu, membuat Kirana merinding. Lulus sarjana adalah doa dan harapan orang tuanya, juga impiannya. Tidak terbayangkan jika hal itu hanya akan menjadi fatamorgana selamanya. “Dan, jangan coba-coba kamu berani mengadukan pembicaraan kita ini kepada Ardana! Kalau dia sampai tahu, aku akan mengejarmu kemana pun!” Gayatri menatap tajam Kirana sebelum berdiri dan melemparkan dua lembar uang ratusan ribu ke meja. “Ambil sisanya untuk tip kamu!” Gayatri melangkah pergi. Dengan kepala tertunduk, Kirana berlari ke belakang kedai. Di ruang persediaan, ia menangis. *** Malam sudah turun. Setelah satu jam duduk sendiri di sudut Peach Restaurant, Ardana menatap ponselnya kesal. Tangannya terkepal menahan geram. Alih-alih menjawab panggilan teleponnya, Kirana malah mengirimkan pesan yang membuatnya nyaris ingin menggebrak meja. “Kak, maaf aku nggak jadi datang. Karena Kakak mau lanjutin kuliah ke luar negeri, sebaiknya mulai sekarang, kita berpisah saja,” tulis Kirana. “MAKSUD KAMU APA?!” Ardana membalas cepat. Sengaja dengan huruf kapital agar Kirana tahu bahwa ia murka. “Lupakan aku aja, Kak. Semoga Kakak bahagia.” Jawaban Kirana begitu manyakiti hati Ardana. Perlahan ia menyentuh kotak beludru merah di atas meja. Ia membukanya. Sebentuk cincin bermata berlian berkilau ditimpa cahaya. Rencananya melamar Kirana, pupus sudah. Benaknya dipenuhi tanya tentang alasan gadis itu tiba-tiba meminta berpisah. “Kenapa kamu tega begini, Kirana. Padahal kita sudah berjanji akan saling setia, dan kamu sudah berjanji akan menungguku.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD