Bagian 10

1600 Words
I’d like every moment I spent with you. – Abyan Cetta Orland.  Hari ini kelas 10-8 sedang mengikuti pelajaran bahasa inggris. Guru bahasa inggris, Bu Andin, sedang menjelaskan structure dan grammar perfect future tense dengan serius. Cara mengajar Bu Andin menyenangkan, tapi mereka tetap harus jaga ketenangan kelas. Bu Andin adalah tipe guru yang menilai secara obyektif. Jadi, tidak ada yang namanya murid kesayangan. Makanya, kalau sedang pelajaran bahasa inggris ini mereka harus benar-benar memperhatikan penjelasan yang telah diberikan karena di tengah pelajaran beliau akan memberikan sedikit kuis yang dilemparkan secara acak. “Abel,” panggil guru itu. “Selesaikan soal ini,” lanjutnya. Abel pun maju ke depan untuk membenarkan grammar pada kalimat di papan tulis itu. Bu Andin mengangguk, tanda jawaban yang diberikan Abel benar. “Delvin, Jay, Mika,” panggil guru itu. “Silakan maju ke depan.” “Kerjakan soal itu,” perintah Bu Andin. “Baik Bu,” ucap ketiganya. Ketika mereka sedang fokus mengerjakan soal yang diberikan, ponsel Dinda bergetar. Dengan berani, ia mengambil ponsel dari saku rok dan mengecek notifikasi masuk. ‘Masih keras kepala, Dinda Claretta Prameswari?’ – Hanna Zainisa. Dinda terkejut menerima pesan itu. Saking terkejutnya, ia tidak sengaja menjatuhkan tempat pensil dan membuat keributan di kelas. “WOI! APAAN TUH?!” teriak Jay kaget. “ANJIR! Bikin kaget aja!” teriak Beni tersadar dari rasa kantuknya. Pasalnya, tempat pensil Dinda terbuat dari bahan seperti besi dan alumunium sehingga menimbulkan suara yang cukup keras jika menghantam lantai. Guru itu menatapnya tidak suka, sedangkan Dinda malah terang-terangan menatap tajam Queen. “Dinda!” tegur Bu Andin. “Saya tidak suka dengan pembuat onar. Apalagi kalau pembuat onar itu berani bermain ponsel saat saya sedang mengajar.” “Silakan kamu keluar dari kelas saya!” titahnya. Anak-anak kelas 10-8 bergidik ngeri. Bu Andin tidak pernah marah dengan kelas mereka. Menurut isu-isu yang mereka dengar, kalau Bu Andin sudah marah, nilai bahasa inggris di rapot kalian akan terancam. “T-tapi Bu, saya–” Belum selesai Dinda berbicara, guru itu sudah menunjuk pintu kelas. Mau tidak mau, Dinda harus keluar kelas dengan perasaan malu. “Ingat ya semuanya, saya tidak suka diganggu saaat sedang mengajar!” pesan guru itu dan dibarengi koor anak-anak “Iya, Bu.” Keluarnya Dinda sejenak membuat Queen yang sejak tadi mengerjakan soal berpikir. Pasti ada hal yang tidak beres. Kenapa Dinda segugup itu? Apa mungkin ...? Dinda menghentakkan kakinya kesal. Guru itu sok superior sekali. Dia yakin kalau yang mengirim pesan tadi adalah Queen. Ia yakin hanya dia dan Queen yang mengenal Hanna Zainisa di sekolah ini. “Queen!” seru Dinda saat gadis itu hendak ke kantin. Tangan Queen ditarik paksa dan dibawa ke halaman belakang. “LO!” tunjuk Dinda. “Ngapain lo ngirim sms nggak penting kayak gini?!” tuduhnya sambil memperlihatkan isi sms itu. “Kenapa?” tanya Queen tenang. “Lo terusik?” lanjutnya. Dinda tersenyum sinis. “Gue?” tawanya. “Udah gue duga kalo lo yang ngirim sms ini,” putus Dinda. Queen terkekeh. “Lo yakin itu gue?” Queen mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan rentetan sms yang ia terima. “Kalo lo yakin itu gue, kenapa gue juga ngirim sms serupa ke nomor gue sendiri?” tantang