Ruangan terasa hening sesaat. Gayatri jelas kaget dengan kemunculan Ardana yang tiba-tiba. Kirana cepat memanfaatkan momen itu dengan beranjak pergi. Ia asal melangkah, dan tersadar telah menuju ke keramaian di halaman belakang. Ia sedikit panik. Namun, begitu melihat Friska ia mendapatkan sebuah gagasan. Dihampirinya perempuan itu. Dengan berbisik, ia meminta izin meninggalkan lokasi. “Kenapa?” Friska heran. “Acara sebenarnya sudah selesai juga, ‘kan. Tapi, Desta dan teman-teman yang lain tetap di sini sampai semua rapi kembali. Aku harus ke dokter, radang di perutku sepertinya kambuh. Nggak apa-apa, ya.” Kirana memegang perutnya yang memang tak nyaman. “Oke ….” Dengan berat hati, Friska memberikan izin. “Hati-hati, ya!” “Terima kasih.” Kirana tersenyum. Tanpa menoleh lagi, Kirana

