bc

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

book_age18+
178
FOLLOW
1.2K
READ
possessive
sex
playboy
arrogant
scandal
badboy
badgirl
CEO
drama
campus
like
intro-logo
Blurb

Aku menjual keperawanan ku demi mempertahankan status sosialku. Aku tak ingin orang memandangku rendah. Karena kebangkrutan yang dialami ayahku.

Hingga semuanya terbongkar. Aku mendapati sahabatku sendiri tidur dengan pria yang aku cintai.

Pengorbanan ku sia-sia! Aku tidak akan memaafkan mereka berdua.

Hidupku telah hancur, aku tidak bisa menjalaninya lagi. Tapi Agil datang mengulurkan tangan dan menyediakan pundaknya. Untuk aku bersandar. Dia adalah malaikat penyelamat ku!

Genre : Adult Romance

chap-preview
Free preview
Ch 1 : Kehilangan.
Suara decitan pijakan sebuah sofa dengan lantai marmer kamar hotel. Beradu dengan seirama tubuhku yang tergoncang. Redupnya pencahayaan yang sangat minim didalam ruangan itu, membuatku samar-samar melihatnya. "Dia sangat tampan!" Itulah kata-kata yang terbesit dibenak ku. Ketika aku menatap wajah pria yang kini berada diatas tubuhku. Seorang pria dengan paras wajah yang sangat tampan bak seorang aktor Hollywood. Bola matanya yang indah berwarna kecoklatan dan bulu matanya sungguh lentik. Dia juga memiliki bibir yang seksi berwarna merah jambu. Keringat mengucur sangat deras menetes melalui rahang kokohnya. Dan sesekali ia memejamkan mata sambil bernafas dengan terengah-engah. Dia tersenyum padaku. Senyuman nya sangat indah menampilkan deretan giginya yang memiliki selipan gingsul ditaring kanan nya. Lesung pipi nya juga sangat mempesona. Dia sangat sempurna, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Tapi aku. Aku tidak sebahagia dirinya. Karena malam ini aku sudah rusak. Aku sudah bukan perempuan yang suci lagi. Aku kotor, sangat-sangat kotor. Bahkan aku merasa jijik sendiri dengan tubuhku. Malam ini aku kehilangan mahkota yang selalu aku jaga-jaga dengan baik. Tak pernah terbayangkan sebelumnya. Jika aku akan melepaskan keperawanan ku pada lelaki selain Dewa pria yang aku cintai. Bahkan aku tidak mengenali pria tampan yang kini sedang menjamah tubuhku malam ini. Aku memalingkan wajahku karena tak ingin dia melihat air mata ku yang menetes. Itu akan sangat memalukan dan membuatku terlihat munafik nantinya. "Apa kau lelah?" Dia bertanya padaku sambil menyingkirkan helaian rambut yang menutupi sebagian wajahku. Suara nya berat dan serak. Sentuhan nya juga sangat lembut. "Tidak!" jawabku lirih. Aku malu dan canggung untuk menjawabnya. Dia kembali tersenyum padaku. Dia pun mendekati wajahnya padaku. Menempelkan dahi kami berdua. Sontak aku terkejut. Aku pun menutup mataku. Aku mengira dia akan mencium ku. Tapi ternyata aku salah. Dia malah mengecup kening ku. Lalu memeluk tubuhku. Dia pun terbaring lemah menindihku. "Kenapa?" tanya nya menatap wajahku. Sepertinya dia merasa jika aku sedang menggeliat. "Kau sangat berat, aku tidak bisa bernafas!" jawabku dengan pelan. Aku masih malu padanya. "Baiklah, kita sudahi sampai disini saja!" ucapnya seraya beranjak dari tubuhku. Aku melihatnya meraih piyama mandi yang tergeletak diatas sofa lain nya. Kemudian memakainya dan berjalan kearah kamar mandi yang letak nya tidak jauh. Dari tempat kami bercinta. Air mataku kembali menetes. Aku tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak menangis. Karena rasanya sangat sakit. Sungguh-sungguh sakit luar dan dalam. "Maafkan aku Dewa, aku melakukan ini juga untukmu! Untuk kita! Hiks hiks!" Aku menangis sesegukan hingga sulit untuk bernafas. Aku menatap pintu kamar mandi yang berbayang. Memperlihatkan pria tampan itu sedang membersihkan diri di guyuran air shower. Flashback. Semua berawal sejak satu bulan yang lalu. Malam itu Ayah dan Bundaku bertengkar hebat di ruang santai keluarga kami. Saat itu aku dan kedua adikku sedang duduk menonton tv. Namun tiba-tiba saja. Mereka berdua masuk. Dan langsung bertengkar hebat. Membuat kedua adikku ketakutan. "HENTIKAN! APA KALIAN TIDAK MALU BERKELAHI DI DEPAN KAMI?" Aku berteriak memaki mereka berdua, kedua