Queen. “Bukannya itu nggak masuk akal?” tanya Queen memperjelas lagi. Setelah mengatakan hal itu Queen meninggalkan Dinda. Tidak jauh dari sana ada seorang gadis yang bersembunyi dan mendengarkan percakapan mereka. “Gue rasa mereka mulai kebingungan,” ucap gadis itu pada seseorang di balik sambungan telepon. “Nice job, Aurel.” *** “Queen! Ayo bareng gue ke rumahnya Agni,” kata Abyan setelah bel pulang sekolah berbunyi. “Gue bareng Mika sama Nada,” jawab Queen. “Mereka tadi udah pergi duluan, mau beli snack katanya,” kata Abyan. “Ya udah, bentar,” pinta Queen yang sedang mengemasi barangnya. Hari ini kelas 10-8 memutuskan untuk mengerjakan tugas bersama-sama karena tugas yang diberikan oleh para guru sungguh membuat mereka stress. Makanya, agar tugas tidak menumpuk dan stress sendiri, pengurus kelas 10-8 mengusulkan kalau diadakan mengerjakan tugas bersama di rumah Agni dan semua setuju. “Dikira kita ini robot kali ya,” protes Jay karena tugas tidak ada hentinya. “The Sims gue gimana, nih? Masa gue anggurin?” keluh Helda sambil merapikan buku-bukunya. “Anjing gue ga keurus!” racau Maya. “L kan emang anj– ” Ledekan Jaki terputus. “GUE GAMPAR YE LO, KI!” Maya menghentikan kata lanjutan yang akan diberikan Jaki. “EMAK, BAPAK, DITO CAPEK!!!” pekik Dito yang dibalas dengan tawa dari teman-temannya. “ISTIGFAR DIT! BAPAK LO NONTON DIT!! BAPAK LO NONTON!!” balas Abyan. Seisi kelas terbahak mendengar celetukkan Abyan yang mirip Keanu. “SEMANGAT GUYS!! KITA MAKHLUK KUAT!! 10-8 PASTI BISA!!” ujar Kika, si penagih uang kas, menggebu-gebu. “ASIAAAAAPPPP!” “MANTUL BUKK!” “BUNDAHARAKU!” rengek Dito. Seruan-seruan itu diikuti tawa teman-teman yang lain. Queen juga ikut tertawa karena celotehan mereka. Memang sih, tugas semester ini semakin banyak dan membuat penghuni kelas 10-8 merasa sedikit tertekan. Tawa Queen berhenti ketika ia sadar kalau Dinda sedang memperhatikannya. Entah mengapa perempuan itu selalu menatapnya tajam. “Ayo, Queen!” ucap Abyan setelah tawanya mereda. “Iya,” balas Queen. Mereka pun satu per satu meninggalkan kelas untuk menuju rumah Agni. Saat di perjalanan, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari laki-laki yang tadi pagi tidak menjemputnya. Ayo pulang. Gue tunggu di parkiran. – Adrian Sorry, gue ada tugas kelompok. Sent. Pulang jam brp? – Adrian Gue diantar Abyan. Sent. *** “Tuh, kan apa gue bilang. Mereka tuh emang lagi pada ngerjain tugas,” terang Aurel. Tadinya ia mau langsung pulang, tapi saat melihat Adrian di parkiran, ia mengurungkan niatnya. “Tapi emang, sih, belakangan ini Queen lagi deket sama Abyan,” lanjutnya memanas-manasi Adrian. Adrian bergeming, mencerna kalimat yang dikatakan Aurel. “Udahlah, A! Mending temenin gue nge-mall,” ajak Aurel sambil memainkan jari Adrian. “Jangan panggil gue A!” Adrian buka suara dan menarik tangannya. Ia risih dengan perlakuan perempuan itu. Memang ia akui Aurel cantik, tetapi ia tidak suka dipanggil seperti itu. Aurel mencibir. “Ya udah mending lo temenin gue nge-mall. Lo juga butuh refreshing,” bujuk Aurel lembut. Adrian pun menuruti apa kata Aurel. Ya, mungkin Aurel benar. Dirinya butuh sedikit jalan-jalan. Mereka berdua mendatangi sebuah mall yang jaraknya tidak jauh dari sekolah. Untungnya mereka memakai jaket. Sebenarnya bukan masalah kalau mereka mendatangi mall dengan menggunakan seragam SMA. Yang menjadi masalah adalah larangan penggunaan seragam identitas SMA Pegasus di keramaian atau tempat umum. Oleh karena itu, siswa-siswa SMA Pegasus selalu membawa jaket kalau ingin bepergian saat memakai seragam identitas. “Adrian, beli es krim, yuk.” Aurel menarik tangan Adrian ke kedai es krim. Lagi-lagi Adrian hanya menurut. “Lo kenapa, sih, diem mulu?” tanya Aurel. Aurel dan Adrian sudah dekat cukup lama, hanya sering bertukar sapa saat di sekolah dan beberapa kali larut dalam pembicaraan chat. “Nggakpapa. Jadi nonton?” Aurel mengangguk semangat dan tanpa malu Ia menggandeng Adrian. “Adrian mau nonton apa?” “Terserah, deh,” jawab Adrian pasrah. Untungnya, film yang ditayangkan musim ini banyak yang ber-genre action dan thriller. Adrian tidak begitu suka film romantis dan baper. “Itu aja, ya?” Aurel menunjuk sebuah poster film yang ber-genre action. Adrian mengangguk setuju, kemudian mereka membeli tiket dan popcorn. Di sepanjang film, Adrian fokus pada setiap adegan yang dilakukan sang aktor. Namun, lain halnya dengan Aurel. Ia malah asik memandangi laki-laki di sebelahnya itu. Ia juga malah modus pada Adrian. Dari memegang tangan, menggenggamnya, menjadikan bahu Adrian sebagai sandaran, dan bahkan berani mencium pipi Adrian. Adrian risih Aurel bersikap seperti itu–seperti tidak tau malu. “Aurel!” tegasnya ketika Aurel mencium pipinya. Setelah film selesai, Aurel langsung mengajak Adrian makan malam. “Adrian! Ayo makan,” ajaknya tanpa menunggu jawaban Adrian. Aurel bergelanyut manja pada lengan Adrian sejak keluar dari bioskop. Sesekali Adrian menyingkirkan kepala Aurel dari lengannya. Beberapa pengunjung bahkan memperhatikan mereka terang-terangan dengan pandangan tidak suka. “Adrian, mau pesen apa?” tanya Aurel ketika waitress mendatangi mereka. “Steak,” jawab Adrian. Sejak tadi, Adrian bergelut dengan pikirannya sendiri. “Minumnya?” tanya waitress. “Kami menyediakan ocean blue, ice coffee, vanilla milk tea, dan ice greentea.” “Ice coffee,” jawab Adrian. Waitress itu mencatat pesanan Adrian. “Saya samakan saja,” ucap Aurel saat waitress menatapnya. “Baik. Saya ulang pesananannya, ya. Dua steak dan dua ice coffee. Untuk tingkat kematangan steak-nya medium rare, medium, atau well done?” tanya pramusaji itu. “Medium,” jawab Aurel. “Baik. Mohon ditunggu.” Sang pramusaji meninggalkan meja mereka dan menyerahkan isi pesanan pada koki di dapur. Sambil menunggu pesanan datang, Adrian berkali-kali mengecek notifikasi. Siapa tahu ada pesan penting dari Queen. Nihil. Queen tidak mengiriminya pesan sama sekali. Mungkin benar yang dikatakan Aurel tadi, Queen sedang dekat dengan Abyan. “Adrian,” panggil Aurel. “Hello, Adrian.” Tangannya melambai menyadarkan Adrian. “Adrian!” panggilnya lagi. “Apa?” tanya Adrian datar. “Lo kenapa, sih? Nunggu kabar dari ‘ratu’?” tanya Aurel dengan nada sarkas. Kedua jari mengutip ketika mengatakan kata ratu. “Gue kasih tau, ya, sama lo. Queen nggak pernah ngertiin lo. Selama ini gue yang selalu ngertiin lo dan kasih perhatian lebih,” ungkap gadis itu. Ia menggenggam tangan Adrian, berusaha meyakinkan kalau hanya dirinyalah yang terbaik. Usahanya tidak sia-sia. Adrian tersenyum singkat dan sedikit mengeratkan genggaman tangan mereka. Gue berhasil!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD