Kirana tertegun. Dirinya seperti terlempar ke ruang asing yang membuatnya tak nyaman. Nyalinya untuk membuka hati, mendadak hilang. “Gimana? Bersedia?” Rasya memastikan. “Jangan menunggu aku seperti itu, Pak.” Kirana menggelengkan kepala. “Kenapa?” tanya Rasya. “Aku belum siap.” Kirana resah. Rasya terdiam. Matanya menatap Kirana dalam. Seperti berusaha menyelami isi hatinya. Proses itu, terjeda oleh kehadiran lelaki pelayan kafe yang membawakan secangkir latte untuk Rasya. Lelaki itu juga meletakkan air mineral, wafel dan kentang goreng. Kirana tidak berkomentar apa pun. “Jangan-jangan, karena kamu sebenarnya sedang punya pacar sekarang.” Rasya menebak setelah lelaki pelayan itu pergi. “Nggak!” Kirana menjawab cepat. Ia tak mau dianggap perempuan yang tidak setia. “Tapi, perna