orang tuaku. "Beby, kau tidak perlu ikut campur! Ini urusan orang tua!" ucap Ayah menatap tajam diriku. Aku menghela nafas dengan kasar sambil menyibak helaian rambutku kebelakang. "Tentu saja ini urusanku! Karena kalian berdua telah membuat adik-adik ku ketakutan!" Mereka berdua terdiam. Menatap kami bertiga secara bergantian. "Maafkan Bunda yah sayang!" ucap bunda yang langsung memeluk kedua adikku. Sedangkan Ayahku langsung pergi begitu saja masuk kedalam ruang kerjanya. "Beby maafkan bunda yah! Bunda rasa, bunda sudah tidak sanggup menghadapi ayah kamu lagi! Dia menyalahkan bunda atas kebangkrutan perusahaan nya! Bunda harap kamu bisa mengerti dengan keputusan bunda untuk bercerai dengan ayah kamu!" ucap Bunda dengan menangis. Jujur saja aku tidak sanggup jika harus melihat Bunda meneteskan air mata. Tapi rasa gengsi yang menjunjung tinggi dalam diriku. Aku pun bergegas pergi meninggalkan nya. Aku masuk kedalam kamar. Merapikan semua baju-baju ku dan memasukkan nya kedalam koper. "Kamu mau kemana Beby? Jangan tinggalkan bunda dan adik-adik mu!" Bunda memegang tanganku. "Beby capek liat ayah sama bunda selalu bertengkar!" ucapku. "Tapi sayang tunggulah sebentar, bunda akan segera menceraikan ayahmu! Dan kita bisa hidup bahagia berempatdi Amsterdam tempat nenek kamu! Bunda, kamu, Kaisar, dan Nesya! Kita akan pergi jauh dari ayah!" ucap Bunda lagi. Seketika mataku membulat. Apa? Amsterdam? Tidak, itu tidak mungkin. Aku tidak bisa meninggalkan Dewa. Aku sangat mencintainya, aku yakin dia juga tidak akan bisa jauh dariku. "Beby tidak mau tinggal di Amsterdam, sebentar lagi Beby akan wisuda Bunda! Tidak mungkin kan Beby pergi begitu saja!" Aku menolak mentah-mentah ajakan Bunda. "Terus harus bagaimana sayang? Bunda sudah tidak punya uang untuk menghidupi kalian disini! Jika kita kembali ke Amsterdam dan tinggal bersama nenek kamu! Hidup kita akan terjamin sayang, Bunda harap kamu mengerti!" Bunda terus berusaha meyakinkanku. "Tidak Bunda, Maafkan Beby! Bunda dan adik-adik saja yang pergi ke Amsterdam! Beby akan tetao di Indonesia untuk melanjutkan kuliah Beby! Masalah uang Bunda gak perlu khawatir! Jika sudah tepat waktunya, Beby pasti akan menyusul bunda dan adik-adik disana!" Aku pun memeluk bunda dengan sangat erat. Air mataku menetes tapi langsung cepat-cepat aku usap. Aku tidak mau menampakan kesedihanku didepan bunda. "Beby pergi dulu yah Bunda!" Aku menyalimi dan mencium punggung tangan Bunda. "Hiks hiks! Beby kamu jaga diri baik-baik yah! Jangan lupa untuk mengabari bunda! Jangan sungkan untuk memberitahu Bunda tentang kesusahan mu!" Bunda mengelus lembut pipiku. "Beby sayang bunda, jadi Bunda jangan nangis terus yah!" Aku mengusap air mata yang membasahi wajah bunda. "Bunda juga sayang banget sama kamu Beby!" Aku pun segera keluar dari kamar. Sambil menarik koper berisi baju-baju ku. Aku melihat adik-adik ku yang menangis menatap kepergian ku. Aku melambai kearah mereka sebelum masuk kedalam taksi yang sudah aku pesan sedari tadi. Aku menatap rumah masa kecilku itu. Di sana adalah tempat aku tumbuh hingga menjadi seperti sekarang. Gadis cantik dengan rambut ikal berwarna coklat. Buku mata lentik, netra biru yang indah. Karena aku memiliki darah Turkey milik kakek dari bunda. Aku juga mempunyai bibir yang sedikit bervolume, hingga membuatnya terlihat seksi yah kurang lebih dari Kyle Jenner. Body ku juga lumayan lah tidak kurus dan tidak gemuk. Lebih ke montok gitu. "Tujuannya mau kemana mba?" tanya supir taksi, membuatku tersadar dari lamunan. "Ke alamat ini yah pak!" Aku memberikan secarik kertas bertuliskan alamat. Supir pun mulai menancap gas dengan kecepatan sedang menuju alamat yang aku berikan tadi.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Call Girl Contract

read
342.0K
bc

Sweet Sinner 21+

read
930.8K
bc

Dalam Kuasa Kegelapan/Play In Darkness (END)

read
58.9K
bc

HYPER!

read
644.6K
bc

I LOVE YOU HOT DADDY

read
1.1M
bc

Love Me or Not | INDONESIA

read
579.9K
bc

SEXRETARY

read
2.3M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook